Share   Bagai katak di ujung tanduk. Itu adalah keadaanku sekarang.  Berjuta pikiran melayang dalam angan tanpa bayang. Antara racun, obat,  caci maki, dan duri-duri tajam yang menyerang. Entah kapan ini akan  berakhir. Atau akankah memang bisa berakhir. Tapi mungkin saja akan  segera berakhir jika aku mengakhirinya sekarang. Haruskah ada strategi  utama dan paling berbahaya? Sungguh, hari panjang yang melelahkan. Aku  harus memutuskan satu hal yang akan merubah seluruh kehidupan. Hari ini  ulang tahunku ke-13. Tapi siapa peduli. Jangankan kado, ucapan selamat  saja tertutup rapat dari mulut orang-orang yang mengenalku. Bukan hal  aneh bila itu terjadi. Mana ada orang dengan ikhlas memberikan hadiah,  meski sebenarnya sangat kuharapakan, begitu saja melemparkannya ke  arahku. ”Anak cacat tak pantas mendapatkannya ”, bisa jadi mereka akan  mengatakan itu.
 Lagi-lagi suara menggelegar, ”To, mbok ya ngamen sana! Cari duit yang banyak! Jangan jadi anak males!”
 Seperti biasa sambil membawa sapu lidi, ibu menakutiku, mungkin juga  siap memukulku jika aku membantah. Bahkan, untuk menatapnya saja aku  malas. Malas karena bosan dengan segala ocehan yang menyurutkan setiap  langkahku.
”Iya Bu, tapi  aku lagi cape. Tadi kan habis potong kayu.”
”Eh… ga usah alesan.”

Kalau sudah begini aku, suasana rumah seperti kayu yang sedang  dibakar. Panas. Hingga penghuninya ingin keluar mencari angin. Tentu  saja angin segar.
”Bu, saya bener-bener cape.”
”Kamu tu ya, disuruh gitu aja ngga mau.”
”Bu, kapan Ibu ngerti keadaanku.”
”Dah ga usah jadi anak manja. Mau pergi ngga!” Ibu mengangkat sapu dengan tatapan penuh amarah.
Tak pantas aku menyebutnya Nenek Lampir. Bagaimanapun dia seorang  wanita yang telah rela mengadungku sembilan bulan, melahirkanku dengan  bertaruh nyawa, dan kini harus membesarkan anak cacat.
”Kenapa kalo Adi atau Tani yang sakit, Ibu pasti cemas. Ibu akan  pergi ke warung cari obat. Tapi kalo aku yang sakit, jangankan tanya  kenapa, malah ngomel-ngomel ngga dapet uang. Bukannya aku juga anak  Ibu.”
”Mau kamu tu apa ? Hidup kita itu lagi susah. Apalagi kamu kayak  gini. Emang apa kata orang nanti. Udah miskin, punya anak cacat lagi.”
” Jadi ibu nyesel punya anak sepertiku.”

”Mana ayahmu yang penggangguran itu. Dia ngga pernah datang.”
Aku menunduk sejenak. Apa yang dikatakan Ibu memang benar. Ayah tidak  peduli lagi denganku. Semua tampak asing. Mereka orang tuaku, tapi  nampak makhluk dari planet lain.
”Ya, aku ngerti semuanya sekarang. Aku pergi!”
Aku  berlalu meninggalkan Ibu yang masih mengangkat sapu. Ingin  sekali aku berlari sekencang kilat. Tapi apa dayaku. Aku hanya punya  satu kaki. Akibat kecelakaan itu. Ketika aku berlari karena dimarahi  ibu, aku tertabrak mobil. Kaki kiriku diamputasi. Kini, hanya tongkat  kecil sebagai teman membantuku berjalan. Melangkah, menapaki setiap  kehidupan.
Teriakan ibu membuatku berpikir lebih dalam tentang arti hidup. Aku  pernah melihat jurang sedalam tiga ratus meter. Begitu mengerikan, tapi  lebih mengerikan lagi di dalam rumah. Dengan gitar kecil pemberian  sahabatku, Eri, sebelum ia pergi melanjutkan sekolah di tanah  kelahirannya, Bukittinggi, Sumatra Barat, aku menjadi pengamen remaja  yang malang. Anak cacat yang tak pernah diurus orang tuanya.
” Oh….kapan teriakan itu terhenti. Akankah Ibu sadar bahwa aku butuh  kasih sayang bukan makian atau perintah setiap hari. Bukan aku benci  Ibu, hanya saja aku sadar Ibu tak suka padaku. Kecacatanku ini terlalu  membuat Ibu susah,” pikirku.
Aku menelusuri jalan-jalan. Menerobos keramaian kota Yogyakarta.  Dengan lagak pengamen, aku bernyanyi lagu tentang keceriaan seorang anak  bersama orang tuanya. Aneh, semua lagu bertemakan dunia bahagia.  Sedangkan keadaanku sebaliknya. Ini bukan pekerjaan. Tapi derita  keseharian. Lihat saja penampilanku. Baju kumal yang jarang dicuci.  Kalau pun sampai dicuci, tidak dengan air kran atau air sumur. Air  sungai keruh telah menjadi tempat laundry bagiku dan  teman-teman seperjuangan. Memang bajuku dicuci, tapi malah semakin kumal  akibat lumpur sungai yang melekat menutupi pori-pori kain. Lain lagi  dengan tubuhku. Badan kurus kering bagaikan anak kekurangan gizi. Tak  khayal, banyak julukan untukku akibat bentuk tubuh ini. Kadang  teman-teman memanggilku Cungkring, Garing, atau Krempeng. Aku menerima  saja. Kalau dibilang marah. Aku sungguh terhina dengan julukan itu. Akan  tetapi, jika dilihat dari keadaanku, memang  begitu keadaannya.
Temanku banyak mengamen di bus-bus yang lewat. Berbeda denganku. Aku  hanya keliling sehingga uang yang kudapat lebih sedikit. Bagaimana  mungkin aku akan naik bus. Berjalan saja sudah sulit apalagi pakai  tangga segala. Aku tahu pasti ada orang yang membantu. Tapi apakah kita  harus selamanya bergantung pada pertolongan orang lain. Padahal, kita  masih sanggup mengerjakannya sendiri. Sepreman-premannya orang pasti  mereka punya rasa kemanusiaan bagi sesama. Apalagi untuk anak sepertiku.
Tibalah aku di depan rumah mewah. Menyanyi semerdu mungkin agar orang  yang mendengarnya merasakan apa yang ingin kusampaikan. Meski  sebenarnya lagu itu hanya untuk menyemangati hidupku yang sedang galau.
Hidupmu indah bila kau tahu, jalan mana yang bena2ar harapan ada harapan ada bila kau percaya

Seorang pembantu rumah tangga yang sudah kukenal, keluar lewat  samping rumah. Ia memberiku dua keping lima ratusan dan sebungkus nasi.
”Terima kasih, Bi”
”Iya, Bibi tahu kamu belum makan. Cuma ada tempe sama sambal.”
”Ini sudah lebih dari cukup, Bi. Dari baunya saja, hemmm…….. pasti lezat. Ya udah Bi, saya pergi dulu.”
”Hati-hati. Jaga kesehatan. Kalau kamu lapar, bilang saja ke Bibi.”
”Ya Bi. Assalamu’alaikum.”
”Wa’alaikumusssalam.”
Aku jadi bahagia setelah bertemu Bi Minah. Bukan karena  aku dapat uang dan makanan, tapi aku bisa bertemu dengan orang yang  sangat menyayangiku. Bi Minah punya tiga anak di desa. Semuanya sudah  bekerja sebagai buruh pabrik. Saat teristimewa baginya adalah berkumpul  dengan semua anggota keluarga. Namun malangnya, ia harus berjuang  sendiri setelah suaminya meninggal akibat kecelakaan tujuh tahun yang  lalu ketika mengantarkan Bi Minah ke pasar. Peristiwa itu selamanya tak  bisa dilupakan. Sama halnya dengan kejadianku saat itu. Bedanya, Tuhan  masih memberiku kesempatan untuk tetap hidup.Walau kaki kiriku harus  diamputasi. Makanya, Bi Minah sangat sayang padaku.

Sambil makan, aku mengkhayal tentang dunia impian. Menjelajahi naluri  seorang manusia. Berimajinasi setinggi mungkin. Adakalanya, mimpiku  terlampau tinggi. Ini membuatku tersenyum sesaat. Lalu kembali ke dunia  nyata. Aku sadar bahwa itu bukan duniaku sekarang.
”Seandainya ibuku mengerti persaanku, pasti aku akan betah tinggal di  rumah. Sekolah, bukan ngamen. Cukup belajar dan belajar,” khayalku  mulai bergerak cepat.
Tiba-tiba, ”Wei, To, dari mana aja lu! Dapet duwit berape? Wah, makan siang nih!” kata Olen, membuyarkan semua lamunanku.
Khayalanku hilang seketika. Gertakan Olen membuat suasana sepi  menjadi ramai. Olen langsung saja menyantap makanan. Ia memang seperti  itu. Walau kelakuannya kadang kurang mengenakkan, tetapi hatinya sangat  mulia. Apalagi dengan temannya yang sedang tertimpa musibah. Jika ia  seorang prajurit, pasti ia sudah berada di barisan paling depan. Dia  berbeda nasib denganku. Hubungan dengan orang tuanya sangat dekat.  Sekarang Olen berumur 18 tahun. Ia duduk di kelas 2 SMA Nusa Bakti. Olen  mengamen hanya untuk bermain. Sedangkan bagiku, mengamen adalah mata  pencaharian.  Kalau sedang malas ngamen, aku jualan koran atau jadi  tukang bersih kaca mobil di jalan.
” Dari Bi Minah lagi. Besok minta dua ya? ” kata Olen.
”Ah lu, malu dong. Dikasih aja ngga enak, apalagi minta. Bi Minah kan juga susah kayak kita. Nih buat lu aja, gue dah kenyang.”
”Beneran ? Gue makan ya.”
”Yoi!”
Tanpa cuci tangan, Olen langsung menyantap semua makanan. Tak peduli  ada kotoran atau tidak yang menempel. Padahal, ia selalu bermain di  jalanan. Entah berapa kali ia sakit perut gara-gara ulahnya ini. Walau  mulutnya penuh dengan nasi, tetap saja ia menyempatkan diri untuk  ngobrol.

”Lu lom jawab pertanyaan gue. Dapet berapa jute gini hari?”
”Dikit, nih cuma lima ribu.”
Tangan Olen menyodorkan uang lima ribu untukku. Kebisaannya ini  paling kubenci. Aku tahu, aku memang sangat butuh uang, tapi tidak  mungkin aku tega mengambil hasil jerih payahnya seharian.
”Buat lu.”
”Apaan ni. Ngga usah.”
”Gue marah ni kalo lu ngga mau.”
”Len, lu lebih butuh ini buat sekolah.”
    ”Bokap gue ngga bakalan buat gue kelaperan.”
”Ah masa. Ko makannya lahap gitu. Jangan-jangan lu ngga dikasih makan ama ortu lu.”
”Sapa bilang? Gue emang lom makan tadi pagi. Tapi bukan karna gue  ngga dikasih makan. Gue tadi bangun kesiangan jadi ngga sempet sarapan.”
”Trus napa ngga langsung pulang? Malah ikut ngamen segala.”
”Buat ketemu elu-elu pade. Emang ngga kangen, kalo gue ngga ada.”
”Kangen ama nenek moyang lo!”
”Ni ambil !” Olen menyodorka uang lima ribu ke arahku.
”Lain kali aja Len , kalo gue butuh uang. Lu tabung aja dulu.”
”Ya udah deh. Gue ngga maksa. Tapi kalo lu butuh, ngomong gue aja ye.”
“Okelah. Wei, dah sore, gue cabut dulu ya.”
“Hati-hati.”
”Da…”Aku pun meninggalkan Olen yang masih makan. Sebenarnya  aku ingin menceritakan masalahku dengannnya. Namun, aku berusaha hidup  lebih dewasa dalam masalahku sendiri. Tak tahu kapan badai ini surut.  Aku hanya yakin, aku bisa hadapi semua.

Rumahku cukup mungil. Kami tinggal berlima. Ibu, dua adik, dan ayah  tiriku. Saat aku berumur 7 tahun. Ibu minta cerai dari ayah kandungku.  Alasannya karena Ayah sering mabuk dan main judi. Utangnya pun melimpah.  Akhirnya Ibu minta cerai. Setelah itu, jarang sekali Ayah  mengunjungiku. Tidak pernah tanya kabar. Apalagi saat kecelakaan, Ayah  seperti menghilang. Aku sempat menanyakan keberadaan Ayah pada beberapa  anggota keluarga. Namun, mereka tidak ada yang tahu  Benarkah Ayah tak  mau lagi melihatku. Apakah ia sangat menyesal dengan kondisiku yang  cacat. Mungkin aku memang memalukan.
Aku pulang dengan berjuta perasaan. Antara marah, lelah, dan lapar.  Semua membuatku tak nyaman masuk rumah. Apalagi kalau Ibu marah lagi.
” Mana uangnya ?” tanya Ibu saat aku baru tiba di depan pintu.
” Ini,” kataku sambil mengeluarkan uang dari saku.
”Segini!”
” Aku cape, Bu.”
”Bilang aja males. Ngga usah buat alesan.”
”Masa cuma lima ribu. Jatah makan  siang kamu terpaksa diundur jadi makan malem.”
Tanpa pikir panjang aku segera masuk kamar. Ruangan kecil ukuran 3  meter x 3 meter. Dulu kamarku ini adalah gudang. Setelah Adi dan Tani,  adik tiriku semakin besar, kamarku diberikan untuk mereka sehingga aku  harus membersihkan gudang sebelum menempatinya menjadi kamar. Atapnya  berlubanng dengan diameter dua sepuluh centimeter. Makanya, kalau hujan  aku harus siapkan ember. Lantainya beralaskan tikar bambu. Tanpa bantal  dan selimut. Hanya sarung robek yang setia melindungiku dari dingin  sekaligus kain untuk solat walaupun itu jarang kulakukan. Bukan karena  aku tidak mau mengerjakan perintah Tuhan. Aku sadar Tuhan pasti selalu  melihatku. Akan tetapi, aku tidak tahu bagaimana caranya solat apalagi  baca Al Quran yang benar. Orang tuaku belum pernah mengajari. Aku  belajar agama dari buku-buku bekas di pasar loakan, kertas-kertas yang  beterbangan di jalan atau tanya teman yang lebih pintar.

Pintu kututup rapat-rapat. Lalu tidur dengan mata terbuka dan perut  keroncongan. Aku mencoba mencari cara untuk lepas dari teriakan ibu.  Bagaimanapun juga aku adalah anaknya, bukan musuhnya. Ya, meskipun Ibu  telah mempunyai anak dari laki-laki lain yang telah menjadi ayah tiriku.  Ayah baruku ini sama dengan Ibu. Bahkan lebih ganas. Penderitaanku  bertambah karena Adi dan Tani sangat manja. Mereka selalu minta  barang-barang mewah. Hidup boros layaknya orang kaya yang serba ada.  Padahal, ayah tiriku hanya supir angkot. Aku pernah minta uang padanya.  Dan itu untuk pertama sekaligus terakhir. Karena ia marah-marah.  Katanya, aku hanya bisa menyusahkan orang saja. Perkataannya itu membuat  ceriaku luluh lantak. Hentakan hebat berhasil merobohkan tiang-tiang  ketegaranku. Sejak saat itu, aku tak lagi minta uang. Aku berusaha  mencari pekerjaan. Tapi untuk seorang anak cacat sepertiku, adakah  pekerjaan yang bisa kulakukan layaknya orang normal? Hanya mengamen yang  ada dalam otak. Meski hasilnya tidak seberapa, aku masih punya banyak  teman yang bisa membantu. Betapa tersiksa dengan keadaanku sekarang.  Hidup satu rumah bersama monster-monster yang setiap saat bisa  mematahkan sel-sel tubuh tawamu.
Jam dinding menunnjukkan pukul 9 malam
”Prakk..!” Ibu membuka pintu kamar dengan keras.
” Ni jatahmu! Habis makan cuci semua alat dapur yang masih kotor.”

Lo kok aku lagi.”
”Kamu mau  dipukul, ha !”
”Iya Bu.” Tiga detik. Aku menyesal mengatakan itu.
”Ingat harus bersih. Jangan sampe sabun berceceran kayak kemaren.”
Aku cemberut. Marah. Kesalnya bukan main.

”Mau dipukul lagi!”
”Ya. Pukul aja. Aku dah kebal dengan pukulan itu. Ngga mempan!”
”Dasar anak kurang ajar! Pokoknya kalo nanti belum bersih semua, kamu tahu akibatnya,” ancam Ibu.
Keadaan ini membuat hidupku seakan tak berharga. Ibu pergi  meninggalkan aku yang masih pusing. Tak ada senyum.Yang ada hanya wajah  penuh geram. Aku duduk di pojok kamar. Nasi itu tak sempat kusentuh.  Pikiranku menjurus satu cara.
”Aku harus pergi sekarang. Ngga mungkin aku hidup seperti ini selamanya. Jalanku masih panjang.”
Kuputuskan untuk pergi. Semua baju aku masukan dalam sarung, lalu  kuikat keempat sudutnya. Aku melihat situasi. Suasana sepi. Kamarku  memang terletak paling belakang. Itulah kenapa walaupun aku berteriak  belum tentu mereka dengar. Orang-orang sedang nonton TV. Aku keluar  lewat jendela dapur. Bebaslah jiwa dari penjara kegelapan. Dunia  tersenyum bangga padaku.
”Selamat datang kebebasan. Benar apa kata Soekarno bahwa cintailah  perdamaian tapi lebih cintailah kemerdekaan. Aku tahu ini pilihan hidup  yang sangat sulit. Namun, aku rasa masih banyak orang-orang yang lebih  suram hidupnya daripada aku.”
<p>Jam dinding selalu kubawa kalau pergi jauh. Walau anak jalanan tapi  aku kenal waktu. Setiap detik hidup harus bernilai bagiku. Hidup hanya  sekali. Tak peduli apa kata orang tentangku. Aku harus tetap  melangkahkan kaki. Mungkin saat ini aku gagal dalam mencari kebahagiaan.  Namun, tidak untuk besok karena aku  yakin bahagia akan datang  menghampiri. Aku akan memenangkan pertempuran ini.
Hari mulai cerah. Secerah senyum yang kupaparkan pada dunia. Tidur di  pinggir jalanan ternyata tidak enak. Selain banyak nyamuk.Udara dingin  membuatku sakit kepala. Setelah mencuci muka di sungai, aku melanjutkan  perjalanan. Sampai di sebuah masjid aku disambut seorang kakek  berjenggot putih. Walau sudah tua, senyumnya seperti masih muda. Ia  heran melihat kedatanganku, dan bertanya;
"dari mana nak , dan mau kemana?"
”Saya dari sana,” tanganku menunjuk arahku datang.
”Sekarang masih jam 3 pagi, di mana rumahmu? Sepertinya kamu bukan anak sini,” Kakek melirik jam dinding yang kubawa.
”Saya….saya dari sana,” tanganku kembali menunjuk arah yang sama.
”Dari sana? Sananya mana ?”
”Anu, saya….saya sendiri Kek.”
Akhirnya kami duduk di mimbar masjid. Serangkaian kisahku terukir.  Kakek itu terlihat sangat antusias mendengarkan ceritaku. Beberapa kali  ia bertanya. Aneh, meski baru kenal kami sudah sangat akrab. Ia jelmaan  orang yang selama ini aku tunggu. Orang yang bersedia mendengarkan keluh  kesah hidupku. Tak pernah kutemui orang seperti kakek ini. Begitu bijak  ia memberi nasehat.
”Siapa namamu?”
”Saya Toto Iskandar.”

”Lalu apa yang akan kau lakukan sekarang ?” tanya Kakek.
”Aku tidak mau menjadi air yang mengalir. Aku ingin menjadi arus.  Hidup dengan kemauan sendiri. Tanpa paksaan. Tanpa teriakan orang-orang  yang menyuruhku ini itu. Bolehkah aku bertanya Kek, apa arti hidup itu?”
”Hidup. Hidup adalah tentang bagaimana kita menghargai pemberian  orang lain, mencintai apa yang menjadi milik kita, proses bagaimana kita  menyelesaikan tugas di dunia, mencari bekal untuk nanti di akhirat,  menerbangkan imajinasi kita untuk terus berkarya, dan masih banyak arti  hidup yang lain. Semua itu akan kau temukan ketika kau menjalani  kehidupan. Jangan biarkan dirimu dipermainkan oleh hidup, tapi kau harus  bisa merasakan hidup.”
”Lalu apa itu bahagia ?”
”Kakek rasa, kau pernah merasakannya. Bahagia. Sulit dijelaskan.  Bahagia akan datang karena kau merasa bahwa sekaya-kayanya,  semiskin-miskinnya, sesukses-suksesnya, sehancur-hancurnya,  sebodoh-bodohnya, sehebat-hebatnya orang itu, mereka MEMERLUKANMU.”
Aku mencoba menyerap ucapannya. Meski bingung, aku mulai mengerti.
” Terima kasih atas jawaban Kakek.”
”Lebih baik kamu pulang dulu dan selesaikan masalahmu dengan Ibu. Atau perlu Kakek bantu.”
”Tidak usah Kek. Mungkin saya bisa sendiri.”

”Kamu yakin ?”
Aku mengangguk. Anggukanku itu penuh tanda tanya. Apakah aku bisa hadapi semua sendiri atau tidak
”Kalo begitu, ayo solat sama Kakek!”
”Saya belum hafal doanya, Kek. Lagi pula saya tidak tahu bagaimana caranya solat yang benar. ”
”Solat tahajud namanya. Tidak apa-apa, kamu sering-sering saja ke  sini. Nanti Kakek ajarin. Kamu boleh menggunakan bahasa apa pun yang  kamu bisa. Tuhan Maha Mendengar.”
Sebelum masuk masjid aku berkata, ”Kakek, aku punya dua permintaan.”
”Apa itu?” langkah Kakek terhenti.

”Bolehkah aku memeluk Kakek? Aku tidak punya Kakek selama ini.”
”Tentu, kau juga akan punya banyak Kakek suatu hari nanti.”
Aku segera memeluknya. Merasakan kedamaian yang selama ini belum aku temukan. Kasih sayang.
Inikah bahagia itu Tuhan? Aku berhasil menemukannya. Aku telah menang
Kupeluk kakek itu sangat erat. Tak ingin aku melepaskannya. Hingga tangisku pun meledak.
”Lalu apa permintaanmu yang kedua ?” tanya Kakek sambil membalas pelukanku.
”Bolehkah aku tinggal sehari saja di rumah Kakek.”
Aku melepaskan pelukannya untuk menatap mata yang sudah keriput.

”Iya, kamu boleh tinggal bersama Kakek kapanpun yang kamu mau.”
Banjir bandang meluap. Membasahi pipi. Kupeluk lagi tubuh yang sudah  renta itu dengan sangat erat. Erat sekali. Kemudian Kakek mengusap  rambutku. Seandainya tadi aku keramas pakai sampo, pasti aku takkan malu  karena rambutku yang berminyak dan bau ini. Tangan yang selalu  kurindukan. Kedamaian terus mengalir dalam kalbu. Laksana tanah gersang  yang tersiram air hujan. Termasuk amarahku pada Ibu. Tak ingin aku  berpisah darinya. Ternyata Tuhan masih menyayangiku meski aku semakin  jauh dari-Nya.
Kami pun masuk masjid. Mengambil air wudhu dan solat bersama. Kakek  mengajariku banyak hal. Ilmu yang selama ini belum pernah aku dapatkan,  dalam waktu singkat telah berada di dekatku. Aku sangat bersyukur. Ini  adalah keajaiban Tuhan untukku. Aku memang cacat. Namun, di balik  kekuranganku, ada banyak kebahagiaan yang jauh lebih berharga. Mengapa  selama ini aku selalu mengeluh? Betapa bodohnya aku. Ini bukan Toto  Iskandar. Aku harus berubah. Aku masih punya kaki satu untuk berjalan,  mata untuk melihat, telinga untuk mendengar, dan kedua tangan ini masih  bisa kugerakkan.
<p>Selama dua hari di rumah Kakek, aku sangat senang. Aku pun tahu kalau  nama kakek itu adalah Kakek Soleh. Kakek pernah bercerita bahwa sebelum  istrinya meninggal, ia berpesan jika suatu hari Kakek bertemu dengan  orang yang sedang susah, ia harus sebisa mungkin membantunya. Karena  ingat pesan itulah, Kakek berusaha membantuku. Kakek punya dua anak  perempuan. Karena sudah menikah, mereka hidup bersama keluarga sang  suami. Kakek juga pernah diajak untuk ikut, tapi ia tidak mau sebab  baginya rumah ini adalah tempat terindah. Banyak kenangan manis yang  harus ia jaga. Sebisa mungkin aku berusaha membantu Kakek. Pergi ke  ladang. Mencabuti rumput dan menanam palawija. Hasil panennya sebagian  dijual untuk membiayai hidup. Kakek juga sering membuat makanan kecil  seperti singkong rebus dan lalaban untuk dibawa ke masjid. Biasanya saat  kajian rutin. Aku belajar bagaimana ia menjalani hidup.
<p>Lima hari yang indah itu akan menjadi pengalamanku paling berharga.  Setelah berpamitan dengan kakek, aku memutuskan untuk pulang. Kembali ke  rumah yang dulu kuanggap neraka. Entah kekuatan apa yang mendorongku ke  sana. Tiba di gang menuju rumah, aku tampak ragu. Aku ingat bagaimana  Ibu menungguku di pintu sambil berdiri dan bersiap memarahi. Kutarik  nafas dalam-dalam. Lalu kukeluarkan perlahan. Tekad bulat masih tetap  kokoh. Langkahku maju. Ingin aku membuka pintu yang telah lama  kutinggalkan. Pintu yang sering Ibu pukul-pukul saat marah. Dengan  perasaan was-was aku menapaki setiap turbin halaman rumah. Suasana sepi.  Tiba-tiba ada tiga orang tetangga keluar dari dalam. Terlihat juga Adi  dan Tani yang sedang merapikan baju yang keluar dari tas yang dibawa  mereka. Aku langsung mendekati mereka menanyakan apa yang sebenarnya  terjadi.
”Eh, ada apa, Di?”
”Elu To. Masih inget rumah ini juga.”
”Ibu jatuh dari tangga. Dan sekarang ada di rumah sakit.”
”Apa ! Ibu…….. Aku ikut kalian.”

”Terserahlah, ikut juga boleh asal ngga nyusahin aja,” jawab Tani.
Aku tahu mereka tak menyukaiku sejak dulu. Hal itu wajar karena  memang aku bukan kakak kandung mereka. Meski begitu, sebagai kakak aku  tetap mecoba bersabar. Menunggu saat mereka mau memanggilku ” Kakak”.
Sampai di rumah sakit kulihat Ibu yang terbaring lemah. Wajahnya  pucat. Matanya tertutup rapat. Ayah, Adi, Tani, dan beberapa tetangga  menatapku. Arah pandangan penuh keheranan dan kebencian. Namun, aku tak  peduli dengan reaksi itu. Yang kupedulikan hanya keadaan Ibu sekarang.
”Ibu, maaf. Memang anak durhaka sepertiku ini, tidak pantas untukmu. Tapi asal Ibu tahu, aku sangat menyayangi Ibu.”
Senyumku melebar. Ternyata Ibu membuka mata. Ada suara kecil. Kudekati.
Aku mendengar ia bercerita, ”To, kamu harus tahu, kalau…..kalau  sebenarnya, kamu bukan anak kandung Ibu. Dulu ayahmu pernah menikah  dengan wanita lain. Lalu ibumu pergi meninggalkan kalian karena ayahmu  bangkrut. Saat itu, kamu baru berumur enam bulan. Dan akhirnya…..ayahmu  menikah lagi dengan Ibu.
”Apa. Apa ini. Lelucon seperti apa yang baru aku dengar barusan.”
Kalimat ibu terhenti karena oleh iask tangis. Aku pun larut dalam nuansa yang sama. Ibu juga tampak menahan rasa sakit.
”Betulkah cerita ini?” Hatiku mulai bimbang.
”Ibu juga sayang kamu. Maafkan kesalahan Ibu ya,” Ibu melanjutkan ucapannya
”Ibu, kau tetap Ibuku.”
Menangis. Menangis lagi. Kenapa Ibu terlalu banyak menangis. Air matanya semakin deras. Lalu segera kupeluk Ibu.
Jantungku terasa berhenti berdetak. Petir yang menyambar membuatku  sejenak tak sadar bahwa aku masih hidup. Apa yang terjadi? Aku tak paham  satupun. Atau aku sudah sangat paham. Sekarang aku tahu mengapa Ibu  lebih sayang Adi dan Tani yang merupakan anak kandungnya sendiri.

Tiba-tiba Ibu berteriak kesakitan. Orang-orang di sekitarku panik.  Tak tahan dengan keadaan ini, aku keluar menuju ruangan dokter dengan  susah payah karena kakiku yang cacat.
”Dokter! Tolong ibuku!” teriakku sambil berlari kencang.
Walau hanya dengan sebuah tongkat, tapi benda ini sangat membantuku  berlari semakin kencang. Beberapa kali aku jatuh, tetapi kembali  berdiri. Seluruh orang di rumah sakit ikut panik. Aku langsung menarik  tangan seorang dokter yang baru kulihat.
”Ada apa ini. Tunggu dulu!”
”Cepat Dok!”
Tanpa peduli permintaanya aku tarik kuat-kuat tangan itu.
”Tolong Ibu, kumohon,” kataku sambil terus berlari menuju kamar ibu terbaring.
Betapa kagetnya aku. Tubuh Ibu telah tertutup kain putih. Semua orang di sekitarnya menangis.
”Tuhan, kenapa Kau ambil ibuku sekarang.”

Dunia tampak gelap. Aku pun jatuh dan tak tahu apa yang terajadi selanjutnya
Pemakaman berlangsung lambat. Selambat langkahku meninggalkan makam  yang masih merah itu. Tak ada keceriaan lagi. Aku kehilangan semua.  Lemas. Terlalu sakit untuk menyadari bahwa Ibu telah menghilang. Dia  pergi ke dunia asing. Tapi, suatu hari nanti aku juga akan ke sana.  Dunia abadi yang sebenarnya. Akhirnya aku kembali ke rumah Kakek.  Tinggal bersama orang yang menyayangiku. Mencari ilmu setinggi-tingginya  tentang arti hidup.
Label: | edit post
0 Responses
Album @94 SMA PAPA
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...