Tampilkan postingan dengan label BACAAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BACAAN. Tampilkan semua postingan
Share


Aku memandang wajah tua itu. Masih seperti dulu, bersemangat, ceria dan yang terpenting di setiap tuturnya adalah doa-doa untukku.  Dia menceritakan bagaimana kehidupannya sekarang yang tak jauh berbeda.  Kerja kerasnya selama ini, meniti karir sebagai pembantu rumah tangga seolah tak ada hasil.  Perempuan itu telah semakin tua, sehingga tak sanggup lagi bekerja rumah tangga.  Yang dia lakukan kini adalah memulung sehingga dia bermukim di komunitas pemulung di bilangan Bintaro. 
“Saya tidak punya tempat mengadu lagi di sana,” ujarnya lirih seraya menyodorkan lembaran kertas yang berisi tagihan atas tunggakan biaya sekolah anaknya.  Aku menatapnya sejenak, seolah tak percaya dengan ucapan yang keluar dari mulut tuanya.  “Semenjak Ibu pindah rumah, hidup saya pun luntang-lantung, tidak ada yang peduli.”  Kalimatnya meluncur bergetar.  Ada kesedihan yang berusaha dikendalikannya.  Tapi akhirnya, Ibu itupun tidak tahan untuk tidak menangis.

“Tolong saya Bu, Iwan harus melanjutkan sekolah,” pintanya di sela-sela isak tangisnya.

Iwan adalah anaknya.  Bahkan saya tidak mengenal nama Ibu tua itu, hanya mengenalnya dengan sebutan Ibu Iwan.  Empat tahun silam, saya berdomisili di Kampung Utan – Ciputat, berdekatan dengan kehidupan Iwan dan keluarganya.  Saat itu, Iwan adalah anak asuh saya.  Apapun masalah sekolahnya, atas izin Allah dapat kami atasi.  Tapi sama sekali aku tidak menduga bahwa setelah aku pindah ke Bekasi, Iwan tidak menemukan orang tua asuh yang lain.

Aku menarik nafas.  Memandang wajah tua itu yang terlihat lelah.  Tidak sedikit jarak yang ditempuhnya untuk menjumpaiku.  Dari Bintaro (provinsi Banten) ke Bekasi (provinsi Jawa Barat) melalui DKI Jakarta, luar biasa!  Demi memperjuangkan pendidikan anaknya.

“Untuk ongkos ke sini, saya meminjam uang ke tetangga, Bu.  Saya rindu sama Ibu, saya harus menyelamatkan sekolah Iwan.”  Suaranya sendu.

Aku tidak dapat berkomentar apapun.  Bila yang berada di hadapanku adalah seorang yang berpendidikan, tentu aku akan melarangnya jauh-jauh mengunjungiku .  Cukup dengan telepon, masalah bisa selesai.  Biaya yang dikeluarkannya untuk ke rumahku, sama dengan penghasilannya satu minggu. Agghh!!

Seperti biasa, aku lalu menenangkannya.  “InsyaAllah, selalu ada rejeki.  Ibu jangan khawatir, saya akan menghubungi pimpinan sekolah Iwan dan akan membantu meringankan beban ini”.

“Terimakasih Bu, terimakasih.” Mata tua itu banjir air mata.  “Allah yang membalas ya Bu, Allah yang membalas.” Lirihnya berkali-kali.  Aku hanya menatapnya haru.  Beberapa saat, aku biarkan dia terisak meluapkan perasaannya.

Peristiwa ini terjadi tahun 2010.  Akupun sudah tidak ingat kapan persisnya.  Namun suatu keajaiban besar terjadi dalam hidupku.  Di pertengahan 2011, atas izin Allah aku mendapatkan Beasiswa Unggulan dari Kemendiknas untuk melanjutkan pendidikan Strata II di Universitas Negeri Jakarta.  Jumlah beasiswa itupun jauh melebihi apa yang pernah aku beri selama ini untuk anak-anak asuhku.  Aku berpikir, ini sungguh menakjubkan, karena statusku bukanlah wanita karir yang sarat prestasi.

Ada seuntai doa yang senantiasa terngiang – ngiang di telingaku.  Doa Ibu Iwan, “Allah yang membalas ya Bu, Allah yang membalas.”

Agghhh. Bu Iwan, tahukah kamu, sekarang Allah telah mengabulkan salah satu doa’mu.  Dia telah memberi balasan istimewa untukku.  Sungguh disisi Allah, sedikit kebaikanpun tidak pernah sia-sia.
Label: 1 komentar | | edit post
Share



Luar biasa, belum keluar hasil SNMPTN 2008, tapi 63 dari 170 orang tamatan SMAN 1 Padangpanjang tahun ajaran 2007/2008 sudah diterima pada 7 PTN favorit di tanah air lewat jalur Ujian Masuk bersama (UMB), Penelusuran Minat dan Kemampuan (PMDK) dan ujian masuk lainnya. Di antaranya 37 orang di Universitas Indonesia (UI) Jakarta, 10 di Universitas Gajah Mada (UGM) Yogya, 16 lagi di 5 PTN paforit lain.
Inilah prestasi tamatan SMAN 1 Padangpanjang yang kian fantastis. Sebab pada tahun 2007, dari 93 persen di antara 170 orang tamatan SMAN 1 Padangpanjang yang diterima di sejumlah PTN (Perguruan Tinggi Negeri) di tanah air, baru 16 orang yang diterima di UI. Itu pun sudah termasuk hasil SNMPTN (Waktu itu namanya SPMB: Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru). Sebelumnya pada 2006 di bawah itu lagi.
Keterangan Kepala SMAN 1 Padangpanjang, Ridwan melalui Wakepsek Bidang Kurikulum, Yeni dan Wakepsep Bidang Humas Muchlis Agus beberapa hari lalu, ke-63 orang alumni SMAN 1 Padangpanjang tahun 2008 itu terbanyak diterima lewat jalur UMB 2008, berikut PMDK dan ujian masuk (UM) lainya.
Rincian kasar penerimaan 63 alumni 2008 SMAN 1 Padangpanjang itu menurut Yenni dan Muchlis Agus, 37 di UI (terbagi 32 diterima lewat UMB, 5 lewat PMDK). Berikut 10 orang di UGM (lewat ujian masuk-UGM), 5 di Unand (4 UMB, 1 PMDK), 5 di Universitas Negeri Jakarta (lewat UMB), 3 di Universitas Sumatera Utara (lewat PMDK), 1 orang lagi di BSM (Bakrie School Manajemen) lewat UM-BSM (rincian detail lihat berita/box terkait).
Tapi itu baru hasil permulaan dari uji kemampuan akademi alumni 2008 SMAN 1 Padangpanjang yang berjumlah 170 orang itu. Sebab ada seleksi yang jauh lebih besar diikuti oleh alumni 2008 SMAN 1 Padangpanjang yakni SNMPTN 2008, yang baru akan diumumkan Agustus 2008. Karena itu kemungkinan jumlah alumni 2008 SMAN Padangpanjang akan lulus masuk UI pada 2008 berpeluang lebih besar dari 37 yang sudah ada itu.
Pada 2007 dari sekitar 170 tamatan SMAN 1 Padangpanjang (waktu itu juga lulus UN 100 persen), sekitar 93 persen berhasil diterima di sejumlah PTN terkemuka di tanah air, di antaranya banyak di UGM Yogya, Unpad Bandung, ITB Bandung, UI Jakarta, Unand Padang, UNP Padang, IPB Bogor, USU Medan, dan lainnya.
Hasil UN 2007/2008
Dibalik kian melejitnya prestasi SMAN 1 Padangpanjang, hasil ujian nasional (UN) 2008 dari 170 orang peserta lulus 100 persen. Itu terdiri lokal unggul Sumbar 2 lokal, lokal unggul Padangpanjang 2 lokal dan lokal reguler 2 lokal. Sedang nilai rata-rata UN 2008 bidang IPA sebanyak 104 orang, Bahasa Indonesia 8,96, Bahasa Inggris 7,95, Matematika 8,56, Fisika 6,75, Kimia 8,40, Biologi 8,00.
Sedang yang dapat nilai 10 untuk Matematik 4 orang, Kimia 2 orang, Biologi 1 orang. Di bidang peserta UN IPS sebanyak 66 orang, nilai rata-rata 8,73, Bahasa Inggris 7,85, Matematik 8,79, Ekonomi 8,34, Sosiologi 8,62, Biografi 6,41.
Contoh prestasi lain, Sumbar pernah meloloskan wakilnya ke Olimpiade Sains Internasional (OSI) bidang biologi yakni 2004 di Sidney dan 2005 di China dengan hasil medali perak, itu tercipta lewat siswa SMAN 1 Padangpanjang, yakni Ihsan Tria Pramanda. Dan tahun 2007, Sumbar mengirim 17 orang utusan ke OSN, sebagian besarnya adalah murid SMAN 1 Padangpanjang.
Di balik terus melejitnya prestasi SMAN 1 Padangpanjang, salah satu yang mengesankan belakangan, selain karena ratusan muridnya hafal Alquran 1 sampai 20 juz, puasa sunat kian jadi tradisi di banyak murid, juga karena istilah mencontek sudah jadi benda haram dan sesuatu yang memalukan.
Menurut Kepala SMAN 1 Padangpanjang, Ridwan Idhma, mencontek sudah dianggap sebagai memalukan oleh siswanya. Ini hasil dari penerapan aturan tentang larangan mencontek. Sekolah bersikap tegas atas tindakan mencontek, mengingat dampaknya sangat buruk, baik terhadap moral, juga prestasi riil akademiknya.
Label: 0 komentar | | edit post
Share
Riwayat Gempa Di Sumatera Barat. Gempa besar berkekuatan 7,6 SR di Sumatera Barat bukan kali ini saja terjadi. Namun, wilayah yang berada di zona gempa ini sudah belasan kali dilanda gempa bumi dalam dua abad ini.
Bahkan, menurut Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana, Departemen Energi, sejumlah gempa besar dengan dampak kerusakan yang luas juga pernah terjadi sebelumnya di wilayah ini.
Misalnya saja, gempa yang mengguncang Padang Panjang pada 83 tahun silam. Akibat gempa ini, lebih dari 354 orang meninggal dunia dan ribuan rumah roboh. Gempa menimbulkan bencana di sekitar Danau Singkarak, Bukit Tinggi, Danau Maninjau, Padang Panjang, Kabupaten Solok, Sawah Lunto, dan Alahan Panjang. Gempa susulan mengakibatkan kerusakan pada sebagian Danau Singkarak.
Gempa besar juga pernah terjadi pada 14 tahun lalu di Kerinci (Sungai Penuh) dengan skala 7 SR. Akibatnya, 84 orang tewas, 558 orang luka berat dan 1.310 orang luka ringan, serta 7 ribu rumah rusak.
Berikut ini sejarah gempa yang dihimpun oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana.
1.  01 Oktober 1822
Lokasi gempa di Sumatera Barat. Di Padang terasa 3 kali goncangan keras, terdengar suara gemuruh di bawah tanah antara Gunung Talang dan Gunung Merapi.

2.  26 Agustus 1835
Lokasi gempa berada di Padang. Dampaknya berupa kerusakan ringan dan retakan pada bangunan di Padang.
3.  05 Juli 1904
Lokasi gempa di Siri Sori, Sumatera Barat. Akibat gempa ini terjadi tsunami di Pantai Siri Sori.
4.  28 Juni 1926
Lokasi gempa berpusat di Padang Panjang. Dampaknya, lebih dari 354 orang meninggal dunia. Gempa menimbulkan bencana di sekitar Danau Singkarak, Bukit Tinggi, Danau Maninjau, Padang Panjang, Kabupaten Solok, Sawah Lunto, dan Alahan Panjang. Gempa susulan mengakibatkan kerusakan pada sebagian Danau Singkarak. Di Kab. Agam (Bukit Tinggi-Bonjol) 472 rumah roboh di 25 lokasi, 57 orang tewas, 16 orang luka berat. Di Padang Panjang sebanyak 2.383 rumah roboh, 247 orang tewas. Terjadi rekahan tanah di Padang Panjang, Kubu Krambil dan Simabur.
5.  09 Juni 1943
Lokasi gempa di Singkarak dengan skala 7,6 SR. Terjadi pensesaran sepanjang 60 km antara Danau Singkarak – Danau Diatas. Sesar normal mencapai 2 meter. Jalan bergeser dekat Salayo sepanjang 2 –3 meter.
6.  08 Maret 1977
Lokasi gempa di Pasaman. Dampaknya, menimbulkan kerusakan 737 rumah, 1 pasar, 7 sekolah, 8 mesjid dan 3 kantor di Sinurat. Di Talu, 245 rumah, 3 rumah dan 8 mesjid rusak. Retakan tanah antara 5 – 75 meter.
7.  13 November 1981
Lokasi gempa di Padang dengan skala 5,4 SR. Akibatnya, timbul retakan dinding, lemari bergeser dan kaca jendela pecah di Padang dan Painan.
8.  02 Juli  1991
Lokasi gempa di Padang dengan skala 6,1 SR. Terjadi kerusakan ringan bangunan di Padang. Getaran terasa di Padang Panjang hingga Singapura.
9.  07 Oktober 1995
Lokasi gempa di Kerinci (Sungai Penuh) dengan skala 7 SR. Dampaknya, 84 orang tewas, 558 orang luka berat dan 1.310 orang luka ringan. 7.137 rumah, transportasi, irigasi, tempat ibadah, pasar dan pertokoan rusak. Liquefaction di desa Penawar, Kec. Sitinjau Laut. Retakan tanah di desa Sebukar, Koto Iman, Tanjung Tanah dan Kayu Aro. Longsoran di Kampung Benik selatan Danau kerinci.
10.  25 Januari 2003
Lokasi gempa di Nagari Malalak. Akibatnya, kerusakan ringan sejumlah ± 80 bangunan di Lubuk Durian, Damar, Simik Air, Jorong Paladangan Kanagarian Malalak, Kec. IV Koto, Kab. Agam, berupa: lepasnya plesteran dinding, retakan dinding dan kolom. Gempa ini bersifat lokal. Getaran terasa di Kota Padang Panjang dan Malalak.
11.  16 Februari 2004
Lokasi gempa di Tanah Datar dengan skala 5,6 SR. Akibat gempa ini, 6 orang meninggal, 10 orang luka-luka, 70 rumah rusak, listrik mati sekitar 30 menit di Kab. Tanah Datar. Kerusakan melanda desa Pitalak, Gunung Rajo, Nagari Pitala, Paninggahan, Kec. Batipuh, Kab. Tanah Datar. Terjadi longsoran di Gunung Rajo, Paninjauan. Terjadi retakan jalan antara Gunung Rajo – Padang. Getaran gempa terasa kuat di Padang, Pariaman, Padang Panjang, Bukittinggi, Solok, Sawah Lunto, Sijunjung, Agam, dan Batusangkar.
12.  22 Februari  2004
Lokasi gempa di Pesisir Selatan dengan skala 6 SR. Akibatnya, 1 orang meninggal, 1 orang luka berat, 5 orang luka ringan, 151 bangunan dan rumah rusak di Kab. Pesisir Selatan. Getaran terasa kuat di kota Padang hingga Painan. Wilayah yang mengalami kerusakan: Kampung Gunung Pauh, Kampung Taratak Paneh, Kenagarian Amping Parak, Kec. Sutra; Nagari Surantih, Nagari Tuik, Kec. Batang Kapas; Kampung Kapeh Panji, Kec. Bayang; Kampung Ampang Pulai, Kec. Koto XI Tarusan, Kec. IV Jurai, Kec. Lengayang, Kec. Ranah Pesisir dan Kec. Linggo Sari Baganti.

13. 0 9 April 2004
Lokasi gempa di Pesisir Selatan dengan skala 5,5 SR. Beberapa rumah penduduk retak-retak di perbatasan Kota Padang dan Kabupaten Pesisir Selatan.
14.  30 September 2009
Lokasi gempa dekat dengan Padang Pariaman dengan skala 7,6 SR. Sejauh ini, informasi menyebutkan dampak gempa telah menelan korban 75 orang tewas, ribuan rumah rusak. Gedung perkantoran, mal dan hotel juga banyak yang rusak. Getaran gempa terasa hingga ke Malaysia dan Singapura.
disalin dari : vivanews.com

Label: 0 komentar | | edit post
Share
GEMPA
Pada tanggal 28 Juni ’26 kira2 poekoel 10 siang kedjadian gempa besar di negeri kita Kota Gedang. Ketika itoe amatlah teremparnja seisi negeri gedang kecil berpekikan dan bersoesah pikiran karena sebab gempa itoe banjaklah meroegikan, keroegian bagi seisi negeri; sebab banjak roemah-roemah jang terboeat dari batoe dan tembok mendjadi roesak binasa tidak bisa dikediami lagi, demikian lagi mesdjid Djoemaat yang soedah beroesia kira2 80-90 tahoen semasa Injik Basa mendjadi toeankoe Laras di IV Koto, terdirinja sekarang mendjadi roentoeh doea pihak dari dindingnja jang selainnja rengkah2 dan ratak-ratak belaka, boleh djadi jang mendjadikan tidak roentuh karena di dalamnja empat boeah tonggak batoe jang beloem berapa lama diganti sebab dahoeloenja memakai tonggak-tonggak kajoe sadja, oleh karena kekuatan tonggak jang empat boeah itoe mendjadi tertahan roentoehnja, begitoe joega menara jang di moeka mesdjid terseboet rengkah2 belaka, soerau moedik dan soerau dihilir rengkah-rengkah djoega tiada bisa dimasoeki dan soeraunja ankoe Hadji Abdoellah dihilir roeboeh sama sekali rata dengan tanah. Dan lagi mana2 roemah-roemah, dapoer dapoer, djandjang2 dan koelah koelah jang terboeat daripada tembok boleh dibilang sama sekali berasa tiada bisa dipakai lagi, soepaja e.e. pembaca dan sanak saudara jang tinggal di rantau jang tiada sempat melihati hal kesoesahan pendoedoek negeri kita Kota Gedang dengan inilah e.e. akan mempersaksikan dibawah ini kami salinkan penafsiran pamarintah tentang keroegian masing masing orang jang mempoenjai dan memakai jang terboeat daripada batoe dan tembok; boleh dibilangkan rata-rata mendapat keroegian dan lagi mana-mana jang tiada memakai perkakas batoe dan tembok itoe tiadalah berapa berbahaja, hanjalah seoelah2 keroegian dari barang-barang di atas roemah jang rebah dan berpelantingan djatoeh seperti dari atas medja dan lemari pada rebah, jang mana isinja banjak jang mendjadi petjah dan roesak2, soenggoehpoen ada disalinkan sebagaimana penafsiran pamarintah barangkali ada djoega seboeah2 tertinggal atau barang kali marika jang poenja tiada memberi rapport tapi boleh dibilang paling sedikit jang tiap tiap roemah2 itoe taksiran kami menanggoeng keroegian djoega sekoerang2nja f 30 ke bawah, hal ini semata2 soedah takdir daripada Toehan Soebhanawataala melainkan kita perbanjak sabar moedah2an segira berganti oentoeng2 dengan karena bahaja ini terlimpahlah kemoerahan hati sanak saudara dan kaoem2nja dari jang kena bahaja ini memberi dan mengirimi boeat pengganti dan pemboeat segala perabot2 jang binasa itoe.
Pada malamnja karena atjap kali djoega dirasa tanah bergojang menjadikan banjak choeatir dihati segala pendoedoek akan naik dan tinggal di dalam roemah mendjadilah segala mereka bertempat dimana2 lapangan dan dalam parak-parak jang dirasa tiada berbahaja, itoepoen adalah beberapa hari lamanja ninik mamak penghoeloe2 dan orang toea toea meronda setiap2 malam itoe boeat mendjaga keselamatan anak kemenakannja, sebab meingat jang segala marika gedang ketjil laki2 perempoean berdiam di dalam pondok2 jang berdindingkan amboen dan angin, melihat keadaan jang sedemikian itoe berapa sedih dan beroerailah air mata kita mengenangkan segala perasaan segala kaoem2 kita itoe; dan pada siangnja di dalam panas jang terik boeat bersediakan makan dan minoemnja disertai djoega dengan ratap dan tangis segala marika; dan lagi jang mendjadikan sedih di hati kita segala barang maka nan amat soesah poela didapat sebabnja karena di negeri kita kebiasaan barang makanan sajoer2an datang dari loear negri dan dibeli kepakan2 apa maoe di kita tiap2 hari pakan tiada orang jang berdjoealan karena di negeri marika pendjoeal itoe sedemikian itoe poela, atas bahaja gempa itoe segala harga barang jang dipakai setiap-setiap hari mendjadikan mahal poela sebab djalan2 jang dilaloei kereta api dan pedati telah roesak2 poela seperti garam, minjak tanah sampai mendjadi lipat doea dan lipat tiga harganja; seperti di Boekit Tinggi adalah didjaga dengan keras oleh pemerintah soepaja saudagar saudagar tiada menaikkan harganja.
Maka melihat perhitoengan ini mendidihlah keringat kita, di tahoen mana moesim pabilakah rasanja dapat terdirikan koembali sekalian roemah2, dapoer2, djandjang2 dan koelah2 sekalian itoe, tapi soenggoehpoen demikian berdoalah kita, moedah-moedahan terboekalah pintoe rezki sekalian kaoem2 kita dan berhati rahimlah marikaitoe boeat pembantoe seisi negeri dan tanah ajernja.
Masdjid
Hal keadaan masdjid sangat benarlah menjedihkan hati kita karena tiada bisa ditempati sembahjang berdjoemaat, soenggoehpoen ada 2-3 boeah Soerau jang lain lebih bergandalah daripada masdjid itoe keroesakannja, oleh sebab jang demikian itoe tempat bersembahjang Djoemaat di tengah padang (sebelah kiri panggoeng Medan Moeda Setia) di tapi lebih2 lagi melihat keadaan yang setjara ini berdangoesanlah segala jang hadir dengan bertjoetjoeran ajer mata, apalagi melihat dan mendengarkan doanja toeankoe Imam (ankoe Hadji Abdoel Chalik) sesoedah bersembahjang itoe dengan meoeraikan ajer mata sekalian, maka sekalian orang-orang jang berdakatan dengan beliau soedah sedemikian itoe pula.
Mengenangkan keadaan ini telah bergiat hatinja ankoe2 pensioen dan ninik mamak penghoeloe2 dan sanak saudara orang tjerdik pandai beserta toeankoe Imam Chatib dalam negeri kita bermaksoed hendak melaloekan permintaan memboeat seboeah lijst akan dikirim kepada segala ankoe-ankoe jang makan gadji, soepaja beliau ini akan bermoerah hati memberi derma oentoek pendirikan Masdjid pengganti Masdjid Djoemaat jang telah roesak binasa ini, dengan mendirikan Comite oentoek Masdjid Djoemaat, Masdjid dihilir, dan di moedik beserta kantoor negri dan panggoeng Medan Moeda Setia jang telah habis binasa itoe, moedah-moedahan apabila e.e. itoe telah menerima lijst itoe, dengan segala soeka dan senang hatilah handaknja memberi derma itoe soepaja e.e. itoe terseboet namanja jang tjinta tanah ajer toempah darahnja serta membela nama kabaikan mendirikan kembali masdjid jang telah roentoeh binasa itoe apalagi hal keadaan negri kita selaloe didatangi oleh orang-orang bangsa asing, boleh dikata di dalam setiap-tiap pakan djaranglah jang tiada kelihatan auto2 dari Residentie2 lain datang mengoendjoengi negri kita, djika tak koendjoeng kita ichtiarkan mandirikannja tentoelah berasa segan dan maloe benarlah kita kepada orang loearan itoe, karena marika2 tentu mengetahoei jang anak negri Kota Gedang banjak yang berpentjarian karantau asing adanja.
Sumber: Soeara Kota Gedang  Tahoen ke X/No. 7/Juli 1926
Published in:
Label: 0 komentar | | edit post
Share
1. Kerajaan Pasumayan Koto Batu
Kerajaan ini disebut-sebut dalam Tambo Alam Kerinci sebagai tempat asal ninik masyarakat Kerinci. Rajanya bernama Sri Maharajo Dirajo yang merupakan kepala rombongan yang datang ke Pasumayan Koto Batu, Daerah kekuasaannya di Langgundi Nan Baselo yang masih diseputar Pasumayan Koto Batu,  istrinya bernama Puti Indo Jalito dan anaknya bernama Sutan Maharajo Basa yang kemudian bernama Datuk Katumanggungan. Setelah meninggal dunia Sri Maharajo Dirajo digantikan oleh Datuk Suri Dirajo.
Semasa pemerintahan Datuk Suri Dirajo terjadi suatu peristiwa yaitu datang rusa dari laut yang besar sekali (sebagian menerjemahkannya sebagai peristiwa kedatangan Sang Sapurba). Atas petunjuk Datuk Suri Dirajo rusa besar tersebut dapat dijerat dan disembelih. Rakyat beriang-riang dan akhirnya tempat itu bernama Pariangan. Saat suasana beriang-riang itu Datuk Suri Dirajo menuju pada suatu tempat dan berdiri pada sebuah batu besar sambil menyandang pedang panjang. Akhirnya temat itu bernama Padang Panjang. Sebagai wakil raja di Pariangan diangkat Datuk Bandaro Kayo dan di Padang Panjang diangkek Datuk Maharajo Basa.
Di Pariangan didirikan sebuah tempat bersidang yang disebut Balai Nan Saruang. Di Balai Nan Saruang inilah segala sesuatu dimusyawarahkan yang berkaitan dengan pemerintahan adat dan kepentingan rakyat.
Semasa Kerajaan Pasumayan Koto Batu berlaku Undang-Undang yang bernama “Undang-Undang Simumbang Jatuah” Undang-undang ini sangat keras dan sebagai contoh siapa yang membunuh akan dibunuh. Apa yang diperintahkan harus dijalankan. Mungkin waktu itu tantangan sangat berat dalam membangun nagari seperti manggaluang taruko sawah ladang. Untuk itu perlu kerja keras dan undang-undang yang tegas pula.
Datuk Suri Dirajo kemudian mengangkat Sutan Maharajo Basa yang bergelar Datuk Katumanggungan dan Sutan Balun yang bergelar Datuk Perpatih Nan Sabatang. Keduanya dianggap oleh orang Minangkabau sebagai pendiri adat Koto Piliang dan Bodi Caniago.
Semasa kerajaan Pasumayan Koto Batu ini adat Minangkabau sudah disusun sedemikian rupa kemudian disempurnakan oleh Datuk Katumanggungan dan Datuk Perpatih Nan Sabatang.
2. Kerajaan Dusun Tuo dan Bungo Satangkai
Setelah Kerajaan Pasumayan Koto Batu berakhir dengan Rajanya Sri Maharajo Dirajo yang kemudian digantikan oleh Datuk Suri Dirajo. Maka selanjutnya muncul 2 orang pemimpin yang bernama Datuk Katumanggungan dan Datuk Perpatih Nan Sabatang. Sebagaimana dikatakan sebelumnya kedua orang tokoh ini seibu berlainan bapak.
Datuk Katumanggungan mendirikan Kerajaan Bungo Satangkai di Sungai Tarab dan sebagai yang dipertuan adalah Datuk Banadaro Putiah. Sedangkan datuk Perpatih Nan Sabatang meninggalkan Nagari Pariangan Padang Panjang dan mendirikan Nagari Limo Kaum XII Koto dan IX Koto di Dalam. Didaerah ini yang berdaulat Datuk Perpatih Nan Sabatang sedangkan pemerintahan sehari-hari dilaksanakan oleh Datuk Bandaro Kuning. Yang termasuk Kerajaan Dusun Tuo adalah daerah yang termasuk Lareh Bodi Chaniago adalah Tanjung Nan Tigo dan Lubuak Nan Tigo. Sedangkan Kerjaan Bungo Satangkai meliputi Langgam Nan Tujuh.
Semasa Kerajaan Dusun Tuo dan Bungo Satangkai diadakan perubahan Undang-Undang Simumbang Jatuah dirubah dengan undang-undang Si Lamo-lamo intinya adalah bahwa sesuatu keputusan yang akan diambil diperhitungkan terlebih dahulu masak-masak, melarat dan memanfaatkannya. Hukuman yang telah dijatuhkan belum dapat dilaksanakan tetapi harus diberi tenggang waktu lebih dahulu agar hukuman itu benar-benar menghukum orang yang bersalah.
Yang melaksanakan Undang-undang Si Lamo-lamo adalah Kerajaan Dusun Tuo di bawah pimpinan Datuk Perpatih Nan Sabatang, sedangkan Kerajaan Bungo Setangkai di Bawah pimpinann DatukKatumanggungan tetap bertahan dengan undang-undang Simumbang Jatuah. Akhirnya kedua tokoh ini terjadi perselisihan. Perselisihan ini akhirnya diadakan perdamaian dan ikrar bersama ditandai dengan Batu Batikam. Isi perdamaian bahwa Undang-undang Silamo-lamo berlaku bagi seluruh Minangkabau dan Adat Bodi Chaniago dan Koto Piliang sama-sama berlaku bagi seluruh rakyat Minangkabau.
Selanjutnya terjadi pula perubahan yaitu Undang-undang si Lamo-lamo diganti dengan Undang-undang Tariak Baleh. Sebagai contoh Undang-undang Tariak Baleh ini adalah:
Salah tariak mangumbalikan
Salah cotok malantiangkan
Salah makan mamuntahkan

Artinya kesalahan yang diperbuat seseorang dapat diuperbaikinya kembali sebelum hukuman dijatuhkan kepadanya. Akhirnya undang-undang Tariak Baleh ini terjadi lagi perubahan yaitu Undang-Undang Duo Puluah yang diberlakukan di seluruh Minangkabau baik di Lareh Koto Piliang maupun Lareh Bodi Caniago yang mana sampai sekarang masih berfungsi sebagai hukum adat di nagari-nagari pada saat sekarang.
Yang dapat kita ambil kesimpulan adalah bahwa semasa Datuk Katumanggungan dan Datuk Perpatih Nan Sabatang betul-betul telah mereka susun adat Minangkabau yang nenjadi pegangan bagi orang Minangkabau sejak dahulu sampai sekarang. Tidak mengherankan kalau nama Datuk Katumanggungan dan Datuk Perpatih Nan Sabatang tidak dapat dilupakan oleh orang Minangkabau sepanjang masa.
3. Kerajaan Bukit Batu Patah
Kerajaan Bukit Batu Patah didirikan oleh seseorang Datuk yang bertapa di Bukit Patah. Ini masih ada hubungan keluarga dengan.Yang Dipertuan Bungo Satangkai. Nama Datuk ini adalah Sutan Nun Alam. Di Bukit Batu Patah ini sampai sekarang masih terdapat Luak Nan Tigo, tempat bertapa dilereng Gunung Bungsu di belakang istana Pagaruyung sekarang. Pada masa kerajaan Bukit Batu Patah ini Luak Nan Tigo sudah dapat disatukan dalam masalah adat dan pemerintahan. Sudah dibentuk Rajo Nan Duo Selo dan Basa Ampek Balai.
Rajo Duo Selo tersebut adalah Rajo Alam yang berkedudukan di Bukit Batu Patah dan Rajo Adat berkedudukan di Bungo Satangkai.
Basa Ampek Balai adalah :
  1. Datuk Bandaro Putiah sebagai Pamuncak di Sungai Tarab
  2. Indomo di Saruaso sebagai Payuang Panji
  3. Makhudum di Sumanik sebagai Aluang Bunian
  4. Tuan Gadang di Batipuh sebagai Harimau Campo
Yang dipertuan Nun Alam digantikan oleh Run Pitualo dan menurut riawayatnya tidak lama pula memerintah di Bukit Batu Patah. Raja ketiga adalah Maharajo Indo dan semasa pemerintahannya pusat kerajaannya dipindahkannya ke kaki Bukit Batu Patah atau di daerah nagari Pagaruyung sekarang. Semasa pemerintahan Maharajo Indo agama Islam sudah masuk ke Minangkabau dari daerah Minangkabau timur.
Maharajo Indo kemudian digantikan oleh Yang Dipertuan Sati. Semasa pemerintahannya Rajo Nan Duo Selo dilengkapi menjadi Rajo Nan Tigo Selo dan Basa Ampek Balai dengan ada perubahan setelah masuk agama Islam. Rajo Alam bersemayam di Balai Gudam, Rajo Ibadat bersemayam di Balai Bungo dan Rajo Adat bersemayam di Balai Janggo. Pada masa itu Basa Ampek Balai adalah :
  1. Tuan Titah (Panitahan) di Sungai Tarab sebagai Pamuncak yang berfungsi sebagai Menteri Dalam Negeri
  2. Makhudum di Sumanik sebagai Aluang Bunian atau Menteri Keuangan
  3. Indomo di Saruaso sebagai Payung Panji atau Menteri Kesejahteraan
  4. Tuan Kadi di Padang Ganting sebagai suluh bendang yang berfungsi sebagai Menteri Agama dan Penerangan
Sedangkan Tuan Gadang di Batipuh sebagai penanggung jawab di bidang keamanan.
Sumber :
Label: 0 komentar | | edit post
Share


Jakarta Buah-buah mungil warna kuning yang cerah dan segar menjadi pemandangan yang menghiasi lobi butik-butik, pertokoan dan mall-mall sepanjang Orchard Road, Singapura. Buah-buah itu tidak sedang dijual. Buah-buah itu masih menempel di pohonnya, yang juga mungil, yang ditanam dalam pot. Itulah jeruk kim kit atau dikenal sebagai jeruk imlek.

Begitulah salah satu cara masyarakat Singapura, yang 80% terdiri atas orang keturunan Tionghoa itu, menyambut datangnya tahun baru Cina atau hari raya Imlek. Di Jakarta barangkali pemandangan semacam itu belum begitu lazim. Namun, bukan berarti tidak ada. Setidaknya, kalau tidak menghiasi rumah-rumah keluarga yang merayakan Imlek, jeruk kim kit hadir sebagai hidangan.

"Buah jeruk di hari tahun baru Imlek memiliki makna kesejahteraan," ujar Eugene Kwan, seorang desainer interior dan fotografer keturunan Cina yang tinggal di Tangerang. Menurut dia, biasanya keluarga peranakan Cina berkumpul untuk makan malam bersama pada malam tahun baru Imlek, yang tahun ini jatuh pada Kamis (3/2/2011).

Menu makan bersama berbeda tiap keluarga. "Kalau di keluargaku selalu ada masakan bebek. Tapi, orang peranakan Cina di Tangerang biasa menyiapkan menu ikan bandeng untuk santap bersama. Makin besar ikannya makin bagus," paparnya.

Sebagai generasi yang lebih muda, Eugene barangkali kesulitan jika diminta menceritakan mengenai sejarah perayaan Imlek. Namun, ia melihat betapa banyak simbol-simbol dalam perayaan Imlek yang memiliki nilai seni yang menarik. "Misalnya, kalau ada kue keranjang, biasanya akan disusun mengerucut dari yang paling besar ke paling kecil di puncaknya," ujarnya.

"Jeruk bali yang bertuliskan ucapan dalam tulisan mandarin terlihat sangat menarik. Dan, kalau di vihara Tangerang itu ada lampion-lampion yang bertuliskan nama orang, pernah masuk rekor MURI," kenangnya.

Jeruk kim kit, masakan khas, kue keranjang adalah hal-hal yang selalu hadir dalam setiap perayaan Imlek. "Manisan kering juga menjadi penganan yang ada di setiap rumah," tambah Eugene. Perayaan Imlek berlangsung selama 15 hari, dan pada hari ke-15 itu disebut cap go meh, yang identik dengan kehadiran lontong.

Berbeda dengan Imlek yang dirayakan bersama keluarga, Cap Go Meh dirayakan beramai-ramai misalnya dengan arak-arakan dan berbagai atraksi
kesenian tradisional Cina. Hal ini melengkapi "seni imlek" dari instalasi jeruk kim kit di butik mewah Armani hingga pertunjukan Baronsai di mall. Dan, masih ada satu lagi, seni ritual.

"Pulang dari berdoa di vihara tengah malam, biasanya mampir ke pasar beli aneka kembang. Bukan cuma untuk hiasan, tapi kembang itu juga dipakai buat mandi," jelas Eugene.

Gong Xi Fat Chai!

(mmu/hkm)

sumber :  http://www.detikhot.com/
Label: 0 komentar | | edit post
Share

Riwayat Hidup Imam Muslim
Penghimpun dan penyusun hadits terbaik kedua setelah Imam Bukhari adalah Imam Muslim. Nama lengkapnya ialah Imam Abul Husain Muslim bin al-Hajjaj bin Muslim bin Kausyaz al Qusyairi an-Naisaburi. Ia juga mengarang kitab As-Sahih (terkenal dengan Sahih Muslim). Ia salah seorang ulama terkemuka yang namanya tetap dikenal hingga kini. Ia dilahirkan di Naisabur pada tahun 206 H. menurut pendapat yang sahih sebagaimana dikemukakan oleh al-Hakim Abu Abdullah dalam kitabnya 'Ulama'ul Amsar.*
Kehidupan dan Lawatannya untuk Mencari Ilmu
Ia belajar hadits sejak masih dalam usia dini, yaitu mulaii tahun 218 H. Ia pergi ke Hijaz, Irak, Syam, Mesir dan negara negara lainnya. Dalam lawatannya Imam Muslim banyak mengunjungi ulama-ulama kenamaan untuk berguru hadits kepada mereka. Di Khurasan, ia berguru kepada Yahya bin Yahya dan Ishak bin Rahawaih; di Ray ia berguru kepada Muhammad bin Mahran dan Abu 'Ansan. Di Irak ia belajar hadits kepada Ahmad bin Hambal dan Abdullah bin Maslamah; di Hijaz belajar kepada Sa'id bin Mansur dan Abu Mas'Abuzar; di Mesir berguru kepada 'Amr bin Sawad dan Harmalah bin Yahya, dan kepada ulama ahli hadits yang lain.
Muslim berkali-kali mengunjungi Baghdad untuk belajar kepada ulama-ulama ahli hadits, dan kunjungannya yang terakhir pada 259 H. di waktu Imam Bukhari datang ke Naisabur, Muslim sering datang kepadanya untuk berguru, sebab ia mengetahui jasa dan ilmunya. Dan ketika terjadi fitnah atau kesenjangan antara Bukhari dan Az-Zihli, ia bergabung kepada Bukhari, sehingga hal ini menjadi sebab terputusnya hubungan dengan Az-Zihli. Muslim dalam Sahihnya maupun dalam kitab lainnya, tidak memasukkan hadits-hadits yang diterima dari Az-Zihli padahal ia adalah gurunya. Hal serupa ia lakukan terhadap Bukhari. Ia tidak meriwayatkan hadits dalam Sahihnya, yang diterimanya dari Bukhari, padahal iapun sebagai gurunya. Nampaknya pada hemat Muslim, yang lebih baik adalah tidak memasukkan ke dalam Sahihnya hadits-hadits yang diterima dari kedua gurunya itu, dengan tetap mengakui mereka sebagai guru.
Imam Muslim wafat pada Minggu sore, dan dikebumikan di kampung Nasr Abad, salah satu daerah di luar Naisabur, pada hari Senin, 25 Rajab 261 H. dalam usia 55 tahun.
Guru-gurunya
Selain yang telah disebutkan di atas, Muslim masih mempunyai banyak ulama
yang menjadi gurunya. Di antaranya : Usman dan Abu Bakar, keduanya putra Abu Syaibah; Syaiban bin Farwakh, Abu Kamil al-Juri, Zuhair bin Harb, Amr an-Naqid, Muhammad bin al-Musanna, Muhammad bin Yassar, Harun bin Sa'id al-Ayli, Qutaibah bin Sa'id dan lain sebagainya.
Keahlian dalam Hadits
Apabila Imam Bukhari merupakan ulama terkemuka di bidang hadits sahih, berpengetahuan luas mengenai ilat-ilat dan seluk beluk hadits, serta tajam kritiknya, maka Imam Muslim adalah orang kedua setelah Imam Bukhari, baik dalam ilmu dan pengetahuannya maupun dalam keutamaan dan kedudukannya.
Imam Muslim banyak menerima pujian dan pengakuan dari para ulama ahli hadits maupun ulama lainnya. Al-Khatib al-Baghdadi berketa, "Muslim telah mengikuti jejak Bukhari, memperhatikan ilmunya dan menempuh jalan yang dilaluinya." Pernyataan ini tidak berarti bahwa Muslim hanyalah seorang pengekor. Sebab, ia mempunyai cirri khas dan karakteristik tersendiri dalam menyusun kitab, serta metode baru yang belum pernah diperkenalkan orang
sebelumnya.
Abu Quraisy al-Hafiz menyatakan bahwa di dunia ini orang yang benar-benar ahli di bidang hadits hanya empat orang; salah satu di antaranya adalah Muslim (Tazkiratul Huffaz, jilid 2, hal. 150). Maksud perkataan tersebut adalah ahli ahli hadits terkemuka yang hidup di masa Abu Quraisy, sebab ahli hadits itu cukup banyak jumlahnya.
Karya-karya Imam Muslim
Imam Muslim meninggalkan karya tulis yang tidak sedikit jumlahnya, di antaranya :
1. Al-Jami' as-Sahih (Sahih Muslim).
2. Al-Musnadul Kabir (kitab yang menerangkan nama-nama para perawi hadits).
3. Kitabul-Asma' wal-Kuna.
4. Kitab al-'Ilal.
5. Kitabul-Aqran.
6. Kitabu Su'alatihi Ahmad bin Hambal.
7. Kitabul-Intifa' bi Uhubis-Siba'.
8. Kitabul-Muhadramin.
9. Kitabu man Laisa lahu illa Rawin Wahid.
10. Kitab Auladis-Sahabah.
11. Kitab Awhamil-Muhadditsin.
Kitab Sahih Muslim
Di antara kitab-kitab di atas yang paling agung dan sangat bermanfat luas, serta masih tetap beredar hingga kini ialah Al Jami' as-Sahih, terkenal dengan Sahih Muslim. Kitab ini merupakan salah satu dari dua kitab yang paling sahih dan murni sesudah Kitabullah. Kedua kitab Sahih ini diterima baik oleh segenap umat Islam.

Imam Muslim telah mengerahkan seluruh kemampuannya untuk meneliti dan mempelajari keadaan para perawi, menyaring hadits-hadits yang diriwayatkan, membandingkan riwayat riwayat itu satu sama lain. Muslim sangat teliti dan hati-hati dalam menggunakan lafaz-lafaz, dan selalu memberikan isyarat akan adanya perbedaan antara lafaz-lafaz itu. Dengan usaha yang sedeemikian rupa, maka lahirlah kitab Sahihnya.
Bukti kongkrit mengenai keagungan kitab itu ialah suatu kenyataan, di mana Muslim menyaring isi kitabnya dari ribuan riwayat yang pernah didengarnya. Diceritakan, bahwa ia pernah berkata: "Aku susun kitab Sahih ini yang disaring dari 300.000 hadits."
Diriwayatkan dari Ahmad bin Salamah, yang berkata : "Aku menulis bersama Muslim untuk menyusun kitab Sahihnya itu selama 15 tahun. Kitab itu berisi 12.000 buah hadits.
Dalam pada itu, Ibn Salah menyebutkan dari Abi Quraisy al-Hafiz, bahwa jumlah hadits Sahih Muslim itu sebanyak 4.000 buah hadits. Kedua pendapat tersebut dapat kita kompromikan, yaitu bahwa perhitungan pertama memasukkan hadits-hadits yang berulang-ulang penyebutannya, sedangkan perhitungan kedua hanya menghitung hadits-hadits yang tidak disebutkan berulang.
Imam Muslim berkata di dalam Sahihnya: "Tidak setiap hadits yang sahih menurutku, aku cantumkan di sini, yakni dalam Sahihnya. Aku hanya mencantumkan hadits-hadits yang telah disepakati oleh para ulama hadits."
Imam Muslim pernah berkata, sebagai ungkapan gembira atas karunia Tuhan yang diterimanya: "Apabila penduduk bumi ini menulis hadits selama 200 tahun, maka usaha mereka hanya akan berputar-putar di sekitar kitab musnad
ini."
Ketelitian dan kehati-hatian Muslim terhadap hadits yang diriwayatkan dalam Sahihnya dapat dilihat dari perkataannya sebagai berikut : "Tidaklah aku mencantumkan sesuatu hadits dalam kitabku ini, melainkan dengan alasan; juga tiada aku menggugurkan sesuatu hadits daripadanya melainkan dengan alasan pula."
Imam Muslim di dalam penulisan Sahihnya tidak membuat judul setiap bab secara terperinci. Adapun judul-judul kitab dan bab yang kita dapati pada sebagian naskah Sahih Muslim yang sudah dicetak, sebenarnya dibuat oleh para pengulas yang datang kemudian. Di antara pengulas yang paling baik membuatkan judul-judul bab dan sistematika babnya adalah Imam Nawawi dalam Syarahnya.
Sumber: Kitab Hadis Sahih yang Enam, Muhammad Muhammad Abu Syuhbah*
taken from : http://unisa.f2o.org/artikel.php?view=197

Label: 0 komentar | | edit post
Share
IMAM NAWAWI (631H - 676H = 1233 -1277 M)
Namanya ialah Muhyiddin Abu Zakaria Yahya bin Syirfu al Nawawi. Dilahirkan di Nawa sebuah wilayah di Damsyik Syam pada bulan Muharram tahun 631 Hijrah.
Kebolehan menghafaz Al-Quran sejak kecil lagi. Pada tahun 649 Hijrah, ketika berusia lingkungan sembilan belas tahun telah pergi ke kota Damsyik untuk belajar. Mendalami ilmu di madrasah al-Ruwahiyyah atas tanggungan madrasah itu sendiri.
Karangannya adalah banyak, di antaranya yang terkenal ialah kitab-kitab syarah sahih muslim, Riyadhus Salihin, Al-Adhkar, Al-Tibyan fi adab hamalat al-Quran, al-Irsyad wa al-Taqrib fi 'Ulum al-Hadith, al-Aidah fi Manasik al-Hajj, Syarah Muhazzab, al-Raudah, Tahdhib al-Asma' wa al-Lughat, al-Minhaj dan Matan al-Arbain.
Antara kitabnya yang begitu popular dalam pengajian ilmu ialah Matan al-Arbain (hadis 40), Riyadhus Salihin, Syarah Sahih Muslim dan al-Adhkar.
Kehidupannya dihabiskan kepada bakti dan khidmat suci terhadap penyebaran dam perkembangan ilmu pengetahuan Islam. Makan minumnya hanya sekali dalam sehari, sekadar memelihara kesihatan badannya. Juga tidak sanagat menghiraukan akan soal pemakaian dan perhiasan, cukuplah apa yang memadai sahaja. Tidak juga gemar akan makan buah-buahan kerana khuatir akan mengantuk yang akan mengganggu tugas sehariannya.
Seorang yang begitu bertakwa menurut erti kata sepenuhnya, wara'nya dan kebersihan jiwanya. Seorang ulama' yang amatlah suka ditemui. Ada juga riwayat yang mengatakan bahawa keengganan beliau untuk makan buah-buahan di Damsyik itu bukan hanya khuatir akan mengantuk tetapi kerana buah-buahan di Damsyik dikala itu terlalu banyak mengandungi syubhat.
Sepanjang hayatnya sentiasa istiqamah dalam menjalankan kewajipan menyebarkan ilmu dengan mengajar dan mengarang di samping senantiasa beribadah di tengah-tengah suasana hidup yang serba kekurangan, sehingga hidupnya dilingkungi oleh usaha dan amal saleh terhadap agama, masyarakat dan umat.
Beliau pernah diusir keluar dari negeri Syam oleh sultan al-Malik al-Zahir yang tidak senang akan fatwa yang dikeluarkan olehnya. Beliau bukanlah seorang ulama' yang mencari kebenaran untuk dirinya sahaja, beliau hidup di dalam masyarakat. Beliau tidak menjual ilmu yang dimiliki dengan harta benda dunia. Beliau mencurahkan ilmu kepada masyarakat ummat. Beliau memimpin ummat bukan ummat yang memimpin beliau. Mengeluarkan fatwa tanpa memandang sesiapa, walaupun fatwanya itu meyusahkan kedudukannya. Inilah contoh ulama' pewaris nabi (warithatul anbiya').
Sepanjang hayatnya banyak menulis, mengarang, mengajar dan menasihat. Inilah yang telah mengangkat ketinggian peribadinya dan dikagumi. Imam Nawawi wafat pada 24 Rejab 676 Hijrah, dan dimakamkan di Nawa, setelah sekian lama beliau hidup dengan membujang tidak beristeri di tengah-tengah suasana masyarakat Damsyik dan telah berjaya menyumbangkan tenaga fikiran dan 'ilmunya kepada agama Islam dan umatnya. Sekianlah, mudah-mudahan Allah melimpahkan rahmatnya ke atas beliau. Amin.
FATWA IMAM NAWAWI YANG MENGGEMPARKAN
Menurut riwayat bahawa apabila baginda sultan al-Malik al-Zahir telah mengadakan persiapan perang untuk memerangi orang-orang Tatar (monggol) lalu digunakanlah fatwa 'ulama yang mengharuskan mengambil harta rakyat untuk kepentingan perang melawan musuh. 'Ulama fiqh negeri Syam telah menulis menerangkan fatwa tersebut, tetapi baginda belum merasa senang hati kalau imam Nawawi tidak memberi fatwanya. Lalu baginda bertitah "Masih adakah lagi orang lain". "Masih ada, al-Syaikh Muhyiddin al-Nawawi" - demikian jawapan yang disampaikan kepada baginda.
Kemudian baginda menjemput Imam Nawawi dan meminta beliau memberi fatwanya bersama 'ulama fiqh mengenai pengambilan harta rakyat untuk peperangan. Beliau berterus terang tidak mahu memberi fatwanya dan enggan. Baginda bertanya: "Apakah sebabnya beliau enggan?" Lalu beliau memberi penjelasan mengapa beliau terpaksa menerangkan sikapnya dan keenggannya memfatwakan sama seperti para 'ulama. Beliau dalam penjelasan kepada baginda menerangkan seperti berikut! Ampun Tuanku! Adalah patik sememangnya mengetahui dengan sesungguhnya bahwasanya tuanku adalah dahulunya seorang tawanan tidak ada sebarang harta benda. Tetapi pertolongan Allah telah dilimpahkan kurnianya kepada tuanku dengan dijadikan tuanku seorang raja. Ampun Tuanku! Adalah patik telah mendengar bahawanya tuanku ada memiliki seribu orang hamab tiap-tiap seorang ada mempunyai beberapa ketul emas. Manakala dua ratus orang khadam wanita milik tunaku, masing-masing mempunyai perhiasan yang bernilai. Andaikata tuanku sendirian membelanjakan kesemua itu untuk keperluan pernag sehingga mereka tidak lagi mempunyai barang-barang itu, maka patik bersedia memberi fatwa untuk membenarkan tuanku mengambil harta rakyat.
Kesimpulannya, beliau berfatwa tidak membenarkan baginda mengambil harta rakyat selama kekayaannya sendiri masih dapat dipergunakan. Baginda al-Malik al-Zahir murka kepadanya kerana fatwanya yang amat menggemparkan sehingga baginda mengeluarkan perintah supaya beliau segera keluar dari Damsyik. Imam Nawawi terima saja perintah pengusirannya itu dengan nada yang tenang. Lalu beliau pun keluar ke Nawa. Para 'ulama Syam telah berusaha menjemput beliau balik semula ke Damsyik, tetapi beliau enggan dengan berkata: "Saya tidak akan balik ke Damsyik selama baginda masih berkuasa".
(Sumber rujukan asal, HADIS EMPAT PULUH, Cetakan Dewan Pustaka Fajar)




Label: 0 komentar | | edit post
Share Anda mungkin pernah mendengar tentang istilah Self Fullfiling Prophecy. Sesuatu hal yang diyakini bisa benar-benar menjadi kenyataan. Ini tentang kepercayaan. Jika Anda meminta, Anda akan mendapatkan. 

Pohon Pengabul Permohonan
Seorang pria miskin berjalan ke dalam hutan sambil meratapi nasibnya yang penuh dengan kesusahan. Ia beristirahat di bawah pohon, yaitu pohon ajaib yang bisa mengabulkan semua permohonan dari semua orang yang berada dekat dengan pohon itu. Pria itu sangat haus dan ingin minum. Tiba-tiba secangkir air dingin segar muncul di tangannya. Terkejut, pria itu melihat seksama air tersebut. Setelah merasa air itu aman, ia meminumnya. Pria itu kemudian merasa lapar dan ingin sesuatu untuk makan. Sepiring makanan muncul dihadapannya. “Keinginanku terkabul,” ia berpikir setengah tidak percaya. “Kalau begitu aku ingin memiliki rumah yang bagus milikku sendiri, “ ia berteriak dengan keras. Rumah itu secara ajaib muncul di sebelahnya. Senyum lebar muncul di muka pria itu. Ia lalu meminta pelayan untuk merawat rumahnya. Ketika pelayan itu muncul, pria itu sadar bahwa ia telah dikaruniai dengan keajaiban. Pria itu lalu meminta seorang wanita cantik, pintar, dan mencintai dirinya untuk mendampinginya. Keinginannya terkabul. “Tunggu, ini aneh,” kata pria itu pada si wanita,”Aku tidak seberuntung ini. Hal ini tidak mungkin terjadi padaku.” Saat ia bicara … semuanya menghilang. Pria itu menganggukkan kepala dan berkata,”Betul kan.” Kemudian pria itu berjalan pergi sambil meratapi nasibnya yang penuh kesusahan. Langkah pertama untuk menjadi kaya, adalah bagaimana Anda meyakinkan diri Anda bahwa Anda benar-benar ingin dan bisa menjadi kaya. Anda harus percaya dalam waktu tertentu Anda akan bisa melakukannya. Seperti cerita Pohon Pengabul Permohonan di atas, jika Anda tidak percaya bisa melakukannya, akhir ceritanya tetap sama, Anda tetap tidak akan bisa melakukannya karena Anda tidak memiliki determinasi yang kuat untuk itu. Seorang pelari yang tidak yakin akan sampai di garis finish akan kehilangan semangat. Setelah itu, boroboro mencapai garis finish, melangkahkan kaki saja rasanya berat sekali. Ia akan berhenti di tengah jalan. Saya sering melihat banyak olahragawan yang mestinya secara fisik sudah tidak mampu melanjutkan, tapi akhirnya mereka bisa menang. Hal ini disebabkan karena mereka ingin dan yakin bisa menang. Anda bisa melihat kesuksesan orang lain hanya dari caranya berbicara, caranya memandang diri sendiri. Kata-kata merupakan alat seorang manusia yang paling penting. Saya percaya bahwa perkataan adalah cerminan dari apa jadinya kita di masa depan. Bill Gates – si mahasiswa drop out - percaya bahwa softwarenya akan hadir di setiap rumah tangga di Amerika. Hasilnya Anda bisa lihat sendiri. Anda tidak perlu menjadi paranormal untuk bisa melihat seseorang akan menjadi kaya atau miskin. Hanya dengarkan perkataannya. Anda pasti sering mendengar seseorang mengatakan bahwa mereka ingin
menjadi kaya. Sebenarnya mereka mengatakan keinginannya menjadi kaya hanya SEBATAS HARAPAN dan bukan kepastian. Ketika mereka mengatakan ini, mereka tidak akan berbuat apa-apa. Jika ada usahapun, biasanya tidak dilakukan dengan sepenuh hati. Harapan mereka akan kekayaan akhirnya jatuh pada menang undian dan menang kuis. Ketika Anda mengatakan sesuatu yang meragukan atau tidak yakin akan tujuan Anda, Anda baru saja membunuh keinginan Anda – tanpa Anda sadari. Setiap waktu Anda ragu-ragu, setiap itu pula Anda menjauhkan diri dari apa yang ingin
Anda capai. Orang kaya sangat yakin pada masa depannya, bahkan sebelum mereka menjadi kaya. Mereka memiliki bayangan mereka sendiri sebagai orang kaya di masa depan. Orang kaya menjadi kaya karena mereka tidak terfokus pada survival, atau pengeluaran sehari-hari. Mereka menjadi kaya karena memfokuskan pikiran, tenaga, dan waktu untuk mengakumulasi kekayaaan dalam jangka panjang. Anda mungkin ragu, “Apakah saya akan menjadi pungguk merindukan bulan ?” Saya katakan, lebih baik memiliki tujuan dan Anda berusaha untuk mencapainya daripada menjadi orang yang tidak memiliki tujuan sama sekali. Soal tercapai atau tidak dan kapan tercapainya, itu urusan nanti. Anda dapat mengusahakannya. Dengan memiliki tujuan yang Anda tetapkan sendiri dan bayangan tentang
tujuan itu, Anda akan bisa melihat bagaimana Anda bisa mencapainya. 

“Ordinary people believe only in the possible. Extraordinary people visualize not what is possible or probable, but rather what is impossible. And by visualizing the impossible, they begin to see it as possible.”
- Cherie Carter-scott

Jadi tetapkan diri Anda untuk menjadi kaya, walaupun Anda tidak punya uang sekarang. Miskin hanyalah kondisi pikiran. Anda sendirilah yang menentukan masa depan Anda. Kalau Anda sedang dalam lomba lari maraton, yakinlah Anda bisa mencapai garis finish, daripada Anda nanti menggantung sepatu dan menjadi penonton.

Label: 0 komentar | | edit post
Share Dari kejauhan, lampu lalu-lintas di perempatan itu masih menyala hijau. Jack segera menekan pedal gas kendaraannya. Ia tak mau terlambat. Apalagi ia tahu perempatan di situ cukup padat sehingga lampu merah biasanya menyala cukup lama. Kebetulan jalan di depannya agak lenggang. Lampu berganti kuning. Hati Jack berdebar berharap semoga ia bisa melewatinya segera. Tiga meter menjelang garis jalan, lampu merah menyala. Jack bimbang, haruskah ia berhenti atau terus saja. “Ah, aku tak punya kesempatan untuk menginjak rem mendadak,” pikirnya sambil terus melaju.

Prit! Di seberang jalan seorang polisi melambaikan tangan memintanya berhenti. Jack menepikan kendaraan agak menjauh sambil mengumpat dalam hati. Dari kaca spion ia melihat siapa polisi itu. Wajahnya tak terlalu asing.

Hey, itu khan Bob, teman mainnya semasa SMA dulu. Hati Jack agak lega. Ia melompat keluar sambil membuka kedua lengannya.

“Hai, Bob. Senang sekali ketemu kamu lagi!”

“Hai, Jack.” Tanpa senyum.

“Duh, sepertinya saya kena tilang nih? Saya memang agak buru-buru. Istri saya sedang menunggu di rumah.”

“Oh ya?” Tampaknya Bob agak ragu.

Nah, bagus kalau begitu. “Bob, hari ini istriku ulang tahun. Ia dan anak-anak sudah menyiapkan segala sesuatunya. Tentu aku tidak boleh terlambat, dong.”

“Saya mengerti. Tapi, sebenarnya kami sering memperhatikanmu melintasi lampu merah di persimpangan ini.”

O-o, sepertinya tidak sesuai dengan harapan. Jack harus ganti strategi.

“Jadi, kamu hendak menilangku? Sungguh, tadi aku tidak melewati lampu merah. Sewaktu aku lewat lampu kuning masih menyala.” Aha, terkadang berdusta sedikit bisa memperlancar keadaan.

“Ayo dong Jack. Kami melihatnya dengan jelas. Tolong keluarkan SIMmu.”

Dengan ketus Jack menyerahkan SIM lalu masuk ke dalam kendaraan dan menutup kaca jendelanya. Sementara Bob menulis sesuatu di buku tilangnya. Beberapa saat kemudian Bob mengetuk kaca jendela. Jack memandangi wajah Bob dengan penuh kecewa. Dibukanya kaca jendela itu sedikit. Ah, lima centi sudah cukup untuk memasukkan surat tilang. Tanpa berkata-kata Bob kembali ke posnya.

Jack mengambil surat tilang yang diselipkan Bob di sela-sela kaca jendela. Tapi, hei apa ini. Ternyata SIMnya dikembalikan bersama sebuah nota. Kenapa ia tidak menilangku. Lalu nota ini apa? Semacam guyonan atau apa? Buru-buru Jack membuka dan membaca nota yang berisi tulisan tangan Bob.

“Halo Jack, Tahukah kamu Jack, aku dulu mempunyai seorang anak perempuan. Sayang, Ia sudah meninggal tertabrak pengemudi yang ngebut menerobos lampu merah.

Pengemudi itu dihukum penjara selama 3 bulan. Begitu bebas ia bisa bertemu dan memeluk ketiga anaknya lagi. Sedangkan anak kami satu-satunya sudah tiada. Kami masih terus berusaha dan berharap agar Tuhan berkenan mengkaruniai seorang anak agar dapat kami peluk.

Ribuan kali kami mencoba memaafkan pengemudi itu. Betapa sulitnya. Begitu juga kali ini. Maafkan aku Jack. Doakan agar permohonan kami terkabulkan. Berhati-hatilah. dari Bob.

Jack terhenyak. Ia segera keluar dari kendaraan mencari Bob. Namun, Bob sudah meninggalkan pos jaganya entah kemana. Sepanjang jalan pulang ia mengemudi perlahan dengan hati tak tentu sambil berharap kesalahannya dimaafkan.

Tak selamanya pengertian kita harus sama dengan pengertian orang lain. Bisa jadi suka kita tak lebih dari duka rekan kita. Hidup ini sangat berharga, jalanilah dengan penuh hati-hati.

dari berbagai sumber
Label: 0 komentar | | edit post
Share Di sudut pasar Madinah Al-Munawarah seorang pengemis Yahudi buta hari demi hari apabila ada orang yang mendekatinya ia selalu berkata “Wahai saudaraku jangan dekati Muhammad, dia itu orang gila, dia itu pembohong, dia itu tukang sihir, apabila kalian mendekatinya kalian akan dipengaruhinya”. Setiap pagi Rasulullah SAW mendatanginya dengan membawa makanan, dan tanpa berkata sepatah kata pun Rasulullah SAW menyuapi makanan yang dibawanya kepada pengemis itu walaupun pengemis itu selalu berpesan agar tidak mendekati orang yang bernama Muhammad. Rasulullah SAW melakukannya hingga menjelang Beliau SAW wafat. Setelah kewafatan Rasulullah tidak ada lagi orang yang membawakan makanan setiap pagi kepada pengemis Yahudi buta itu.

Suatu hari Abubakar r.a berkunjung ke rumah anaknya Aisyah r.ha. Beliau bertanya kepada anaknya, “anakku adakah sunnah kekasihku yang belum aku kerjakan”, Aisyah r.ha menjawab pertanyaan ayahnya, “Wahai ayah engkau adalah seorang ahli sunnah hampir tidak ada satu sunnah pun yang belum ayah lakukan kecuali satu sunnah saja”. “Apakah Itu?”, tanya Abubakar r.a. Setiap pagi Rasulullah SAW selalu pergi ke ujung pasar dengan membawakan makanan untuk seorang pengemis Yahudi buta yang berada di sana”, kata Aisyah r.ha.

Ke esokan harinya Abubakar r.a. pergi ke pasar dengan membawa makanan untuk diberikannya kepada pengemis itu. Abubakar r.a mendatangi pengemis itu dan memberikan makanan itu kepada nya. Ketika Abubakar r.a. mulai menyuapinya, si pengemis marah sambil berteriak, “siapakah kamu ?”. Abubakar r.a menjawab, “aku orang yang biasa”. “Bukan !, engkau bukan orang yang biasa mendatangiku”, jawab si pengemis buta itu. Apabila ia datang kepadaku tidak susah tangan ini memegang dan tidak susah mulut ini mengunyah. Orang yang biasa mendatangiku itu selalu menyuapiku, tapi terlebih dahulu dihaluskannya makanan tersebut dengan mulutnya setelah itu ia berikan pada ku dengan mulutnya sendiri”, pengemis itu melanjutkan perkataannya.

Abubakar r.a. tidak dapat menahan air matanya, ia menangis sambil berkata kepada pengemis itu, aku memang bukan orang yang biasa datang pada mu, aku adalah salah seorang dari sahabatnya, orang yang mulia itu telah tiada. Ia adalah Muhammad Rasulullah SAW. Setelah pengemis itu mendengar cerita Abubakar r.a. ia pun menangis dan kemudian berkata, benarkah demikian?, selama ini aku selalu menghinanya, memfitnahnya, ia tidak pernah memarahiku sedikitpun, ia mendatangiku dengan membawa makanan setiap pagi, ia begitu mulia…. Pengemis Yahudi buta tersebut akhirnya bersyahadat dihadapan Abubakar r.a.
Label: 0 komentar | | edit post
Share
Seorang pemuda sebentar lagi akan
diwisuda,sebentar lagi dia akan
menjadi seorang sarjana, akhir dari
jerih payahnya selama beberapa
tahun di bangku pendidikan.
Beberapa bulan yang lalu dia
melewati sebuah showroom, dan
saat itu dia jatuh cinta kepada
sebuah mobil sport, keluaran
terbaru dari Ford. Selama beberapa
bulan dia selalu membayangkan,
nanti pada saat wisuda ayahnya
pasti akan membelikan mobil itu
kepadanya. Dia yakin, karena dia
anak satu-
satunya dan ayahnya sangat sayang
padanya, sehingga dia yakin banget
nanti dia pasti akan mendapatkan
mobil itu. Dia pun berangan-angan
mengendarai mobil itu, bersenang-
senang dengan teman-temannya,
bahkan semua mimpinya itu dia
ceritakan keteman-temannya.
Saatnya pun tiba, siang itu, setelah
wisuda, dia melangkah pasti ke
ayahnya. Sang ayah tersenyum, dan
dengan berlinang air mata karena
terharu dia mengungkapkan betapa
dia bangga akan anaknya, dan
betapa dia mencintai anaknya itu.
Lalu dia pun mengeluarkan sebuah
bingkisan,... bukan sebuah kunci !
Dengan hati yang hancur sang anak
menerima bingkisan itu, dan dengan
sangat kecewa dia membukanya.
Dan dibalik kertas kado itu ia
menemukan sebuah Kitab Suci yang
bersampulkan kulit asli, dikulit itu terukir indah namanya dengan tinta
emas. Pemuda itu menjadi marah,
dengan suara yang meninggi dia
berteriak, "Yaahh... Ayah memang
sangat mencintai saya, dengan
semua uang ayah, ayah belikan
alkitab ini untukku ? " Lalu dia
membanting Kitab Suci itu dan lari
meninggalkan ayahnya. Ayahnya
tidak
bisa berkata apa-apa, hatinya
hancur, dia berdiri mematung
ditonton beribu pasang mata yang
hadir saat itu.
Tahun demi tahun berlalu, sang anak
telah menjadi seorang yang sukses,
dengan bermodalkan otaknya yang
cemerlang dia berhasil menjadi
seorang yang terpandang. Dia
mempunyai rumah yang besar dan
mewah, dan dikelilingi istri yang
cantik dan anak-anak yang cerdas.
Sementara itu ayahnya semakin tua
dan tinggal sendiri. Sejak hari wisuda
itu, anaknya pergi meninggalkan dia
dan tak pernah menghubungi dia.
Dia berharap suatu saat dapat
bertemu anaknya itu, hanya untuk
meyakinkan dia betapa kasihnya
pada anak itu. Sang anak pun
kadang rindu dan ingin bertemu
dengan sang ayah, tapi mengingat
apa yang terjadi pada hari
wisudanya, dia menjadi sakit hati
dan sangat mendendam.
Sampai suatu hari datang sebuah
telegram dari kantor kejaksaan yang
memberitakan bahwa ayahnya telah
meninggal, dan sebelum ayahnya
meninggal, dia mewariskan semua
hartanya kepada anak satu-satunya
itu. Sang anak disuruh menghadap
Jaksa wilayah dan bersama-sama ke
rumah ayahnya untuk mengurus
semua harta peninggalannya. Saat
melangkah masuk ke rumah itu,
mendadak hatinya menjadi sangat
sedih, mengingat semua kenangan
semasa dia tinggal di situ. Dia
merasa sangat menyesal telah
bersikap jelak terhadap ayahnya.
Dengan bayangan-bayangan masa
lalu yang menari-nari di matanya,
dia menelusuri semua barang
dirumah itu. Dan ketika dia
membuka brankas ayahnya, dia
menemukan Kitab Suci itu, masih
terbungkus dengan kertas yang
sama beberapa tahun yang lalu.
Dengan airmata berlinang, dia lalu
memungut Kitab Suci itu, dan mulai
membuka halamannya. Di halaman
pertama Kitab Suci itu, dia membaca
tulisan tangan ayahnya, "Sebaik-
baik manusia adalah mereka yang
paling bermanfaat bagi orang lain.
Dan Tuhan Maha Kaya dari segala
apa yang ada di dunia ini"
Selesai dia membaca tulisan itu,
sesuatu jatuh dari bagian belakang
Kitab Suci itu. Dia memungutnya,....
sebuah kunci mobil ! Di gantungan
kunci mobil itu tercetak nama dealer,
sama dengan dealer mobil sport
yang dulu dia idamkan ! Dia
membuka halaman terakhir Alkitab
itu, dan menemukan di situ terselip
STNK dan surat-surat lainnya,
namanya tercetak di situ. dan
sebuah kwitansi
pembelian mobil, tanggalnya tepat
sehari sebelum hari wisuda itu. Dia
berlari menuju garasi, dan di sana
dia menemukan sebuah mobil yang
berlapiskan debu selama bertahun-
tahun, meskipun mobil itu sudah
sangat kotor karena tidak disentuh
bertahun-tahun, dia masih mengenal
jelas mobil itu, mobil sport
yang dia dambakan bertahun-tahun
lalu. Dengan buru-buru dia
menghapus debu pada jendela mobil
dan melongok ke dalam. bagian
dalam mobil itu masih baru, plastik
membungkus jok mobil dan setirnya,
di atas dashboardnya ada sebuah
foto, foto ayahnya, sedang
tersenyum bangga. Mendadak dia
menjadi lemas, lalu terduduk di
samping mobil itu, air matanya tidak
terhentikan, mengalir terus
mengiringi rasa menyesalnya yang
tak mungkin diobati........
SEBERAPA MAHAL DAN
BERHARGANYA KITA PERNAH
KEHILANGAN SEBUAH BARANG,
NAMUN TAK SEMENYESAL JIKA KITA
KEHILANGAN ORANG-ORANG YANG
KITA CINTAI
(Sebelum kita meminta
maaf padanya)...
Label: 0 komentar | | edit post
Share
Malam membelenggu pola pikirku..
Yg kini jadi pikun karna terlalu banyak dijejali irisan irisan hatimu yg membusuk.. Jamanpun tertawa bengis..
Menggataiku goblok..
Tapi memang gurat gurat layu membekas dalam diwajahku..
Terlalu kaku untukku arahkan..
Mataku yang terus saja menatapmu..
Walalu kepala telah aku puntir..
Tetap saja mataku menandur masalalu di otaku
Wooy..
Bangun..
Jiwaku..
ragaku..
Dia sudah mati..
Biar dimakan ulat bumi..
Jangan kau gali lagi..
Hatiku retak membercak..
Melempar detak ke bulan sabit..
Dan tertahan aku disana..
Dibalik jeruji kayu..
Aku tertahan.. Memunguti mimpi..
Yg sudah kau injak2..
dan aku tak bisa menatap
masa depanku..

Label: 0 komentar | | edit post
Share
Kisah Sedih Si Gadis Miskin Sudah menjadi kehendak Allah memberinya cobaan berupa penyakit kronis yang bersarang dan sudah bertahun-tahun ia rasakan. Ini adalah cerita kisah seorang gadis yang bernama Muha. 
Kisah ini diriwayatkan oleh zaman, diiringi dengan tangisan burung dan ratapan ranting pepohonan.Muha adalah seorang gadis remaja yang cantik. Sebagaimana yang telah kami katakan, sejak kecil ia sudah mengidap penyakit yang kronis. Sejak usia kanak-kanak ia ingin bergembira, bermain, bercanda dan bersiul seperti burung sebagaimana anak-anak yang seusianya. Bukankah ia juga berhak merasakannya?
Sejak penyakit itu menyerangnya, ia tidak dapat menjalankan kehidupan dengan normal seperti orang lain, walaupun ia tetap berada dalam pengawasan dokter dan bergantung dengan obat.
Muha tumbuh besar seiring dengan penyakit yang dideritanya. Ia menjadi seorang remaja yang cantik dan mempunyai akhlak mulia serta taat beragama. Meski dalam kondisi sakit namun ia tetap berusaha untuk mendapatkan ilmu dan pelajaran dari mata air ilmu yang tak pernah habis. Walau terkadang bahkan sering penyakit kronisnya kambuh yang memaksanya berbaring di tempat tidur selama berhari-hari.Selang beberapa waktu atas kehendak Allah seorang pemuda tampan datang meminang, walaupun ia sudah mendengar mengenai penyakitnya yang kronis itu.
Namun semua itu sedikit pun tidak mengurangi kecantikan, agama dan akhlaknya...kecuali kesehatan, meskipun kesehatan adalah satu hal yang sangat penting. Tetapi mengapa?Bukankah ia juga berhak untuk menikah dan melahirkan anak-anak yang akan mengisi dan menyemarakkan kehidupannya sebagaimana layaknya wanita lain?
Demikianlah hari berganti hari bulan berganti bulan si pemuda memberikan bantuan materi agar si gadis meneruskan pengobatannya di salah satu rumah sakit terbaik di dunia. Terlebih lagi dorongan moril yang selalu ia berikan.
Hari berganti dengan cepat, tibalah saatnya persiapan pesta pernikahan dan untuk mengarungi bahtera rumah tangga.Beberapa hari sebelum pesta pernikahan, calonnya pergi untuk menanyakan pengerjaan gaun pengantin yang masih berada di tempat si penjahit. Gaun tersebut masih tergantung di depan toko penjahit. Gaun tersebut mengandung makna kecantikan dan kelembutan. Tiada seorang pun yang tahu bagaimana perasaan Muha bila melihat gaun tersebut.
Pastilah hatinya berkepak bagaikan burung yang mengepakkan sayap putihnya mendekap langit dan memeluk ufuk nan luas. Ia pasti sangat bahagia bukan karena gaun itu, tetapi karena beberapa hari lagi ia akan memasuki hari yang terindah di dalam kehidupannya. Ia akan merasa ada ketenangan jiwa, kehidupan mulai tertawa untuknya dan ia melihat adanya kecerahan dalam kehidupan.
Bila gaun yang indah itu dipakai Muha, pasti akan membuat penampilannya laksana putri salju yang cantik jelita. Kecantikannya yang alami menjadikan diri semakin elok, anggun dan menawan.
Walau gaun tersebut terlihat indah, namun masih di perlukan sedikit perbaikan. Oleh karena itu gaun itu masih ditinggal di tempat si penjahit. Sang calon berniat akan mengambilnya besok. Si penjahit meminta keringanan dan berjanji akan menyelesaikannya tiga hari lagi. Tiga hari berlalu begitu cepat dan tibalah saatnya hari pernikahan, hari yang di nanti-nanti. Hari itu Muha bangun lebih cepat dan sebenarnya malam itu ia tidak tidur. Kegembiraan membuat matanya tak terpejam. Yaitu saat malam pengantin bersama seorang pemuda yang terbaik akhlaknya.
Si pemuda menelepon calon pengantinnya, Muha memberitahukan bahwa setengah jam lagi ia akan pergi ke tempat penjahit untuk mengambil gaun tersebut agar ia dapat mencobanya dan lebih meyakinkan bahwa gaun itu pantas untuknya. Pemuda itu pergi ke tempat penjahit dan mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi terdorong perasaan bahagia dan gembira akan acara tersebut yang merupakan peristiwa terpenting dan paling berharga bagi dirinya, demikian juga halnya bagi diri Muha.
Karena meluncur dengan kecepatan tinggi, mobil tersebut keluar dari badan jalan dan terbalik berkali-kali. Setelah itu mobil ambulans datang dan melarikannya ke rumah sakit. Namun kehendak Allah berada di atas segalanya, beberapa saat kemudian si pemuda pun meninggal dunia. Sementara telepon si penjahit berdering menanyakan tentang pemuda itu. Si penjahit mengabarkan bahwa sampai sekarang ia belum juga sampai ke rumah padahal sudah sangat terlambat.
Akhirnyai penjahit itu tiba di rumah calon pengantin wanita. Sekali pun begitu, pihak keluarga tidak mempermasalahkan sebab keterlambatannya membawa gaun itu. Mereka malah memintanya agar memberitahu si pemuda bahwa sakit Muha tiba-tiba kambuh dan sekarang sedang dilarikan ke rumah sakit. Kali ini sakitnya tidak memberi Muha banyak kesempatan. Tadinya sakit tersebut seakan masih berbelas kasih kepadanya, tidak ingin Muha merasa sakit. Sekarang rasa sakit itu benar-benar membuat derita dan kesengsaraan yang melebihi penderitaan yang ia rasakan sepanjang hidupnya yang pendek.
Beberapa menit kemudian datang berita kematian si pemuda di rumah sakit dan setelah itu datang pula berita meninggalnya sang calon pengantinnya, Muha.
Demikian kesedihan yang menimpa dua remaja, bunga-bunga telah layu dan mati, burung-burung berkicau sedih dan duka terhadap mereka. Malam yang diangan-angankan akan menjadi paling indah dan berkesan itu, berubah menjadi malam kesedihan dan ratapan, malam pupusnya kegembiraan.
Kini gaun pengantin itu masih tergantung di depan toko penjahit. Tiada yang memakai dan selamanya tidak akan ada yang memakainya. Seakan gaun itu bercerita tentang kisah sedih Muha. Setiap yang melihatnya pasti akan bertanya-tanya, siapa pemiliknya.?

Label: 0 komentar | | edit post
Share    Dalam kehidupan kita sehari-hari, kita percaya bahwa kebohongan akan membuat manusia terpuruk dalam penderitaan yang mendalam, tetapi kisah ini justru sebaliknya. Dengan adanya kebohongan ini, makna sesungguhnya dari kebohongan ini justru dapat membuka mata kita dan terbebas dari penderitaan, ibarat sebuah energi yang mampu mendorong mekarnya sekuntum bunga yang paling indah di dunia.
 Cerita bermula ketika aku masih kecil, aku terlahir sebagai seorang anak laki-laki di sebuah keluarga yang miskin. Bahkan untuk makan saja, seringkali kekurangan. Ketika makan, ibu sering memberikan porsi nasinya untukku. Sambil memindahkan nasi ke mangkukku, ibu berkata Makanlah nak, aku tidak lapar KEBOHONGAN IBU YANG PERTAMA
  Ketika saya mulai tumbuh dewasa, ibu yang gigih sering meluangkan waktu senggangnya untuk pergi memancing di kolam dekiat rumah, ibu berharap dari ikan hasil pancingan, ia bisa memberikan sedikit makanan bergizi untuk petumbuhan. Sepulang memancing, ibu memasak sup ikan yang segar dan mengundang selera. Sewaktu aku memakan sup ikan itu, ibu duduk disamping gw dan memakan sisa daging ikan yang masih menempel di tulang yang merupakan bekas sisa tulang ikan yang aku makan. Aku melihat ibu seperti itu, hati juga tersentuh, lalu menggunakan sumpitku dan memberikannya kepada ibuku. Tetapi ibu dengan cepat menolaknya, ia berkata :
   Makanlah nak, aku tidak suka makan ikan KEBOHONGAN IBU YANG KEDUA
Sekarang aku sudah masuk SMP, demi membiayai sekolah abang dan kakakku, ibu pergi ke koperasi untuk membawa sejumlah kotak korek api untuk ditempel, dan hasil tempelannya itu
membuahkan sedikit uang untuk menutupi kebutuhan hidup. Di kala musim dingin tiba, aku bangun dari tempat tidurku, melihat ibu masih bertumpu pada lilin kecil dan dengan gigihnya melanjutkan pekerjaannya menempel kotak korek api. Aku berkata :Ibu, tidurlah, udah malam, besok pagi ibu masih harus kerja." Ibu tersenyum dan berkata :
Cepatlah tidur nak, aku tidak capek  KEBOHONGAN IBU YANG KETIGA
   Ketika ujian tiba, ibu meminta cuti kerja supaya dapat menemaniku pergi ujian. Ketika hari sudah siang, terik matahari mulai ibu yang tegar dan gigih menunggu aku di bawah terik matahari selama beberapa jam. Ketika bunyi lonceng berbunyi, menandakan ujian sudah
selesai. Ibu dengan segera menyambutku dan menuangkan teh yang sudah disiapkan dalam botol yang dingin untukku. Teh yang begitu kental tidak dapat dibandingkan dengan kasih sayang yang jauh lebih kental. Melihat ibu yang dibanjiri peluh, aku segera memberikan gelasku untuk ibu sambil menyuruhnya minum. Ibu berkata :
   Minumlah nak, aku tidak haus! KEBOHONGAN IBU YANG KEEMPAT
Setelah kepergian ayah karena sakit, ibu yang malang harus merangkap sebagai ayah dan ibu. Dengan berpegang pada pekerjaan dia yang dulu, dia harus membiayai kebutuhan hidup sendiri.
Kehidupan keluarga kita pun semakin susah dan susah. Tiada hari tanpa penderitaan. Melihat
kondisi keluarga yang semakin parah, ada paman yang baik hati yang tinggal di dekat rumahku pun membantu ibuku baik masalah besar maupun masalah kecil. Tetangga yang ada di
sebelah rumah melihat kehidupan kita yang begitu sengsara, seringkali menasehati ibuku untuk
menikah lagi. Tetapi ibu yang memang keras kepala tidak mengindahkan nasehat mereka, ibu berkata :
Saya tidak butuh cinta  KEBOHONGAN IBU YANG KELIM.
   Setelah aku, kakakku dan abangku semuanya sudah tamat dari sekolah dan bekerja, ibu yang sudah tua sudah waktunya pensiun. Tetapi ibu tidak mau, ia rela untuk pergi ke pasar setiap pagi untuk jualan sedikit sayur untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Kakakku dan abangku yang bekerja di luar kota sering mengirimkan sedikit uang untuk membantu memenuhi kebutuhan ibu, tetapi ibu bersikukuh tidak mau menerima uang tersebut. Malahan mengirim balik uang tersebut. Ibu berkata :Saya punya duit  KEBOHONGAN IBU YANG KEENAM
   Setelah lulus dari S1, aku pun melanjutkan studi ke S2 dan kemudian memperoleh gelar master di sebuah universitas ternama di Amerika berkat sebuah beasiswa di sebuah perusahaan. Akhirnya aku pun bekerja di perusahaan itu. Dengan gaji yang lumayan tinggi, aku bermaksud
membawa ibuku untuk menikmati hidup di Amerika. Tetapi ibu yang baik hati, bermaksud tidak mau merepotkan anaknya, ia berkata kepadaku
Aku tidak terbiasa  KEBOHONGAN IBU YANG KETUJUH
   Setelah memasuki usianya yang tua, ibu terkena penyakit kanker lambung, harus dirawat di rumah sakit, aku yang berada jauh di seberang samudra atlantik langsung segera pulang untuk menjenguk ibunda tercinta. Aku melihat ibu yang terbaring lemah di ranjangnya setelah menjalani operasi. Ibu yang keliatan sangat tua, menatap aku dengan penuh kerinduan. Walaupun senyum yang tersebar di wajahnya terkesan agak kaku karena sakit yang ditahannya. Terlihat dengan jelas betapa penyakit itu menjamahi tubuh ibuku sehingga ibuku terlihat lemah dan kurus kering. Aku sambil menatap ibuku sambil berlinang air mata. Hatiku perih, sakit sekali melihat ibuku dalam kondisi ini. Tetapi ibu dengan tegarnya berkata :Jangan menangis anakku,Aku tidak kesakitan KEBOHONGAN IBU YANG KEDELAPAN
.  Setelah mengucapkan kebohongannya yang kedelapan, ibuku tercinta menutup matanya untuk yang terakhir kalinya.dari cerita di atas, saya percaya teman-teman sekalian pasti merasa tersentuh dan ingin sekali mengucapkan : " Terima kasih ibu !Coba dipikir-pikir teman, sudah berapa lamakah kita tidak menelepon ayah ibu kita? Sudah berapa lamakah kita tidak menghabiskan waktu kita untuk berbincang dengan ayah ibu kita? Di tengah- tengah aktivitas kita yang padat ini, kita selalu mempunyai beribu- alasan untuk
meninggalkan ayah ibu kita yang kesepian. Kita selalu lupa akan dan ibu yang ada di rumah.
Jika dibandingkan dengan pacar kita, kita pasti lebih peduli dengan pacar kita. Buktinya, kita selalu cemas akan kabar pacar kita, cemas apakah dia sudah makan atau belum, cemas
apakah dia bahagia bila di samping kita.Namun, apakah kita semua pernah mencemaskan kabar dari ortu kita? Cemas apakah ortu kita sudah makan atau belum? Cemas apakah ortu kita sudah bahagia atau belum? Apakah ini benar? Kalau ya, coba kita renungkan kembali lagi..Di waktu kita masih mempunyai kesempatan untuk membalas budi ortu kita, lakukanlah yang terbaik. Jangan sampai ada kata  MENYESAL" kemudian hari



Label: 0 komentar | | edit post
Share   Bagai katak di ujung tanduk. Itu adalah keadaanku sekarang.  Berjuta pikiran melayang dalam angan tanpa bayang. Antara racun, obat,  caci maki, dan duri-duri tajam yang menyerang. Entah kapan ini akan  berakhir. Atau akankah memang bisa berakhir. Tapi mungkin saja akan  segera berakhir jika aku mengakhirinya sekarang. Haruskah ada strategi  utama dan paling berbahaya? Sungguh, hari panjang yang melelahkan. Aku  harus memutuskan satu hal yang akan merubah seluruh kehidupan. Hari ini  ulang tahunku ke-13. Tapi siapa peduli. Jangankan kado, ucapan selamat  saja tertutup rapat dari mulut orang-orang yang mengenalku. Bukan hal  aneh bila itu terjadi. Mana ada orang dengan ikhlas memberikan hadiah,  meski sebenarnya sangat kuharapakan, begitu saja melemparkannya ke  arahku. ”Anak cacat tak pantas mendapatkannya ”, bisa jadi mereka akan  mengatakan itu.
 Lagi-lagi suara menggelegar, ”To, mbok ya ngamen sana! Cari duit yang banyak! Jangan jadi anak males!”
 Seperti biasa sambil membawa sapu lidi, ibu menakutiku, mungkin juga  siap memukulku jika aku membantah. Bahkan, untuk menatapnya saja aku  malas. Malas karena bosan dengan segala ocehan yang menyurutkan setiap  langkahku.
”Iya Bu, tapi  aku lagi cape. Tadi kan habis potong kayu.”
”Eh… ga usah alesan.”

Kalau sudah begini aku, suasana rumah seperti kayu yang sedang  dibakar. Panas. Hingga penghuninya ingin keluar mencari angin. Tentu  saja angin segar.
”Bu, saya bener-bener cape.”
”Kamu tu ya, disuruh gitu aja ngga mau.”
”Bu, kapan Ibu ngerti keadaanku.”
”Dah ga usah jadi anak manja. Mau pergi ngga!” Ibu mengangkat sapu dengan tatapan penuh amarah.
Tak pantas aku menyebutnya Nenek Lampir. Bagaimanapun dia seorang  wanita yang telah rela mengadungku sembilan bulan, melahirkanku dengan  bertaruh nyawa, dan kini harus membesarkan anak cacat.
”Kenapa kalo Adi atau Tani yang sakit, Ibu pasti cemas. Ibu akan  pergi ke warung cari obat. Tapi kalo aku yang sakit, jangankan tanya  kenapa, malah ngomel-ngomel ngga dapet uang. Bukannya aku juga anak  Ibu.”
”Mau kamu tu apa ? Hidup kita itu lagi susah. Apalagi kamu kayak  gini. Emang apa kata orang nanti. Udah miskin, punya anak cacat lagi.”
” Jadi ibu nyesel punya anak sepertiku.”

”Mana ayahmu yang penggangguran itu. Dia ngga pernah datang.”
Aku menunduk sejenak. Apa yang dikatakan Ibu memang benar. Ayah tidak  peduli lagi denganku. Semua tampak asing. Mereka orang tuaku, tapi  nampak makhluk dari planet lain.
”Ya, aku ngerti semuanya sekarang. Aku pergi!”
Aku  berlalu meninggalkan Ibu yang masih mengangkat sapu. Ingin  sekali aku berlari sekencang kilat. Tapi apa dayaku. Aku hanya punya  satu kaki. Akibat kecelakaan itu. Ketika aku berlari karena dimarahi  ibu, aku tertabrak mobil. Kaki kiriku diamputasi. Kini, hanya tongkat  kecil sebagai teman membantuku berjalan. Melangkah, menapaki setiap  kehidupan.
Teriakan ibu membuatku berpikir lebih dalam tentang arti hidup. Aku  pernah melihat jurang sedalam tiga ratus meter. Begitu mengerikan, tapi  lebih mengerikan lagi di dalam rumah. Dengan gitar kecil pemberian  sahabatku, Eri, sebelum ia pergi melanjutkan sekolah di tanah  kelahirannya, Bukittinggi, Sumatra Barat, aku menjadi pengamen remaja  yang malang. Anak cacat yang tak pernah diurus orang tuanya.
” Oh….kapan teriakan itu terhenti. Akankah Ibu sadar bahwa aku butuh  kasih sayang bukan makian atau perintah setiap hari. Bukan aku benci  Ibu, hanya saja aku sadar Ibu tak suka padaku. Kecacatanku ini terlalu  membuat Ibu susah,” pikirku.
Aku menelusuri jalan-jalan. Menerobos keramaian kota Yogyakarta.  Dengan lagak pengamen, aku bernyanyi lagu tentang keceriaan seorang anak  bersama orang tuanya. Aneh, semua lagu bertemakan dunia bahagia.  Sedangkan keadaanku sebaliknya. Ini bukan pekerjaan. Tapi derita  keseharian. Lihat saja penampilanku. Baju kumal yang jarang dicuci.  Kalau pun sampai dicuci, tidak dengan air kran atau air sumur. Air  sungai keruh telah menjadi tempat laundry bagiku dan  teman-teman seperjuangan. Memang bajuku dicuci, tapi malah semakin kumal  akibat lumpur sungai yang melekat menutupi pori-pori kain. Lain lagi  dengan tubuhku. Badan kurus kering bagaikan anak kekurangan gizi. Tak  khayal, banyak julukan untukku akibat bentuk tubuh ini. Kadang  teman-teman memanggilku Cungkring, Garing, atau Krempeng. Aku menerima  saja. Kalau dibilang marah. Aku sungguh terhina dengan julukan itu. Akan  tetapi, jika dilihat dari keadaanku, memang  begitu keadaannya.
Temanku banyak mengamen di bus-bus yang lewat. Berbeda denganku. Aku  hanya keliling sehingga uang yang kudapat lebih sedikit. Bagaimana  mungkin aku akan naik bus. Berjalan saja sudah sulit apalagi pakai  tangga segala. Aku tahu pasti ada orang yang membantu. Tapi apakah kita  harus selamanya bergantung pada pertolongan orang lain. Padahal, kita  masih sanggup mengerjakannya sendiri. Sepreman-premannya orang pasti  mereka punya rasa kemanusiaan bagi sesama. Apalagi untuk anak sepertiku.
Tibalah aku di depan rumah mewah. Menyanyi semerdu mungkin agar orang  yang mendengarnya merasakan apa yang ingin kusampaikan. Meski  sebenarnya lagu itu hanya untuk menyemangati hidupku yang sedang galau.
Hidupmu indah bila kau tahu, jalan mana yang bena2ar harapan ada harapan ada bila kau percaya

Seorang pembantu rumah tangga yang sudah kukenal, keluar lewat  samping rumah. Ia memberiku dua keping lima ratusan dan sebungkus nasi.
”Terima kasih, Bi”
”Iya, Bibi tahu kamu belum makan. Cuma ada tempe sama sambal.”
”Ini sudah lebih dari cukup, Bi. Dari baunya saja, hemmm…….. pasti lezat. Ya udah Bi, saya pergi dulu.”
”Hati-hati. Jaga kesehatan. Kalau kamu lapar, bilang saja ke Bibi.”
”Ya Bi. Assalamu’alaikum.”
”Wa’alaikumusssalam.”
Aku jadi bahagia setelah bertemu Bi Minah. Bukan karena  aku dapat uang dan makanan, tapi aku bisa bertemu dengan orang yang  sangat menyayangiku. Bi Minah punya tiga anak di desa. Semuanya sudah  bekerja sebagai buruh pabrik. Saat teristimewa baginya adalah berkumpul  dengan semua anggota keluarga. Namun malangnya, ia harus berjuang  sendiri setelah suaminya meninggal akibat kecelakaan tujuh tahun yang  lalu ketika mengantarkan Bi Minah ke pasar. Peristiwa itu selamanya tak  bisa dilupakan. Sama halnya dengan kejadianku saat itu. Bedanya, Tuhan  masih memberiku kesempatan untuk tetap hidup.Walau kaki kiriku harus  diamputasi. Makanya, Bi Minah sangat sayang padaku.

Sambil makan, aku mengkhayal tentang dunia impian. Menjelajahi naluri  seorang manusia. Berimajinasi setinggi mungkin. Adakalanya, mimpiku  terlampau tinggi. Ini membuatku tersenyum sesaat. Lalu kembali ke dunia  nyata. Aku sadar bahwa itu bukan duniaku sekarang.
”Seandainya ibuku mengerti persaanku, pasti aku akan betah tinggal di  rumah. Sekolah, bukan ngamen. Cukup belajar dan belajar,” khayalku  mulai bergerak cepat.
Tiba-tiba, ”Wei, To, dari mana aja lu! Dapet duwit berape? Wah, makan siang nih!” kata Olen, membuyarkan semua lamunanku.
Khayalanku hilang seketika. Gertakan Olen membuat suasana sepi  menjadi ramai. Olen langsung saja menyantap makanan. Ia memang seperti  itu. Walau kelakuannya kadang kurang mengenakkan, tetapi hatinya sangat  mulia. Apalagi dengan temannya yang sedang tertimpa musibah. Jika ia  seorang prajurit, pasti ia sudah berada di barisan paling depan. Dia  berbeda nasib denganku. Hubungan dengan orang tuanya sangat dekat.  Sekarang Olen berumur 18 tahun. Ia duduk di kelas 2 SMA Nusa Bakti. Olen  mengamen hanya untuk bermain. Sedangkan bagiku, mengamen adalah mata  pencaharian.  Kalau sedang malas ngamen, aku jualan koran atau jadi  tukang bersih kaca mobil di jalan.
” Dari Bi Minah lagi. Besok minta dua ya? ” kata Olen.
”Ah lu, malu dong. Dikasih aja ngga enak, apalagi minta. Bi Minah kan juga susah kayak kita. Nih buat lu aja, gue dah kenyang.”
”Beneran ? Gue makan ya.”
”Yoi!”
Tanpa cuci tangan, Olen langsung menyantap semua makanan. Tak peduli  ada kotoran atau tidak yang menempel. Padahal, ia selalu bermain di  jalanan. Entah berapa kali ia sakit perut gara-gara ulahnya ini. Walau  mulutnya penuh dengan nasi, tetap saja ia menyempatkan diri untuk  ngobrol.

”Lu lom jawab pertanyaan gue. Dapet berapa jute gini hari?”
”Dikit, nih cuma lima ribu.”
Tangan Olen menyodorkan uang lima ribu untukku. Kebisaannya ini  paling kubenci. Aku tahu, aku memang sangat butuh uang, tapi tidak  mungkin aku tega mengambil hasil jerih payahnya seharian.
”Buat lu.”
”Apaan ni. Ngga usah.”
”Gue marah ni kalo lu ngga mau.”
”Len, lu lebih butuh ini buat sekolah.”
    ”Bokap gue ngga bakalan buat gue kelaperan.”
”Ah masa. Ko makannya lahap gitu. Jangan-jangan lu ngga dikasih makan ama ortu lu.”
”Sapa bilang? Gue emang lom makan tadi pagi. Tapi bukan karna gue  ngga dikasih makan. Gue tadi bangun kesiangan jadi ngga sempet sarapan.”
”Trus napa ngga langsung pulang? Malah ikut ngamen segala.”
”Buat ketemu elu-elu pade. Emang ngga kangen, kalo gue ngga ada.”
”Kangen ama nenek moyang lo!”
”Ni ambil !” Olen menyodorka uang lima ribu ke arahku.
”Lain kali aja Len , kalo gue butuh uang. Lu tabung aja dulu.”
”Ya udah deh. Gue ngga maksa. Tapi kalo lu butuh, ngomong gue aja ye.”
“Okelah. Wei, dah sore, gue cabut dulu ya.”
“Hati-hati.”
”Da…”Aku pun meninggalkan Olen yang masih makan. Sebenarnya  aku ingin menceritakan masalahku dengannnya. Namun, aku berusaha hidup  lebih dewasa dalam masalahku sendiri. Tak tahu kapan badai ini surut.  Aku hanya yakin, aku bisa hadapi semua.

Rumahku cukup mungil. Kami tinggal berlima. Ibu, dua adik, dan ayah  tiriku. Saat aku berumur 7 tahun. Ibu minta cerai dari ayah kandungku.  Alasannya karena Ayah sering mabuk dan main judi. Utangnya pun melimpah.  Akhirnya Ibu minta cerai. Setelah itu, jarang sekali Ayah  mengunjungiku. Tidak pernah tanya kabar. Apalagi saat kecelakaan, Ayah  seperti menghilang. Aku sempat menanyakan keberadaan Ayah pada beberapa  anggota keluarga. Namun, mereka tidak ada yang tahu  Benarkah Ayah tak  mau lagi melihatku. Apakah ia sangat menyesal dengan kondisiku yang  cacat. Mungkin aku memang memalukan.
Aku pulang dengan berjuta perasaan. Antara marah, lelah, dan lapar.  Semua membuatku tak nyaman masuk rumah. Apalagi kalau Ibu marah lagi.
” Mana uangnya ?” tanya Ibu saat aku baru tiba di depan pintu.
” Ini,” kataku sambil mengeluarkan uang dari saku.
”Segini!”
” Aku cape, Bu.”
”Bilang aja males. Ngga usah buat alesan.”
”Masa cuma lima ribu. Jatah makan  siang kamu terpaksa diundur jadi makan malem.”
Tanpa pikir panjang aku segera masuk kamar. Ruangan kecil ukuran 3  meter x 3 meter. Dulu kamarku ini adalah gudang. Setelah Adi dan Tani,  adik tiriku semakin besar, kamarku diberikan untuk mereka sehingga aku  harus membersihkan gudang sebelum menempatinya menjadi kamar. Atapnya  berlubanng dengan diameter dua sepuluh centimeter. Makanya, kalau hujan  aku harus siapkan ember. Lantainya beralaskan tikar bambu. Tanpa bantal  dan selimut. Hanya sarung robek yang setia melindungiku dari dingin  sekaligus kain untuk solat walaupun itu jarang kulakukan. Bukan karena  aku tidak mau mengerjakan perintah Tuhan. Aku sadar Tuhan pasti selalu  melihatku. Akan tetapi, aku tidak tahu bagaimana caranya solat apalagi  baca Al Quran yang benar. Orang tuaku belum pernah mengajari. Aku  belajar agama dari buku-buku bekas di pasar loakan, kertas-kertas yang  beterbangan di jalan atau tanya teman yang lebih pintar.

Pintu kututup rapat-rapat. Lalu tidur dengan mata terbuka dan perut  keroncongan. Aku mencoba mencari cara untuk lepas dari teriakan ibu.  Bagaimanapun juga aku adalah anaknya, bukan musuhnya. Ya, meskipun Ibu  telah mempunyai anak dari laki-laki lain yang telah menjadi ayah tiriku.  Ayah baruku ini sama dengan Ibu. Bahkan lebih ganas. Penderitaanku  bertambah karena Adi dan Tani sangat manja. Mereka selalu minta  barang-barang mewah. Hidup boros layaknya orang kaya yang serba ada.  Padahal, ayah tiriku hanya supir angkot. Aku pernah minta uang padanya.  Dan itu untuk pertama sekaligus terakhir. Karena ia marah-marah.  Katanya, aku hanya bisa menyusahkan orang saja. Perkataannya itu membuat  ceriaku luluh lantak. Hentakan hebat berhasil merobohkan tiang-tiang  ketegaranku. Sejak saat itu, aku tak lagi minta uang. Aku berusaha  mencari pekerjaan. Tapi untuk seorang anak cacat sepertiku, adakah  pekerjaan yang bisa kulakukan layaknya orang normal? Hanya mengamen yang  ada dalam otak. Meski hasilnya tidak seberapa, aku masih punya banyak  teman yang bisa membantu. Betapa tersiksa dengan keadaanku sekarang.  Hidup satu rumah bersama monster-monster yang setiap saat bisa  mematahkan sel-sel tubuh tawamu.
Jam dinding menunnjukkan pukul 9 malam
”Prakk..!” Ibu membuka pintu kamar dengan keras.
” Ni jatahmu! Habis makan cuci semua alat dapur yang masih kotor.”

Lo kok aku lagi.”
”Kamu mau  dipukul, ha !”
”Iya Bu.” Tiga detik. Aku menyesal mengatakan itu.
”Ingat harus bersih. Jangan sampe sabun berceceran kayak kemaren.”
Aku cemberut. Marah. Kesalnya bukan main.

”Mau dipukul lagi!”
”Ya. Pukul aja. Aku dah kebal dengan pukulan itu. Ngga mempan!”
”Dasar anak kurang ajar! Pokoknya kalo nanti belum bersih semua, kamu tahu akibatnya,” ancam Ibu.
Keadaan ini membuat hidupku seakan tak berharga. Ibu pergi  meninggalkan aku yang masih pusing. Tak ada senyum.Yang ada hanya wajah  penuh geram. Aku duduk di pojok kamar. Nasi itu tak sempat kusentuh.  Pikiranku menjurus satu cara.
”Aku harus pergi sekarang. Ngga mungkin aku hidup seperti ini selamanya. Jalanku masih panjang.”
Kuputuskan untuk pergi. Semua baju aku masukan dalam sarung, lalu  kuikat keempat sudutnya. Aku melihat situasi. Suasana sepi. Kamarku  memang terletak paling belakang. Itulah kenapa walaupun aku berteriak  belum tentu mereka dengar. Orang-orang sedang nonton TV. Aku keluar  lewat jendela dapur. Bebaslah jiwa dari penjara kegelapan. Dunia  tersenyum bangga padaku.
”Selamat datang kebebasan. Benar apa kata Soekarno bahwa cintailah  perdamaian tapi lebih cintailah kemerdekaan. Aku tahu ini pilihan hidup  yang sangat sulit. Namun, aku rasa masih banyak orang-orang yang lebih  suram hidupnya daripada aku.”
<p>Jam dinding selalu kubawa kalau pergi jauh. Walau anak jalanan tapi  aku kenal waktu. Setiap detik hidup harus bernilai bagiku. Hidup hanya  sekali. Tak peduli apa kata orang tentangku. Aku harus tetap  melangkahkan kaki. Mungkin saat ini aku gagal dalam mencari kebahagiaan.  Namun, tidak untuk besok karena aku  yakin bahagia akan datang  menghampiri. Aku akan memenangkan pertempuran ini.
Hari mulai cerah. Secerah senyum yang kupaparkan pada dunia. Tidur di  pinggir jalanan ternyata tidak enak. Selain banyak nyamuk.Udara dingin  membuatku sakit kepala. Setelah mencuci muka di sungai, aku melanjutkan  perjalanan. Sampai di sebuah masjid aku disambut seorang kakek  berjenggot putih. Walau sudah tua, senyumnya seperti masih muda. Ia  heran melihat kedatanganku, dan bertanya;
"dari mana nak , dan mau kemana?"
”Saya dari sana,” tanganku menunjuk arahku datang.
”Sekarang masih jam 3 pagi, di mana rumahmu? Sepertinya kamu bukan anak sini,” Kakek melirik jam dinding yang kubawa.
”Saya….saya dari sana,” tanganku kembali menunjuk arah yang sama.
”Dari sana? Sananya mana ?”
”Anu, saya….saya sendiri Kek.”
Akhirnya kami duduk di mimbar masjid. Serangkaian kisahku terukir.  Kakek itu terlihat sangat antusias mendengarkan ceritaku. Beberapa kali  ia bertanya. Aneh, meski baru kenal kami sudah sangat akrab. Ia jelmaan  orang yang selama ini aku tunggu. Orang yang bersedia mendengarkan keluh  kesah hidupku. Tak pernah kutemui orang seperti kakek ini. Begitu bijak  ia memberi nasehat.
”Siapa namamu?”
”Saya Toto Iskandar.”

”Lalu apa yang akan kau lakukan sekarang ?” tanya Kakek.
”Aku tidak mau menjadi air yang mengalir. Aku ingin menjadi arus.  Hidup dengan kemauan sendiri. Tanpa paksaan. Tanpa teriakan orang-orang  yang menyuruhku ini itu. Bolehkah aku bertanya Kek, apa arti hidup itu?”
”Hidup. Hidup adalah tentang bagaimana kita menghargai pemberian  orang lain, mencintai apa yang menjadi milik kita, proses bagaimana kita  menyelesaikan tugas di dunia, mencari bekal untuk nanti di akhirat,  menerbangkan imajinasi kita untuk terus berkarya, dan masih banyak arti  hidup yang lain. Semua itu akan kau temukan ketika kau menjalani  kehidupan. Jangan biarkan dirimu dipermainkan oleh hidup, tapi kau harus  bisa merasakan hidup.”
”Lalu apa itu bahagia ?”
”Kakek rasa, kau pernah merasakannya. Bahagia. Sulit dijelaskan.  Bahagia akan datang karena kau merasa bahwa sekaya-kayanya,  semiskin-miskinnya, sesukses-suksesnya, sehancur-hancurnya,  sebodoh-bodohnya, sehebat-hebatnya orang itu, mereka MEMERLUKANMU.”
Aku mencoba menyerap ucapannya. Meski bingung, aku mulai mengerti.
” Terima kasih atas jawaban Kakek.”
”Lebih baik kamu pulang dulu dan selesaikan masalahmu dengan Ibu. Atau perlu Kakek bantu.”
”Tidak usah Kek. Mungkin saya bisa sendiri.”

”Kamu yakin ?”
Aku mengangguk. Anggukanku itu penuh tanda tanya. Apakah aku bisa hadapi semua sendiri atau tidak
”Kalo begitu, ayo solat sama Kakek!”
”Saya belum hafal doanya, Kek. Lagi pula saya tidak tahu bagaimana caranya solat yang benar. ”
”Solat tahajud namanya. Tidak apa-apa, kamu sering-sering saja ke  sini. Nanti Kakek ajarin. Kamu boleh menggunakan bahasa apa pun yang  kamu bisa. Tuhan Maha Mendengar.”
Sebelum masuk masjid aku berkata, ”Kakek, aku punya dua permintaan.”
”Apa itu?” langkah Kakek terhenti.

”Bolehkah aku memeluk Kakek? Aku tidak punya Kakek selama ini.”
”Tentu, kau juga akan punya banyak Kakek suatu hari nanti.”
Aku segera memeluknya. Merasakan kedamaian yang selama ini belum aku temukan. Kasih sayang.
Inikah bahagia itu Tuhan? Aku berhasil menemukannya. Aku telah menang
Kupeluk kakek itu sangat erat. Tak ingin aku melepaskannya. Hingga tangisku pun meledak.
”Lalu apa permintaanmu yang kedua ?” tanya Kakek sambil membalas pelukanku.
”Bolehkah aku tinggal sehari saja di rumah Kakek.”
Aku melepaskan pelukannya untuk menatap mata yang sudah keriput.

”Iya, kamu boleh tinggal bersama Kakek kapanpun yang kamu mau.”
Banjir bandang meluap. Membasahi pipi. Kupeluk lagi tubuh yang sudah  renta itu dengan sangat erat. Erat sekali. Kemudian Kakek mengusap  rambutku. Seandainya tadi aku keramas pakai sampo, pasti aku takkan malu  karena rambutku yang berminyak dan bau ini. Tangan yang selalu  kurindukan. Kedamaian terus mengalir dalam kalbu. Laksana tanah gersang  yang tersiram air hujan. Termasuk amarahku pada Ibu. Tak ingin aku  berpisah darinya. Ternyata Tuhan masih menyayangiku meski aku semakin  jauh dari-Nya.
Kami pun masuk masjid. Mengambil air wudhu dan solat bersama. Kakek  mengajariku banyak hal. Ilmu yang selama ini belum pernah aku dapatkan,  dalam waktu singkat telah berada di dekatku. Aku sangat bersyukur. Ini  adalah keajaiban Tuhan untukku. Aku memang cacat. Namun, di balik  kekuranganku, ada banyak kebahagiaan yang jauh lebih berharga. Mengapa  selama ini aku selalu mengeluh? Betapa bodohnya aku. Ini bukan Toto  Iskandar. Aku harus berubah. Aku masih punya kaki satu untuk berjalan,  mata untuk melihat, telinga untuk mendengar, dan kedua tangan ini masih  bisa kugerakkan.
<p>Selama dua hari di rumah Kakek, aku sangat senang. Aku pun tahu kalau  nama kakek itu adalah Kakek Soleh. Kakek pernah bercerita bahwa sebelum  istrinya meninggal, ia berpesan jika suatu hari Kakek bertemu dengan  orang yang sedang susah, ia harus sebisa mungkin membantunya. Karena  ingat pesan itulah, Kakek berusaha membantuku. Kakek punya dua anak  perempuan. Karena sudah menikah, mereka hidup bersama keluarga sang  suami. Kakek juga pernah diajak untuk ikut, tapi ia tidak mau sebab  baginya rumah ini adalah tempat terindah. Banyak kenangan manis yang  harus ia jaga. Sebisa mungkin aku berusaha membantu Kakek. Pergi ke  ladang. Mencabuti rumput dan menanam palawija. Hasil panennya sebagian  dijual untuk membiayai hidup. Kakek juga sering membuat makanan kecil  seperti singkong rebus dan lalaban untuk dibawa ke masjid. Biasanya saat  kajian rutin. Aku belajar bagaimana ia menjalani hidup.
<p>Lima hari yang indah itu akan menjadi pengalamanku paling berharga.  Setelah berpamitan dengan kakek, aku memutuskan untuk pulang. Kembali ke  rumah yang dulu kuanggap neraka. Entah kekuatan apa yang mendorongku ke  sana. Tiba di gang menuju rumah, aku tampak ragu. Aku ingat bagaimana  Ibu menungguku di pintu sambil berdiri dan bersiap memarahi. Kutarik  nafas dalam-dalam. Lalu kukeluarkan perlahan. Tekad bulat masih tetap  kokoh. Langkahku maju. Ingin aku membuka pintu yang telah lama  kutinggalkan. Pintu yang sering Ibu pukul-pukul saat marah. Dengan  perasaan was-was aku menapaki setiap turbin halaman rumah. Suasana sepi.  Tiba-tiba ada tiga orang tetangga keluar dari dalam. Terlihat juga Adi  dan Tani yang sedang merapikan baju yang keluar dari tas yang dibawa  mereka. Aku langsung mendekati mereka menanyakan apa yang sebenarnya  terjadi.
”Eh, ada apa, Di?”
”Elu To. Masih inget rumah ini juga.”
”Ibu jatuh dari tangga. Dan sekarang ada di rumah sakit.”
”Apa ! Ibu…….. Aku ikut kalian.”

”Terserahlah, ikut juga boleh asal ngga nyusahin aja,” jawab Tani.
Aku tahu mereka tak menyukaiku sejak dulu. Hal itu wajar karena  memang aku bukan kakak kandung mereka. Meski begitu, sebagai kakak aku  tetap mecoba bersabar. Menunggu saat mereka mau memanggilku ” Kakak”.
Sampai di rumah sakit kulihat Ibu yang terbaring lemah. Wajahnya  pucat. Matanya tertutup rapat. Ayah, Adi, Tani, dan beberapa tetangga  menatapku. Arah pandangan penuh keheranan dan kebencian. Namun, aku tak  peduli dengan reaksi itu. Yang kupedulikan hanya keadaan Ibu sekarang.
”Ibu, maaf. Memang anak durhaka sepertiku ini, tidak pantas untukmu. Tapi asal Ibu tahu, aku sangat menyayangi Ibu.”
Senyumku melebar. Ternyata Ibu membuka mata. Ada suara kecil. Kudekati.
Aku mendengar ia bercerita, ”To, kamu harus tahu, kalau…..kalau  sebenarnya, kamu bukan anak kandung Ibu. Dulu ayahmu pernah menikah  dengan wanita lain. Lalu ibumu pergi meninggalkan kalian karena ayahmu  bangkrut. Saat itu, kamu baru berumur enam bulan. Dan akhirnya…..ayahmu  menikah lagi dengan Ibu.
”Apa. Apa ini. Lelucon seperti apa yang baru aku dengar barusan.”
Kalimat ibu terhenti karena oleh iask tangis. Aku pun larut dalam nuansa yang sama. Ibu juga tampak menahan rasa sakit.
”Betulkah cerita ini?” Hatiku mulai bimbang.
”Ibu juga sayang kamu. Maafkan kesalahan Ibu ya,” Ibu melanjutkan ucapannya
”Ibu, kau tetap Ibuku.”
Menangis. Menangis lagi. Kenapa Ibu terlalu banyak menangis. Air matanya semakin deras. Lalu segera kupeluk Ibu.
Jantungku terasa berhenti berdetak. Petir yang menyambar membuatku  sejenak tak sadar bahwa aku masih hidup. Apa yang terjadi? Aku tak paham  satupun. Atau aku sudah sangat paham. Sekarang aku tahu mengapa Ibu  lebih sayang Adi dan Tani yang merupakan anak kandungnya sendiri.

Tiba-tiba Ibu berteriak kesakitan. Orang-orang di sekitarku panik.  Tak tahan dengan keadaan ini, aku keluar menuju ruangan dokter dengan  susah payah karena kakiku yang cacat.
”Dokter! Tolong ibuku!” teriakku sambil berlari kencang.
Walau hanya dengan sebuah tongkat, tapi benda ini sangat membantuku  berlari semakin kencang. Beberapa kali aku jatuh, tetapi kembali  berdiri. Seluruh orang di rumah sakit ikut panik. Aku langsung menarik  tangan seorang dokter yang baru kulihat.
”Ada apa ini. Tunggu dulu!”
”Cepat Dok!”
Tanpa peduli permintaanya aku tarik kuat-kuat tangan itu.
”Tolong Ibu, kumohon,” kataku sambil terus berlari menuju kamar ibu terbaring.
Betapa kagetnya aku. Tubuh Ibu telah tertutup kain putih. Semua orang di sekitarnya menangis.
”Tuhan, kenapa Kau ambil ibuku sekarang.”

Dunia tampak gelap. Aku pun jatuh dan tak tahu apa yang terajadi selanjutnya
Pemakaman berlangsung lambat. Selambat langkahku meninggalkan makam  yang masih merah itu. Tak ada keceriaan lagi. Aku kehilangan semua.  Lemas. Terlalu sakit untuk menyadari bahwa Ibu telah menghilang. Dia  pergi ke dunia asing. Tapi, suatu hari nanti aku juga akan ke sana.  Dunia abadi yang sebenarnya. Akhirnya aku kembali ke rumah Kakek.  Tinggal bersama orang yang menyayangiku. Mencari ilmu setinggi-tingginya  tentang arti hidup.
Label: 0 komentar | | edit post
Album @94 SMA PAPA

Alumni SMAN @ 94 Padang Panjang

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...