Tampilkan postingan dengan label CAMPURAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CAMPURAN. Tampilkan semua postingan
Share
Ya,reuni identik dengan acara kumpul-kumpul dan bergosip.Bagi sebagian besar orang,reuni adalah sesuatu yang ditunggu-tunggu dan menyenangkan.Bisa jadi itu reuni TK,SD,SMP,SMA,universitas dan mantan copet.Tapi tahukah anda jika tidak semua reuni itu menyenangkan bagi orang-orang tertentu.
1.Ketemu mantan
Untuk sebagian orang,ketemu mantan adalah momen biasa.Tapi sebagian lain itu malah menimbulkan depresi dan sakit perus akut.Entah kenapa ketemu mantan diacara reunian dijadikan alasan untuk tidak hadir.Sebagian mungkin takut diolok-olok atau mendadak jadi badut, saat kisah asmaranya diungkit-ungkit didepan khalayak ramai.Atau dulu mungkin selama 3 tahun di SMA makan bakso selalu minta dibayarin mantan.
2.Pamer kekayaan
Terus terang ini hal menyebalkan yang saya alami saat reuni.Banyak yang bilang saya sok cool saat reuni karena saya menjelma jadi orang yang pendiam.Padahal saya merasa tidak pantas ikut dalam percakapan adu kekayaan tersebut.(baca : pengangguran)
Contoh :
A : ” guys! gue mau ganti mobil nih!
B : “mmmhh gue juga nih”
C : Gue juga!
D : Gue juga!
E : Gue juga!
F : Gue juga!
Saya : Gue pulang ya!!
A : “Anjirr!! gue bingung gimana cara ngabisin duit nih..”
B : “pake buat berenang aja bro,gue biasanya gitu” (mandi dikolam duit)
C : “Gue makan malam di Texas trus sarapan di London”.
Saya :  diam-diam keluar menuju kantor KPK
Tidak salah untuk berbagi cerita sukses.Tapi jangan terlalu over dan terkesan pamer kekayaan.Tidak semua orang yang ikut reunian itu sukses.Reuni akan menyenangkan jika membahas masa-masa lalu saat kita semua masih terkumpul bersama.
3.Amnesia Akut
Ini adalah tipe teman durhaka.Ketika sukses dia akan mengalami amnesia akut terhadap anda yang masih pengangguran.Ini saya alami dibeberapa kesempatan.Dulu persahabatan kami seperti kepompong.Sekarang seperti lontong yang sudah basi.Kalau ditanya dia akan membuat 1001 alasan.”Ehh sorry gue lupa,dulu muka loe jelek sekarang lebih jelek.. sorry ya.. beneran lupa tadi.”
4.Membangkitkan Trauma
Ini khusus buat anda yang semasa dulu sering dipalakin gank garis keras disekolah.Reuni akan memutar memori kelam anda ke peradaban gelap dan hitam.Terbayang lagi saat uang jajan anda berpindah saku atau saat anda terkapar diselokan dengan luka lecet menganga hanya karena lupa permisi lewat didepan anggota gank tengkorak.
Share
“Ra, hari minggu jangan sampai nggak datang ya. Ada si Culun lho. Penasaran kan mau tahu kayak apa dia sekarang” sms dari teman SMA ku pagi ini. Mengingatkan bahwa hari minggu besok bakal ada kegiatan reuni dengan teman-teman satu kelas. Siapa si culun? Haha dia adalah teman satu kelas yang selalu duduk di bangku paling depan, berhadapan dengan meja guru. Teman yang selalu rajin datang pagi, rajin mengerjakan PR hingga sering jadi rujukan contekan teman-teman satu kelas. Teman yang selalu saja sibuk membaca buku ditempat duduknya padahal sedang jam istirahat. Teman yang selalu menunduk dan menjawab dengan suara pelan sambil memainkan bolpen dengan jemari tangannya setiap kali ada teman wanita mengajaknya bicara.
Setiap bulan syawal, aku pasti akan mendapatkan banyak undangan reuni. Teman-teman SMP, SMA, kuliah. Bahkan juga teman-teman satu kost. Aku tak selalu bisa datang, bahkan kini malas untuk datang. Udah jauh posisinya dan punya buntut sih.
Jaman SMA, masa libur lebaran pasti ngumpul dengan teman-teman SMP. Bersepeda keliling kampung, kelurahan bahkan kecamatan. Singgah di rumah teman satu kelas dulu sekaligus menjemputnya diajak ikut keliling. Setiap singgah tak ketinggalan ada acara makan minum, bahkan manjat pohon mangga kalau lagi musim mangga. Acara keliling diakhiri dengan berkunjung ke rumah salah satu guru, bisa wali kelas, bisa juga guru favorit anak-anak satu kelas. Karena banyak yang dikunjungi dan jaraknya lumayan jauh, acara bisa berlangsung sampai sore hari. Yang paling capek dan punya banyak cerita pastinya yang pertama menjemput. Yang paling enak, tak capek namun miskin cerita tentu saja yang terakhir dijemput.
Jaman kuliah, masa libur lebaran dapat ajakan reuni oleh teman-teman SMA. Tapi tak pernah saya ikut. Lha undangannya pasti di rumah makan plus pemberitahuan bahwa harus ngumpulin duit sekian rupiah buat ongkos makan-makan. Kan mahasiswa, mana punya duit? Jadi tak ada kisah reunian dengan teman-teman SMA pada masa ini yang bisa diceritakan.
Setelah bekerja, ada undangan juga dari teman-teman SMA, teman kuliah dan juga teman serumah kala kuliah alias teman kost. Ada beberapa yang didatangi, tapi lebih banyak tidaknya. Teman SMP tak ada lagi undangan reuni, maklumlah dah punya anak semua, dah sibuk dengan urusan keluarga masing-masing.
***
Reuni, apa sih manfaatnya? Sekedar ngumpul-ngumpul nggak jelas jluntrungannya? Hmm… ak u coba bikin list aja ya, apa aja manfaatnya. Kalau kurang silakan ditambahi
  1. Ajang mengenang masa lalu. Siapa saja teman yang nakal, jail, tukang contek, langganan rangking satu. Semua itu akan jadi bahan cerita yang mengasyikkan kala kembali berkumpul setelah sekian lama berpisah. Siapa saja guru favorit dan juga guru yang paling tidak disukai, semuanya akan terkuak pada saat reuni. Klo masih masa di sekolah, mana berani cerita kalau kita nggak suka pada pak guru A. Tapi setelah lulus dan ada acara reuni, jadi terbuka semua.
  2. Ajang silaturahmi tentu saja. Silaturahmi kan bisa membuka pintu rejeki. Siapa tahu dengan ketemu teman-teman lama bisa dapat info lowongan kerja, atau ada tawaran buat buka usaha bersama. Bahkan bisa jadi ketemu jodoh.
  3. Ajang mengingat jasa guru. Walau guru itu adalah pahlawan tanpa tanda jasa, baiknya kita tetap ingat jasa-jasa baik mereka. Kalau tak ada pak guru dan bu guru, pastinya kita nggak akan jadi seperti sekarang. Nggak ada yang ngajari rumus phytagoras, hukum ekonomi, gerak lurus beraturan, simbiosis, alkana, logika dan lain-lainnya. (walau dulu waktu belajar, kita nggak ngerti buat apa sih belajar itu semua. Parahnya sampai kini pun nggak ngerti hehehe…)
  4. Ajang penggalangan dana. Siapa tahu kondisi fisik sekolah kita dulu saat ini memprihatinkan. Pagarnya rusak atau temboknya ada yang miring dan hampir rubuh. Perpustakaan luas tapi bukunya sedikit. Nah reuni bisa jadi ajang buat ngumpulin dana seikhlasnya untuk membantu pihak sekolah.
Itu dari segi baiknya. Segi tidak baiknya ada juga sih, yaitu jadi ajang pamer. Anaknya sudah berapa, anak sekolah dimana, rumahnya daerah mana, mobilnya merk apa de es be.
***
Apakah anda dapat undangan reuni juga abis lebaran tahun ini?
Share




Yang terhormat,Orang Tua Asuh dan
Calon Orang Tua Asuh
Dimanapun Berada

Bismillahirrahmanirrahim


Pendidikan, mutlak dibutuhkan untuk meningkatkan kualitas hidup seseorang menjadi lebih baik.


Sangat memprihatinkan saat saya menemukan beberapa orang putus sekolah berasal dari keluarga kurang mampu.  Ada perasaan tidak rela dalam hati.  Justru dengan bersekolah, mereka sangat mungkin untuk mengubah nasibnya  dan keluarganya.  Mereka akan dapat memutus rantai kemiskinan itu! Mereka akan menjadi 'orang'! Ah, saya menjadi sangat bersemangat, betapa leganya membayangkan, masalah kemiskinan ini dapat segera diatasi.  Kalaupun nanti impian ini tidak menjadi nyata, minimal saya dan Anda - kita, telah memberikan kontribusi yang baik untuk membantu mewujudkan impian mereka dan turut serta memerangi kemiskinan dan kebodohan ini.

Kami telah memulainya semenjak 2003 dengan 2 orang anak asuh saja. Sepanjang perjalanan membantu mereka, kami menyadari, program ini tidak akan memberi arti bila dilakukan hanya sendiri.  Maka, saya terpikir untuk menyajikan program ini kepada Anda, dalam bentuk blog sederhana. Semoga Anda berkenan 'menikmatinya'.

Sementara ini, Allah telah menitipkan 6 orang anak asuh_ku, anak asuh Anda, anak asuh kepada kita, yang membutuhkan bantuan agar mereka tetap bersekolah. Dan begitu Anda masuk ke room anak asuh_ku, secara otomatis Anda sudah resmi menjadi orang tua asuh_ku, orang tua asuh bagi mereka.  Dan kami menunggu berbagai kontribusi dari Anda apapun bentuknya. Apalagi bila Anda memiliki ide-ide cemerlang tentang program-program masa depan untuk anak-anak kita ini.

Program 10 Ribu Berjuta Impian, bermaksud mengajak Anda untuk berpartisipasi secara mudah, murah dan tepat sasaran kepada mereka karena dana pendidikan yang dibutuhkan mereka, akan dibayarkan langsung kepada sekolah-sekolahnya. Anda juga bebas memilih, siapa yang akan Anda sponsori menjadi anak asuh. 10 Ribu adalah satuan terkecil yang dapat Anda kontribusikan untuk mereka.

Rekapitulasi kebutuhan dana sementara:
SD   : Surip        : Rp 500.000
SMP: Sarah        : Rp 500.000
        : Puspita     : Rp 800.000
SMA/K:
          Ridwan    :Rp 1.520.000
          Kokom    :Rp 1.750.000
          Senja       :Rp 2.050.000

Kebutuhan dana Total: Rp 7.120.000,-

Donasi per 1 Februari 2012:
Rudi Rusli      : Rp 1.000.000
Tata               :          300.000
Permita Sari   :        1.500.000 (donasi khusus untuk Ridwan).

Alhamdulillah hari ini, Kamis 2 Februari 2012, saya mendapat khabar gembira bahwa Sarah telah menerima beasiswa dari Bank Syariah Mandiri melalui sekolahnya dan Surip juga sudah tidak memiliki masalah tunggakan.

Sabtu, 11 Februari 2012:
Vera Nita      :           500.000

Donasi yang masih dibutuhkan per 12 Februari 2012 : Rp 2.720.000,-


Kepada Bapak/Ibu yang telah menjadi orang tua asuh dan telah merespon blog ini, saya dan anak asuh kita, mengucapkan syukur dan terima kasih yang sebesar-besarnya.  Hanya Allah saja yang dapat membalas segala kebaikan Bapak/Ibu dengan kebaikan yang berlipat ganda.

Program ini murni program sosial, yang sebelumnya memang sudah berjalan.  Namun karena anak asuh yang terus bertambah, kami mencoba untuk bekerjasama dengan Anda melalui blog ini.


Sekian dari saya, semoga Allah SWT, memudahkan urusan dan melapangkan rizki untuk kita semua.


Salam Hangat


Tata

021-37449182 (info transfer, khusus sms)
Rek Bank Syariah Mandiri: 4600001972 an Marnarita Yarsi
(Bila program ini berkembang, akan dibuatkan account khusus 10 Ribu Berjuta Impian.)








Data Anak Asuh Tingkat Dasar

Surip
Tanggal Lahir:15 September 2000
Alamat: Kampung Kemang Sari
Kelas:III
SDN Jatibening 7
Nilai Rata-rata: 70
Ayah: Alm (yatim)
Ibu:Kuli sampah

Kebutuhan biaya hingga Ujian Akhir Nasional (UAN):  

Rp 500.000

Dana yang tersedia: Sudah terpenuhi dari seorang donatur.


Data Anak Asuh Tingkat Menengah

Sarah Nurjannah
Tanggal Lahir: 26 Februari 1997
Alamat: Kampung Kemang Sari, Pondok Gede Bekasi.
Kelas VII SMPN 17 Bekasi
Nilai Rata-rata: 75
Ayah: Alm (yatim)
Ibu: Kuli sampah

Kebutuhan biaya hingga Ujian Akhir Nasional (UAN):  

Rp. 500.000- 
Dana yang tersedia: Sudah terpenuhi, mendapatkan beasiswa BSM




Ade Puspita
Tanggal lahir: 29 Januari 1997
Kelas IX SMPN 17 Bekasi.
Nilai Rata-rata: 78 (Juara 1 kelas)
Ayah: Tukang Batu
Ibu: Buruh cuci

Kebutuhan biaya hingga Ujian Akhir Nasional (UAN):  

Rp 800.000,- 
Dana yang tersedia: 0


Data Anak Asuh Tingkat Atas


Ridwan Ginting

Tanggal Lahir:
Kelas XII SMA Al-Mubarak Pondok Aren.
Nilai Rata-rata: 70
Ayah: Alm
Ibu: Pemulung, jompo dan sakit-sakitan

Kebutuhan biaya hingga Ujian Akhir Nasional (UAN):   

Rp 1.520.000,- 

Dana yang tersedia: 0
Komariah
Tanggal Lahir: 21 Juni 1994
Kelas IX Administrasi Perkantoran 
SMK Muhammadiyah 01 Ciputat.
Nilai Rata-rata: 73
Ayah: Alm
Ibu: Buruh cuci

Kebutuhan biaya hingga Ujian Akhir Nasional (UAN):  

Rp 1.750.000,- 
Dana yang tersedia: 0





Senja Selvia
Tanggal Lahir:22 Juni 1993
Kelas XII Administrasi Perkantoran
SMK Pelopor Nasional, Ciputat


Nilai Rata-rata: 75
Ayah: Kuli Bangunan
Ibu: Buruh cuci

Kebutuhan biaya hingga Ujian Akhir Nasional (UAN): Rp 2.250.000,-
Dana yang tersedia:Rp 200.000,- (beasiswa dari sekolah)


Bukti Transfer Pembayaran Biaya Pendidikan Anak Asuh

Bukti Transfer Komariah _ SMK Muhammadiyah Ciputat

Bukti Transfer Senja _ SMK Pelopor Ciputat
Share Kota Padang Panjang adalah salah satu Daerah Tingkat II di Provinsi Sumatra Barat, Indonesia. Kota ini memiliki luas wilayah 23 km² dan populasi 45.000 jiwa.

Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Padang Panjang

Institut Seni Indonesia (ISI) Padang Panjang
Di kota ini berdiri sekolah agama Islam terkenal Sumatra Thawalib. Selain itu di sini terdapat pula Institut Seni Indonesia (ISI) Padang Panjang, Perguruan Diniyah Putri dan Pusat Dokumentasi dan Informasi Kebudayaan Minangkabau (PDKIM).
Dengan ketinggian lebih dari 700m dpl, kota ini berhawa sejuk. Di bagian Utara dan agak ke Barat berjejer 3 gunung, Marapi, Singgalang, dan Tandikek. daerah ini penghasil sayur mayur, setra beras.
Salah satu tempat wisata yang banyak dikunjungi adalah “Aia Mancua”, yang terletak dipinggir jalan dari arah Padang. Nama ini agak unik, karena secara umum “air mancur” memancar dari bawah ke atas, sedangkan di sini, sebenarnya berupa air terjun.
Aie Mancua Lembah Anai



Aie Mancua Lembah Anai
Selain itu lebih kurang 15 kilometer ke arah Timur Kota Padang Panjang terdapat Danau Singkarak ada spesies yang uniknya hanya terdapat di danau Singkarak yaitu ikan bilih. Danau Singkarak juga dikenal sebagai tempat yang cukup menjanjikan sebagai daerah wisata memancing. Hal ini dibuktikan dengan ramainya kawasan di seputaran Danau Singkarak dengan para pemancing yang berasal dari kota sekitar Danau Singkarak maupun dari luar Propinsi Sumatera Barat. Sentra-sentra daerah pemancingan yang umum dijadikan lokasi pemancingan diantaranya Ngalau, Sumpur Sudut, Pasar Malalo, Ombilin, Baiang, Intake PLTA Singkarak atau yang lebih dikenal dengan nama Terowongan dan banyak lokasi lainnya. Diantara jenis ikan-ikan yang umum dipancing yaitu asang, piyek, balingka, baung, dan ikan yang menjadi legenda Sasau, yang konon dapat mencapai ukuran berat hingga 8 Kg.
Padang Panjang dulunya dikenal sebagai Pasar Sentral oleh masyarakat dari daerah-daerah satelit di sekitar Kota Padang Panjang seperti Batipuh, Panyalaian, Koto Baru, Kayu Tanam, Sicincin, dan banyak daerah lainnya.

Lokomotif tua di Stasiun Padang panjang


Lokomotif tua di Stasiun Padang panjang
Padang Panjang memiliki rel kereta api “bergigi”, ditengah-tengah, untuk membantu lokomotif (jaman dahulu lokomotif uap) ditanjakan.
Sebagai salah satu kota di Provinsi Sumbar, Padang Panjang termasuk biasa-biasa saja, tak ada keunggulan yang tergolong kompetitif. Sadar tidak memiliki keunggulan yang cukup bersaing dibandingkan daerah lainnya mendorong Padang Panjang memutar otak untuk mengangkat nama wilayahnya.
Salah satu cara yang ditempuh yaitu dengan mengembalikan ciri khasnya sebagai kota bernuansa Islami. Alasannya konon sejak awal abad 20 daerah ini telah menjadi tempat belajar dan mendalami ajaran agama Islam. Proporsi penduduk Padang Panjang yang 99 persen muslim pun menguatkan niat tersebut.

Gedung Perguruan Thawalib Puteri Padang panjang


Gedung Perguruan Thawalib Puteri Padang panjang
Berbagai lembaga pendidikan khususnya yang bernafaskan Islam banyak didirikan seiring dengan niat Padang Panjang. Di Wilayah yang luasnya hanya 0,05 persen dari luas Provinsi Sumbar ini setidaknya terdapat lima pondok pesantren ternama yaitu Serambi Mekkah, Thawalib Putri, Diniyah Putri, dan Kauman Muhammadiyah. Jumlah Taman Pendidikan Al Quran pun tidak kurang dari 54 buah.
Menjadikan wilayah ini sebagai rujukan pengajaran agama Islam, salah satunya dengan menyediakan fasilitas pendidikan, sudah menjadi agenda Padang Panjang yang memang berorientasi pada jasa pelayanan. Sekurang-kurangnya dlam kurun waktu lima tahun sejak 1996 sektor inilah yang memberi nafas kehidupan di kota ini.

Gerbang depan perguruan Thawalib


Gerbang depan perguruan Thawalib Putra

Pondok Pesantren Serambi Mekah


Pondok Pesantren Serambi Mekah
Sektor perdagangan, hotel, dan pariwisata tak kurang perannya dalam mengembangkan Padang Panjang. Di tahun 2000 sebanyak 37,12 persen tenaga kerja wilayah ini yang totalnya mencapai 14.988 orang menggantungkan mata pencahariannya di bidang ini.
Kegiatan perdagangan kota terpusat di Pasar Padang Panjang yang terletak di Kecamatan Padang Panjang Barat. Sementara itu obyek-obyek wisata tersebar di beberapa tempat yang letaknya mudah dijangkau dari pusat kota.

Pasar Induk hasil pertanian


Pasar Induk hasil pertanian
Perkembangan dunia perdagangan dan industri berdampak terhadap mobilitas masyarakatnya. Maraknya bisnis angkutan menjawab permasalahan itu. Diatas fasilitas jalan raya yang 86 persennya tergolong baik dan sedang, melaju sekurang-kurangnya 146 angkot. Dari jumlah tersebut hingga Juni 2002 Pemda Kota Padang Panjang berhasil mengutip retribusi terminal tak kurang dari Rp. 215,4 juta.
Disamping usaha perdagangan, bisnis pertanian ternyata masih menjadi salah satu usaha yang dilirik masyarakatnya. Sekurang-kurangnya sejak 1998, ketika krisis nasional terjadi, sumbangan usaha ini terhadap perekonomian Padang Panjang terus mengalami peningkatan.
Selain jumlah hari hujan yang cukup tinggi yaitu rata-rata 256 hari per tahun, lahan pertaniannya pun cukup tersedia. Sebagai gambaran sekitar 57 persen wilayah padang Panjang tersita untuk sawa, kebun, hutan rakyat, dan empang. Meski tidak semuanya produktif setidaknya menunjukkan potensi yang dimiliki.


Pasar padangpanjang pada malam hari
Pasar padangpanjang pada malam hari

Bagi Padang Panjang sub sektor tanaman pangan dan hortikultura serta sub sektor peternakan memberi andil besar terhadap dunia pertanian. Meski pertumbuhannya sempat negaif dari tahun 1999 ke 2000, produktivitas padi misalnya mencapai 5,6 ton perhektar di tahun 2000. Jumlah ini adalah yang tertinggi dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Penghasil padi terbesar daerah ini terletak di Kecamatan Padang Panjang Timur, tepatnya di Kelurahan Guguk Malintang, Kelurahan Ekor Lubuk, dan Kelurahan Ganting.
Topografi Padang Panjang yang bergelombang dan berada di ketinggian 650-850 meter dpl rupanya menguntungkan usaha peternakan daerah ini. Suhu udara yang sejuk serta suburnya tanaman pakan ternak merupakan salah satu alasannya. Melalui sektor ini sekurang-kurangnya disumbang Rp. 13,7 milyar tahun 2000. Angka tersebut terbilang kecil jika dibandingkan dengan total kegiatan ekonomi Padang Panjang yang jumlahnya mencapai Rp 243,7 milyar di tahun yang sama.
Meski demikian di balik minimnya angka tersebut, bidang ini menjadi salah satu sumber berkembangnya industri kecil. Dari hasil pemotongan hewan seperti sapi, kerbau, dan kambing diperoleh kulit yang nantinya muncul sebagai salah satu produk unggulan Padang Panjang. Sepatu,sandal, dan tas misalnya menjadi komoditas andalan industri kulit. Ada pula industri penyamakan kulit yang memproduksi kulit sol serta kulit lapis.
Selain kulit ternak berkembang pula industri pengolahan daging sapi khususnya yang dibuat menjadi dendeng salai, yaitu daging yang dikeringkan atau diawetkan setelah dibumbui terlebih dahulu. Komoditas ini menjadi salah satu produk unggulan Padang Panjang yang ikut meramaikan dunia perdagangan wilayah ini.


Danau Singkarak

Danau Singkarak
Di samping usaha pertanian sebagai alternatif penyangga kegiatan ekonominya, hasil alam seperti kapur juga memberi manfaat terhadap perkembangan industri kota ini. Nilai produksinya mencapai Rp 13,4 milyar dari 6 perusahaan yang tercatat pada tahun 2001. Tetapi sayang kualitasnya dianggap kurang memadai mengingat proses pengolahannya yang masih menggunakan batu bara, sementara daerah lain sudah menggunakan gas sebagai bahan bakarnya.
Padang Panjang, Kota Kecil Berpotensi Besar
Meski terkesan kota “sambil lalu”, yaitu kota yang hanya dilewati atau terlihat sebentar sambil jalan di jalur lintasan Trans-Sumatera, Padang Panjang jangan dianggap “angin lalu”. Cobalah mampir barang beberapa lama dan berkelilinglah. Anda akan menemukan sejumlah potensi besar di kota terkecil (seluas 23 km persegi) di antara 15 kota/kabupaten lainnya di Sumbar tersebut.

Hj. RAngkayo Rasuna Said


Hj. RAngkayo Rasuna Said
Anda mungkin bertanya-tanya, mengapa di kota yang bersih, berhawa sejuk, dan bercurah hujan rata-rata 3.259 mm per tahun ini banyak sekali pelajar dan masyarakat berpakaian islami (semacam pesantren). Lewat catatan sejarah, sejak zaman penjajahan telah berkembang sarana dan prasarana pendidikan agama islam seperti Diniyah Putri, Thawalib Gunung, dan Madrasah Isyadin Nas.
“Lembaga-lembaga ini terkenal ke seluruh pelosok Nusantara, bahkan sampai ke mancanegara. Banyak juga tokoh ulama dan tokoh nasional yang mendapatkan pendidikan dari sini, sehingga Padang Panjang dulu dikenal sebagai pusat pergerakan pemikiran Islam yang disegani dan basis pendidikan Islam terkemuka di Indonesia,” kata Sekretaris Kota Padang Panjang Aulizul Syuib.
Dengan berlatar pendidikan Islam yang termasyhur itu, Padang Panjang pun dijuluki “Kota Serambi Mekkah”. Julukan itu dikukuhkan oleh DPRD setempat tanggal 21 Maret 1999.
Sebagai kota yang menginvestasikan diri untuk peningkatan kualitas SDM, di Padang Panjang juga terdapat SMU unggul untuk Sumbar dan sekolah seni satu-satunya di Sumatera, yakni Institut Seni Indonesia (ISI). Untuk penunjang, di kota yang wilayahnya berada di sekitar Gunung Merapi (2.891 m), Gunung Singgalang (2.877 m), dan Gunung Tandikek (2.438 m)-daerah aktif dan rawan gempa bumi-itu juga terdapat Pusat Dokumentasi dan Informasi Kebudayaan Minangkabau (PDIKM).
Meski pendapatan per kapita Kota Padang Panjang lebih tinggi dibanding kota lainnya di Sumbar, yakni Rp. 2.225 juta (tahun 2000) pembangunan di bidang ekonomi untuk mewujudkan ekonomi kerakyatan yang semakin mandiri tetap menjadi prioritas sebagaimana telah dituangkan dalam Pola Dasar Pembangunan Kota Padang Panjang 2001-2005.
Menurut Aulizul Syuib, Padang Panjang dengan pertumbuhan ekonomi sebesar 3,63 persen, memiliki beberapa potensi alam yang belum sepenuhnya tergarap, antara lain bukit batu yang dapat diolah menjadi kapur bakar sebagai bahan bangunan, kapur pertanian, bahan baku pabik cat, dan semen. “Deposit batu kapur yang bisa dieksploitasi adalah sebanyak 43.065.000 ton. Pada saat ini jumlah tungku pembakaran batu kapur ada 38 unit, dengan produksi rat-rata 6-8 ton per hari,” paparnya.
Kemudian, potensi sumber mata air pegunungan. Menurut hasil penelitian, potensinya menyebar di seluruh Kota Padang Panjang, dimana potensi yang belum termanfaatkan adalah sebanyak 390,4 liter per detik. “Terbuka peluang bagi calon investor untuk mendirikan industri air minum dalam kemasan. Secara komparatif, posisi lebih unggul karena posisi Padang Panjang yang strategis untuk lokasi produksi, perdagangan, dan jasa. Kota ini dilalui jalur lintas tengah Sumatera, dekat dengan Provinsi Riau, jambi, dan negara tetangga Singapura,” kata Kepala Bappeda Kota Padang panjang Budi Hariyanto.
Potensi lain yang belum tergarap adalah pengembangan peternakan dan industri ikutannya. Untuk daging

Sate Khas Padang panjang


Sate Khas Padang panjang
sapi, kualitas daging sapi potong segar dari Padang Panjang sudah sangat terkenal. Rasa dan keempukkannya daging sapi Padang panjang beda dengan sapi daerah lainnya. Sama halnya kalau Anda pernah ke Republik Namibia atau Cape Town, di Republik Afrika Selatan, maka kualitas dan rasa daging sapi disana tak ada bandingnya dengan negara manapun.
Disamping daging, potensi yang bisa dikembangkan adalah sapi perah yang menghasilkan susu segar. Dalam hal ini susu segar yang dihasilkan di Padang Panjang, menurut penelitian produksinya, lebih besar daripada daerah dataran rendah. Secara geografis Padang Panjang terletak pada ketinggian 650 meter diatas permukaan laut.
Ubtuk industri ikutannya, baru ada satu pabrik penyamakan kulit untuk diolah menjadi kulit setengah jadi. Karena itu, selain terbuka peluang untuk investasi di bidang penyamakan kulit, juga terbuka peluang untuk pengembangan kulit setengah jadi menjadi hasil kerajianan yang bernilai tinggi seperti tas, sepatu, ikat pinggang, dan berbagai jenis aksesoris.
Dengan iklim yang sejuk, Curah hujan yang tinggi, dan didukung jenis andosol yang berasal dari abu vulkanik yang subur, Padang Panjang juga potensial untuk sektor pertanian dan holtikultura. Produktivitas seluruh komoditas pertanian di kota ini lebih tinggi dibandingkan dengan daerah lain. Sebagai gambaran, dari luas sawah 695 hektar dan tegalan seluas 345,5 hektar, dihasilkan padi sekitar 5.694 ton, palawija 2.136 ton, dan sayuran 3.622 ton.

Randai Padang panjang


Randai Padang panjang
Selain itu, bunga yang juga menjadi bagian julukan Kota Padang Panjang, yakni sebagai kota berbunga, juga mempunyai potensi untuk dikembangkan. “Rata-rata per tahun produksi itu dipasarkan ke Padang, sedangkan 75 persen lagi belum terpasarkan. Jenis yang paling banyak dibudidayakan adalah jenis bunga potong seperti Anthurium (panah Asmara),” papar Budi Hariyanto.
Potensi pariwisata juga tak kalah bagus dan menariknya untuk dikembangkan. Ada PDIKM dan Perkampungan Minangkabau yang kini belum tergarap maksimal, bahkan terkesan terlantar. Kehadiran ISI juga mendukung keberadaan Padang panjang sebagai kota tujuan utama wisata. Minang Fantasy Waterpark menyempurnakan Padang Panjang sebagai tujuan wisata.
Khusus untuk pembangunan ekonomi tadi, kebijakan Pemda Kota Padang Panjang diarahkan pada upaya-upaya peningkatan sektor potensi melalui peran swasta. Untuk menarik investor, kata Aulizul Syuib, Pemda kota Padang Panjang akan menggalakkan kunjungan bisnis atau menyosialisasikannya atau memasarkannya ke tengah masyarakat pengusaha dalam dan luar negeri.
Situs resmi Pemerintah Kota Padangpanjang: http://padangpanjangkota.go.id/
Sejarah Kota Padang Panjang
Padang Panjang adalah sebuah Kota kecil dalam lingkungan Propinsi Sumatera Barat terbentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1956. Dengan lahirnya Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1957 maka Kota kecil ini memiliki status yang sejajar dengan daerah Kabupaten dan Kota lainnya.

Padang Panjang dari udara


Padang Panjang dari udara
Berdasarkan Keputusan DPRD Peralihan Kota Praja Nomor : 12/K/DPRD-PP/57 tanggal 25 September 1957, maka Kota Padang Panjang dibagi atas 4 wilayah administrasi yang disebut dengan Resort, yakni Resort Gunung, Resort Lareh Nan Panjang, Resort Pasar dan Resort Bukit Surungan. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1965 istilah Kota Praja diganti menjadi Kota Madya dan berdasarkan Peraturan Menteri Nomor 44 tahun 1980 dan Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 1982 tentang Susunan dan Tata Kerja Pemerintahan Kelurahan, maka Resort diganti menjadi Kecamatan dan Jorong diganti menjadi Kelurahan. Sedangkan berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 13 Tahun 1982 Kota Padang Panjang dibagi atas dua Kecamatan dengan 16 Kelurahan.
Setelah Proklamasi Kemerdekaan RI maka untuk menjalankan roda pemerintahan, Padang Panjang dijadikan suatu kewedanaan yang wilayahnya meliputi Padang Panjang, Batipuh dan    X Koto yang berkedudukan di Padang Panjang.
Berdasarkan Ketetapan Ketua PDRI tanggal 1 Januari 1950 tentang Pembagian Propinsi juga sekaligus ditetapkan pula pembagian Kabupaten dan Kota antara lain Bapituh dan X Koto kedalam wilayah Kabupaten Tanah Datar, sehingga Padang Panjang hanya merupakan tempat kedudukan Wedana yang mengkoordinir Kecamatan X Koto.

Lambang Kota Padang panjang            Lambang Kota Padang panjang

Kemudian berdasarkan UU No. 8 tahun 1956 tentang Pembentukan Daerah Otonom Kota Kecil di lingkungan Propinsi Sumatera Tengah, maka lahir secara resmi Kota Kecil Padang Panjang.
Pada tahun 1957 dilantik Walikota pertama dan sebagai Daerah Otonom sesuai dengan Keputusan DPRD Peralihan Kota Praja Nomor: 12/K/DPRD-PP/57 dan Peraturan Daerah No. 34/K/DPRD-1957 dibentuk 4 Resort dan masing-masing Resort membawahi 4 Jorong sbb :
1.  Resort Gunung, membawahi Jorong :
  • Ganting
  • Sigando
  • Ekor Lubuk
  • Ngalau
2.  Resor Lareh Nan Panjang, membawahi Jorong :
  • Tanah Pak Lambik
  • Guguk Malintang
  • Koto Panjang
  • Koto Katik
3.  Resort Pasar, membawahi :
  • Pasar Baru
  • Pasar Usang
  • Tanah Hitam
  • Balai-Balai
4.  Resort Bukit Surungan, membawahi
  • Silaing Bawah
  • Silaing Atas
  • Kampung Manggis
  • Bukit Surungan
Dengan keluarnya Peraturan Pemerintah No. 13 tahun 1982 Kotamadya Daerah Tingkat II Padang Panjang secara Adminstratif, dibagi dalam 2 Wilayah Kecamatan yaitu Padang Panjang Barat dan Padang Panjang Timur.
Kemudian berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 16 tahun 1982 dan Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 44 tahun 1980 maka Resort diganti menjadi Kecamatan dan Jorong diganti menjadi Kelurahan.
Pembentukan KAN, dilaksanakan setelah MUBES LKAAM di Payakumbuh tahun 1966 di Kotamadya Padang Panjang terbentuk 3 buah KAN :
1.  KAN Bukit Surungan
2.  KAN Gunung
3.  KAN Lareh Nan Panjang
Sedangkan Resort Pasar, karena sebagian besar penduduknya pendatang tidak dibentuk KAN.
Penetapan Hari Jadi Kota Padang Panjang
Hari Jadi Kota Padang Panjang yang selama ini diperingati tanggal 23 Maret setiap tahunnya, sesuai dengan tanggal pengundangan dari Undang-undang Nomor 8 Tahun 1956 tentang Pembentukan Daerah Otonom Kota Kecil dalam Lingkungan Daerah Propinsi Sumatera Tengah, ternyata masih banyak masyarakat / warga Kota Padang Panjang yang belum dapat menerima atau mengakui Hari Jadi dimaksud. Hal ini disebabkan karena dalam sejarah perkembangannya, Padang Panjang sebetulnya sudah ada sejak beberapa ratus tahun yang lalu.

Suir Syam, Walikota Padang panjang


Suir Syam, Walikota Padang panjang
Terhadap penetapan Hari Jadi Kota Padang Panjang tersebut di atas, beberapa tahun terakhir ini masyarakat / warga Kota Padang Panjang mengusulkan kepada Pemerintah Kota Padang Panjang untuk meninjau kembali melalui suatu kajian sejarah yang melibatkan Tokoh Masyarakat, Sejarawan atau kalangan Akademisi serta Stake Holders lainnya di lingkungan Pemerintah Kota Padang Panjang. Atas usul masyarakat inilah Pemerintah Kota Padang Panjang pada tahun 2002 yang lalu membentuk Badan Kajian Sejarah dan Perjuangan Bangsa (BKSPB) Kota Padang Panjang yang ditetapkan dengan Keputusan Walikota Padang Panjang Nomor 227 Tahun 2002 yang antara lain bertugas meninjau dan mengkaji ulang Hari Jadi Kota Padang Panjang berdasarkan sejarah atau historis dan perkembangan yang telah ada beberapa ratus tahun yang lalu.
Hasil kegiatan BKSPB Kota Padang Panjang terhadap Hari Jadi Kota Padang Panjang dimaksud sesuai dengan tahapannya telah disempurnakan melalui Kegiatan Seminar Sehari yang diadakan pada tanggal 12 Maret 2003 yang dihadiri oleh Tim Penulis, BKSPB, Anggota DPRD, Dinas/Instansi serta Tokoh Masyarakat dan Stake Holders lainnya di lingkungan Pemerintah Kota Padang Panjang. Pada saat itu disepakati bahwa penetapan Hari Jadi Kota Padang Panjang adalah tanggal 1 Desember 1790 dan untuk pertama kalinya diperingati pada tanggal 1 Desember 2004 dan dilanjutkan pada tahun-tahun berikutnya. Untuk lebih menguatkan legalitas atau dasar hukum dari penetapan Hari Jadi Kota Padang Panjang tanggal 1 Desember 1790 ditetapkan dengan suatu Peraturan Daerah yaitu Peraturan Daerah Kota Padang Panjang Nomor 17 Tahun 2004 tentang Penetapan Hari Jadi Kota Padang Panjang.


sumber  :  http://rangminang.web.id
Share

Masa Kecil


Yahya Datuak Kayo
Dia diberi nama Yahya. Mengapa diberi nama oleh keluarganya yang kebetulan nama itu mengingatkan kita akan nama nabi-nabi. Kita tidak tahu. Cobalah renungkan nama-nama dua mamaknya yang terdahulu, Ibrahim dan Ismail. Dua-duanya jadi laras di IV Koto, Agam Tua. Sedangkan mamaknya yang gagal jadi Laras, namanya Lanjadin Katib Besar1, bukan bernama seperti nama nabi. Sewaktu dia lahir, baru dua tahun Jabatan Laras disandang oleh Tuanku Janaid St Dinegeri. Apakah memang nama Yahya telah di persiapkan agar jadi Laras? Walluhualam. Dia adalah putera sejati, artinya bapak dan ibunya orang Koto Gadang, yang di lahirkan di tengah-tengah kampung Koto Gadang pada 1 Augustus 1874, 10 tahun lebih dahulu dari kelahiran Haji Agus Salim. Ibunya bernama Bani, dan Bapaknya bernama Pinggir dari pesukuan Sikumbang. Di masa kecilnya telah dididik agar dianya sangat cinta kepada negerinya Koto Gadang, segala sesuatunya diperhatikannya dan di selidikinya benar-benar.
Tetapi pada tahun 1882, sewaktu itu masih berumur 8 tahun, dia telah merantau meninggalkan Koto Gadang dan menurutkan mamaknya ke Suliki. Disanalah dia bersekolah setahun lamanya, kemudian nasib membawanya pindah kebeberapa sekolah di tempat yang berbeda, pada tahun 1883 dia ke Pasar Gadang di Padang, tahun 1885 ke sekolah Privaat di Bukit Tinggi. Di sini sebenarnya dia memiliki peluang mengambil ujian di Sekolah Raja, namun dilarang oleh mamaknya Lanjadin Khatib Besar yang bergelar Datuk Kayo, ketika itu Pakhuismeester (Kepala Gudang) kopi di Baso, dengan alasan yang sederhana saja. Mamaknya takut melepas kemenakannya itu, kalau sudah tamat pada sekolah guru, pergi pula merantau ke negeri lain yang jauh. Ini tidak berarti mamaknya tidak menyenangi Yahya bersekolah tetapi ada niat tersembunyi dalam hatinya, bahwa suatu hari Yahya diharapkan bisa menjadi pemimpin di negerinya kelak. Karena itu tidak boleh jauh-jauh dari kampungnya Koto Gadang. Selama tinggal dengan mamaknya di Baso, dia bekerja magang membantu mamaknya di gudang kopi, kadang-kadang pekerjaan mamaknya digantikannya.

Baru ketika usianya itu menginjak 14 tahun, pada tahun 1888 Yahya diajar magang pada Kantor Tuan Residen Padang Darat guna lebih banyak mengenal dari dekat bagaimana birokrasi pemerintah bekerja.

Jadi Tuanku Laras IV Koto

Seperti telah diceritakan terdahulu, karena suatu hal Janaid Dt Dinegeri, Kepala Laras IV Koto, berhenti memerintah setelah 19 tahun. Setelah melalui tahap proses pemilihan Kepala Laras, Pemerintah Hindia Belanda mengangkat mamaknya Lanjadin Khatib Besar gelar Datuk Kayo di tahun 1892 menjadi Kepala laras di IV Koto, yang ke-7. Sewaktu itu Yahya telah menjadi Jurutulis magang (Leerlingschrijver) di kantor Kontrolir Agam Tua.

Perhimpunan Julius 1906
Hanya tiga tahun memerintah, tahun 1895 berpulanglah mamaknya Lanjadin Khatib Besar gelar Datuk Kayo kerahmatullah, Yahya kemudian diangkat oleh kaumnya menjadi penghulu bergelar Datuk Kayo. Jabatan Kepala Laras di IV Koto kini terbukalah untuk dipilih2. Dia masuk pula menjadi seorang kandidat untuk jabatan Kepala Laras. Taktik jitu mamaknya terdahulu, yang mengusahakan dia magang di kantor Residen dan kantor Kontrolir, membuat posisinya kuat untuk terpilih. Yahya Datuk Kayo telah melalui proses pemilihan, lalu terpilih, kemudian disetujui pula, maka dengan Besluit Gubernur Sumatra Barat 11 Mei 1895 resmilah diangkat menjadi Tuanku Laras IV Koto. Waktu itu dia masih berumur berumur 20 tahun 9 bulan, masih muda sekali3.
Situasi sosial, ekonomi, politik dan keamanan dalam negeri Koto Gadang waktu itu, bahkan juga di seluruh Agam Tua tidaklah menguntungkan baginya untuk melaksanakan tugas-tugas pemerintahan dengan baik. Persoalan Pajak perorangan4 dan Plakat Panjang dahulu kembali menjadi pembicaraan hangat di tengah masyarakat. Tanam Paksa Kopi sudah tidak memberi arti lagi bagi kas
pemerintah, dan ini harus diganti dengan pajak. Hampir tiga perempat abad lalu pajak sudah pula ditentang masyarakat di Minangkabau. Plakat Panjang yang berisi janji bahwa pemerintah tidak akan lagi memungut pajak uang, diumumkan tahun 1833 untuk mengambil hati masyarakat, tetapi kini oleh pemerintah Belanda tak di indahkan lagi.

Fort de Cock
Tugas memberi pengertian kepada masyarakat bahwa pajak itu mau tidak mau harus dilaksanakan, sebagai pengganti serba paksa kopi, amat berat dan jelas bertentangan dengan keinginan rakyat. Kehidupan rakyat yang berat sekali dimasa itu adalah suatu kenyataan pula. Di sinilah risiko seorang pejabat, walaupun bergaji besar dan pangkat terhormat tetapi bayarannya juga tinggi yaitu tidak akan disenangi rakyatnya sendiri.

Bagaikan api dalam sekam, dimana-mana ada demonstrasi, termasuk di Koto Gadang. Rumah Kepala Laras di Koto Gadang sempat dilempari batu oleh para demonstran5, sesudah Jaksa Kepala di Bukittinggi, menangkap para penghulu yang menghajar seorang penghulu lain. Penghulu lain yang dihajar itu adalah yang tak mau bekerjasama menjadi penantang pemerintah. Keadaan dapat dikuasai pemerintah, namun diikuti dengan banyak orang yang ditangkap.
Kisah sebuah kejadian yang menyedihkan terjadi pada 2 Juli 1908 dimasa pemerintahan Tuanku Laras Yahya Datuk Kayo. Kejadian ini ditulis oleh Yahya Datuk Kayo tahun 1919 seperti tersebut di bawah ini6:
Pada hari Kamis kira-kira jam 10 pagi, tanggal dan bulannya tak ingat lagi tahun 1908 (menurut Rusli Amran 2 juli 1908), saya di panggil oleh tuan Westenenk kekantornya. Waktu itu tuan Westenenk menjadi kontrolir di Bukittinggi dan saya menjadi tuanku laras di IV Koto.
Menurut tuan kontrolir bahwa militer telah pergi ke Malalak dikepalai oleh seorang kapten dan dua letnan akan menangkap Pakih Jali yang menjadi guru, pengajar kuat kebal tahan besi di sebuah surau di kampung Talago Paladangan.
Saya bertanya mengapa tidak tuan beritahu saya supaya saya selesaikan sendiri saja sebab tidaklah mungkin orang Malalak akan berani melawan Kompeni.
Jawab Kontrolir “Ya. Eindhoven Asisten Residen Pariaman sudah melaporkan kejawatan militer karena negeri kita sudah ditangan militer.”
Kata saya ”baiklah saya pergi bersama militer supaya jangan teraniaya anak buah saya karena hari ini Penghulu Kepala Malalak menerima belasting dari anak buah, tentu banyak orang berkumpul”.
Kata tuan kontrolir ”Perlu sekali tidak, tetapi kalau Tuanku suka pergilah, bawalah surat saya kepada tuan Kapten yang mengepalai serdadu itu”. Dalam surat itu diterangkan siapa saya dan akan turut serta ke Malalak dan Paladangan.
Saya lantas pulang ke Koto Gadang dan mengejar rombongan militer, di sekitar Koto Tuo bertemulah rombongan itu. Maka saya berikan surat kepada tuan Kapten yang mengepalai serdadu.

Tuan Kapten berkata kepada saya ” Apa orang Paladangan Malalak mau melawan kompeni tidak mau bayar belasting?”
Jawab saya “ Tidak, hari ini orang banyak bayar belasting kepada Penghulu Kepala”.
Tuan kapten berkata lagi “ kalau kami sampai di situ dan orang lari melihat kompeni lantas kami suruh pasang (=tembak).
Saya tidak menjawab. Kira-kira satu jam berjalan saya ceritakanlah kepada tuan kapten bagaimana kebodohan orang Paladangan yang takut sama orang putih. Saya ceritakan pada suatu hari saya berkunjung di Paladangan dengan memakai topi ”putih lawas” dan berlilit kaki seperti tuan-tuan tukang ukur berjalan. Setelah mereka itu melihat saya mereka lari kerumah dan terus tangga di tarik ke atas rumah. Disangkanya saya orang putih tetapi setelah saya dekat dilihatnya dari balik dinding bahwa saya Tuanku Larasnya barulah mereka berani datang.
Sesudah tuan itu mendengar cerita saya dia tertawa, bertanya kepada saya ”Bagaimana nanti kalau mereka itu melihat kompeni lari lantas di pasang”.
Jawab saya ”Kalau kira-kira setengah pal lagi akan sampai di Pasar Malalak lantas saya bersama serdadu berkuda jalan duluan. Saya beri tahukan kepada orang-orang kalau melihat kompeni jangan lari.”
Kata tuan kapten, ”Baiklah”.
Kira-kira setengah pal menjelang Pasar Malalak saya bersama serdadu berkuda berpacu terus ke Pasar Malalak. Kebetulan orang banyak mau bayar belasting dan saya katakan kepada Penghulu Kepala dan anak buah sebentar lagi serdadu datang tetapi jangan lari kalau melihat serdadu.
Tidak berapa lama sampailah tuan Kapten dan serdadu bertanya ”Apa kamu orang tidak mau bayar belasting”.

Jawab orang itu ”Ampun tuan, kami suka bayar belasting.”
Kira-kira pukul 6 sore kami menuju ke Paladangan berjalan bersama tuan Kapten dan serdadu, berjalan lambat-lambat. Kira-kira pukul 2 kami sampai di Paladangan dan berhenti di situ. Tuan Kapten memerintahkan seorang letnan dan beberapa serdadu pergi kerumah isteri Pakih Jali dengan perantaraan dua orang penghulu yang saya tidak ingat gelarnya, boleh jadi Datuk Maharajo (Limo Badak) Datuk Indo Marajo (Limo Badak) dan Datuk Tanmangindo wakil penghulu suku Paladangan dan Penghulu Kepala Malalak sekarang Datuk Tanputih.
Saya bersama tuan Kapten dan serdadu terus kekampung Talago. Kira-kira pukul 4 pagi kami sampai di surau itu. Sebenarnya itu bukan surau melainkan sebuah rumah persinggahan kalau orang rantau akan pergi ke Agam/Maninjau atau sebaliknya mesti bermalam di situ. Biasanya jatuh pada petang Kamis.
Tuan Kapten memerintahkan mengepung rumah itu dengan dua baris serdadu tetapi meskipun dua baris dijaga kalau orang keluar di mana-mana pasti terlihat. Kira-kira setengah jam sesudah itu orang yang tidur di atas surau itu bangun akan pergi sembahyang subuh.
Setelah dilihatnya banyak serdadu lantas ditutupnya pintu serta berteriak ”Ampun kami tuan, kami sudah bayar belasting”.
Tuan kapten bertanya dimana Pakih Jali? Jawab separo orang itu mengatakan Pakih Jali sudah berjalan kerumahnya. Separonya lagi mengatakan Pakih Jali pergi ke Mudik Padang. Rupanya tuan Kapten mendengar jawaban itu kurang percaya boleh jadi Pakih Jali ada dalam rumah.
Tuan kapten menyuruh saya menanyakan apa betul orang yang ada di situ sudah bayar belasting. Lantas saya tanya, orang itu mau turun dan memperlihatkan surat pajak. Saya mau berjalan ke pintu mau memeriksa satu-satu.
Berkata tuan Kapten ”Hati-hati Tuanku, kalau orang melawan kami pasang, jangan-jangan Tuanku yang kena. Lebih baik kita tunggu sampai hari terang benar-benar dan ingatkan jangan orang-orang lari, tinggal diam saja, kalau lari nanti di pasang”
Hari hampir siang, 1 atau 2 orang yang dalam surau itu mau lari melompat dari atap kebelakang. Hal ini di diketahui oleh tuan Kapten,

lantas memerintahkan suruh pasang. Setelah hari siang tuan kapten membuka pintu dan naik memeriksa. Ada 13 orang yang mati dan ada kira-kira 6 orang yang luka. Diantara orang-orang itu kalau saya tidak salah hanya seorang saja orang Paladangan dapat luka atau mati selainnya orang Pakandangan, Mudik Padang, Manggung bagian Pariaman dan orang Padang Luar-Pakan Sinayan (Agam) 3 orang.
Saya waktu itu ada di halaman dan saya dipanggil oleh tuan Kapten supaya naik ke atas surau karena ada seorang yang luka tidak mau berdiri dan mau menikam serdadu. Dan saya naik dan bertanya sama orang itu apa sebab tidak mau berdiri. Jawabnya tidak bisa berdiri karena luka. Tidak bisa bergerak. Saya terangkan hal itu kepada tuan Kapten dan memeriksa orang itu apa betul tidak bisa berdiri.
Tuan kapten memerintahkan supaya orang yang mati dikuburkan dan yang sakit dibawa ke bivak tempat perhentian kami. Maka saya perintahkan Datuk Tan Mangindo (penghulu suku Paladangan) supaya mayat dikubur tetapi waktu itu susah dapat orang yang akan menggali kubur, orang semuanya lari ke rimba meninggalkan rumah tangganya. Begitu juga Datuk Penghulu Dirajo dan Angku Sanang tidak ada di situ, disuruh cari tidak bertemu.

Copy beslit merangkap Laras Banuhampu 1913
Saya bersama kompeni bermalam satu malam di Paladangan. Hari Sabtu saya bersama kompeni dan orang yang luka jalan pergi ke Sicicncin dari sana naik kereta api terus ke Bukittinggi, Begitu Juga Pakih Jali yang ditangkap di rumah isterinya dibawa bersama.
Sampai di Bukittinggi saya datang menghadap tuan kontrolir Westenenk dan menceritakan hal yang kejadian di Paladangan itu kurang adil serta saya minta supaya diizinkan membuat verslag bagaimana sebenarnya yang terjadi. Tuan Kontrolir melarang saya membuat verslag sebab kata tuan Kontrolir “ indak katalawan dek tuanku tuan Kapiten bersoal jawab nanti. Cukuplah kalau hal itu sudah diceritakan kepada kami”.
Tahun 1919 Yahya Datuk Kayo menulis sebuah laporan kepada atasannya.
”Dengan hiba hati saya terangkan bahwa menurut keterangan tersebut dalam proses verbal Sutan Raja Amas, Asisten Demang IV Koto dalam hal penembakan militer di Paladangan 1908, saya dituduh Rachman Datuk Penghulu Dirajo dan Angku Sanang karena ajakan sayalah, membawa militer dan menyuruh membunuhi manusia. Padahal
kalau saya tidak ikut waktu itu boleh jadi kampung Malalak menjadi rusak dan orang banyak mati karena melihat ganasnya militer waktu itu. Dakwaan yang ditimpakan kepada saya ini sekali-kali saya tidak percaya terbit dihati nurani orang Paladangan. Mengingat bagaimana sayangnya dan cintanya anak negeri Paladangan selama ini kepada saya dan kepada ninik saya. Orang Paladangan dahulunya orang rantau di bawah pemerintahan Pariaman. Kira-kira dalam tahun 1865 orang Paladangan di masukan dalam pemerintahan laras IV Koto atas permintaannya sendiri disebabkan mereka itu tertangkap menyabung ayam dan Tuanku Larasnya tidak suka meminta ampunkan kepada tuan Asisten Residen Pariaman. Waktu itu ninik sayalah bernama Ismail Datuk Kayo yang memintakan ampun ke Pariaman”.

Memang tragis, Sutan Raja Amas, Asisten Demang IV Koto yang membuat proses verbal adalah bekas bawahannya dahulu semasa menjadi Demang Bukittinggi yaitu yang jadi Asisten Demang Sungai Puar.

Membangun Negeri

engan latar belakang demikianlah sewaktu itu dia mulai duduk memerintah. Cita-citanya yang selama ini ingin memperbaiki keadaan, adat, ekonomi dan pedidikan anak negeri mulailah digerakkannya dan dikerjakannya, secara “demokratis”.
Kantor Kepala Laras kebetulan berada di Koto Gadang. Yahya Datuk Kayo tampaknya ingin membuat ”ibukota” Kelarasan IV Koto itu semacam ”Fort de Kock-nya” Keresidenan Agam. Fort de Kock itu langsung di bawah pimpinan Residen Agam, karena statusnya yang khusus. Karena itu fokus perhatian kepada Koto Gadang juga diperlukan.
Pada waktu itu kehidupan ekonomi anak negeri susah. Disamping karena efek dari sistem tanaman paksa kopi yang berakibat sawah kurang terurus dan pelaksanaan adat yang sangat royalnya. Adat di Koto Gadang ini memang terkenal sangatlah kerasnya. Barang sesuatu yang akan dikerjakan hendaklah mengisi adat dahulu, seperti dalam perkawinan, membawa turun รกnak mandi, menyunat-rasulkan anak dan adat menjenguk ketika kematian, dilaksanakan dengan sangat berlebih¬lebihan sekali. Pola hidup royal ” takut taimpik” hidup subur di tengah masyarakat. Ketika perhelatan kawin sampai menyembelih 5 ekor kerbau atau jawi, baik pihak perempuan, maupun pihak laki-laki. Semula sewaktu keadaan perekonomian baik, tidaklah menjadi masalah, karena penghasilan sehari-hari masih mampu menutupi pembiayaan mengadakan jamuan yang berlebihan. Tetapi kemudian mulailah orang menggadai, menjual harta-tua dan sawah untuk memenuhi adat-adat itu. Harta pusaka yang merupakan titipan nenek moyang dahulu mulai terusik keadaannya.
Praktek demikian berakibat banyaklah sawah-sawah anak negeri Koto Gadang yang pindah ketangan orang dari negeri lain, antara lain orang Sianok yang terkenal pula kayanya. Tentunya setiap tahun hasil padi untuk anak negeri makin berkurang juga karena orang lain itu datang menyabit dan mengirik ke Koto Gadang, kemudian membawa pulang hasilnya. Merupakan hal biasa orang menyabit dan mengirik beramai-ramai dengan bersorak sorai, tetapi mengusik perasaan orang Koto Gadang yang berperasaan halus. Dengan penuh kesabaran dan kerja keras, dia yakinkan kaum sepesukuannya dan anak negeri Koto Gadang bahwa keadaan yang sulit dan serba salah ini akan bisa di atasi asal ada kebersamaan seluruh eksponen anak negeri.
Oleh sebab itu diangsurlah oleh Yahya Datuk Kayo memelopori perbaikan dengan membuang pelaksanaan adat yang merusakkan ini. Diadakannya kerapatan dengan ninik mamak dalam negeri untuk merobah keadaan. Mula-mula dicobakan atau diperaktekkannya dilingkungan kaumnya sendiri. Kharisma selaku Tuanku Laras kalau perlu sekali-sekali ikut berbicara. Ketika berhelat kawin tidak boleh lagi membantai lebih dari seekor jawi atau kerbau. “Alat janguk” (acara adat menjenguk waktu kematian) disederhananya pula. Membawa anak turun mandi dilarangnya pula. Demikianlah ketika bersunat Rasul, berjago-jago namanya dihentikannya pula. Melakukan perobahan ini tiada mudah.
Mengapa Yahya Datuk Kayo sampai mencampuri Kerapatan Negeri sejauh itu? Pada tahun 1937, dia menjelaskan rahasianya, pertama, ”Semuanya saya usahakan dengan tidak mengingat akan kepentingan diri saya sendiri, melainkan saya teringat akan keperluan anak negeri Koto Gadang selalu. Sebab saya sebagai seorang pemimpinnya, seorang kepalanya, sebagai Kepala laras, seorang penghulu, sebagai mamak, maka kepada saya terpikul akan keselamatan dan kesentosaaan penduduk serta negeri. Jadi adalah satu kewajiban bagi saya memajukan negeri itu dan membimbing penduduknya”. Kedua, bagi Yahya Datuk Kayo bahwa adat itu yang tidak lapuk dihujan, tidak lekang dipanas, jika diartikan adat itu tetap selama-lamnya dan tidak berobah-obah, dia kurang sesuai. Pendapatnya kalau adat itu tidak berobah-obah artinya adat itu bersifat mati. “Pendapat saya adat itu bersifat hidup; tiap-tiap
yang bersifat hidup tak dapat tidak berobah-obah. Umpamanya sepohon atau sebatang jambu yang hidup, ada masanya mengadakan bunga, ada masanya mengadakan putik, buah muda dan buah masak yang mendatangkan hasil kepada dunia. Tetapi pohon jambu yang mati sifatnya tidak berobah-obah dan tidak memberi basil kepada dunia.” Itulah pandangan Yahya Datuk Kayo.

Perobahan dilakukan secara simultan terhadap aspek dasar kehidupan penduduk. Inilah ”perobahan yang demokratis” ala Datuk Kayo, yang kadang-kadang dirasakan oleh Rohana Kudus kurang demokratis. Sawahnya terpotong, pandam pekuburan nenek moyangnya terusik. Memang dia sering merantau, karenanya kurang mendapat informasi tentang kebijaksanaan dan perubahan di kampung
Guna mengantisipasi keadaan sawah yang sudah banyak tergadai jatuh ketangan orang asing, didirikannyalah bersama-sama dengan Hitam gelar Sutan Rumah Panjang pada tahun 1901 yaitu satu Perkumpulan Perusahaan Tanah. Perkumpulan ini bermaksud untuk mengumpulkan uang diantara anak negeri Koto Gadang, baik yang di rantau maupun di kampung sekalian dan dengan uang itu ditebuslah segala sawah-sawah yang telah tergadai ketangan orang asing itu. Untuk memperkuat dan menarik hati supaya anak negeri suka bersawah dia sendiri memberi contoh, turut serta pergi kesawah. Kalau tiba waktu manjaja ikut pula dia manjaja dan di waktu bersiang dia sendiri serta bekerja bersiang disawah. Pekerjaan ini bertahun-tahun dikerjakannya. Satu sifat yang mulia sekali padanya, yaitu ”tiada hendak kaya seorang dan tiada hendak pandai seorang”. Barang sesuatunya diperkongsikannya, seperti Perusahaan Tanah, Pekerjaan bertukang mas dan perak, berkebun tembakau dan lain-lain.
Demikianlah pula pada tahun 1903 dibuatnya kongsi untuk mengerjakan sawah-sawah terlantar di Ngarai, yang saluran irigasinya ketika itu telah runtuh. Bertujuh orang turut dalam kongsi ini. yaitu untuk memperbaiki saluran irigasi sawah di Ngarai itu. Sawah ini mendatangkan keuntungan besar kepada kongsi dan setelah lima tahun lamanya dikerjakan kongsi, dikembalikanlah sawah kepada pemilik masing-masing. Setelah 7 tahun pula lamanya dikerjakan oleh pemiliknya, kemudian runtuhlah lagi saluran ngarai ini dan sewaktu itu Datuk Kayo telah menjadi Tuanku Demang di Payakumbuh.

Ke Jawa dan membenahi Pendidikan

arena di nilai atasannya Westenenk berprestasi, pada tahun 1906 dia terpilih bersama Jaar Datuk Batuah Kepala Laras Tilatang, Marzuki Datuk Bandaro Panjang Kepala Laras Banuhampu dan seorang Mantri Kopi Pawiro namanya dari Kamang, untuk bersama-sama meninjau pembangunan di Pulau Jawa guna menambah dan mempertinggi kemajuan anak negeri. Banyaklah pemandangan baru yang dibawanya dari Jawa yang penting bagi kemajuan negeri.
Dari hasil kunjungan tersebut mulai dia berfikir tentang suatu hal yang strategis yaitu bidang pendidikan. Dibanding dengan yang di lihatnya di Pulau Jawa, rupanya negeri Koto Gadang masih jauh tertinggalnya. Soal inilah yang sangat diutamakan sepulang dari Jawa. Dengan bantuan Pemerintah dapatlah dia modal f 5000 dari lotere. Uang ini di pergunakannya untuk membuat rumah sekolah di Sungai Jaring, Jambak, Guguk, Koto Tuo dan Koto Gadang. Kindervereeniging Julius telah pula berdiri di Koto Gadang tahun 1906.
Atas inisatif Yahya Datuk Kayo berdirilah Studiefonds Koto Gadang tahun 1909. Program jangka pendek dari Studiefonds adalah mendapatkan guru. Mengingat karena susah ketika itu untuk mendapat guru Belanda untuk mengajarkan bahasa Belanda dikirimlah dua orang pemuda Kahar Masyhur dan Rustam, keduanya keluaran Sekolah Raja di Bukit Tinggi. Tujuannya ke Negeri Belanda, untuk mendapat diploma guru Belanda. Pemuda ini kelak diharapkan akan bekerja menyebarkan ilmu pengetahuannya di Koto Gadang. Kedua Pemuda ini belajar dengan ongkos Studiefonds Koto Gadang, mendapat asuransi dan menanda tangani kontrak.
Sebenarnya mengirim kedua pemuda ini adalah dengan risiko pribadinya sendiri. Studiefonds Koto Gadang yang baru berumur setengah tahun dan belum mempunyai uang, tetapi telah memberanikan diri pula untuk mengirim kedua pemuda ke negeri Belanda.

Gempa Padang Panjang Tahun 1926

Suatu ketika Gubernur Sumatera Barat masa itu berpendapat bahwa pekerjaan Studiefonds ini tergesa-gesa dan sia-sia saja. ”Siapa yang akan menjamin agar kedua pemuda itu tidak terlantar?” kata Gubernur. Konon ketika itu tampillah kemuka engku Datuk Kayo dengan kawan¬kawanuya yang lain bahwa kalau kedua pemuda ini terlantar hidupnya di negeri Belanda, maka Datuk Kayo lah serta kawan-kawannya akan menjamin mengembalikan pulang yaitu dengan gajinya yang akan dipotong kelak oleh pemerintah.
Pekerjaan mulia itu akhirnya dapat dorongan pemerintah juga dan anak negeri, maka ditahun 1910 berangkatlah kedua pemuda itu ke negeri Belanda bersama tuan Asisten Residen Westenenk yang sedang cuti ke sana. Karena tidak pernah di negeri dingin dan ditahun 1912 hanya seorang kembali dengan hasil jang baik membawa hulp acte yaitu Kahar Masyhur, yang seorang lagi Rustam gagal, telah pulang lebih awal karena sakit, kemudian meninggal.
Di tahun itu juga berdirilah sekolah Belanda, HIS, dibalai Cumano sekolah milik Studiefonds Koto Gadang. Sekolah ini berjalan bertahun-tahun lamanya memberi banyak pengaruh kepada negeri, tetapi perjalanannya banyak pula duka daripada sukanya. Banyak akal diikhtiarkan oleh engku Datuk Kayo untuk mempertahankan sekolah agar HIS tetap berdiri.
Dalam setiap ada kesempatan untuk membela sekolah Studieifonds itu dipergunakannya. Demikian pula sewaktu pada tahun 1927, dia terpilih menjadi anggota Volksraad wakil Minangkabau, tiada pula dibiarkannya jalan sendiri Studiefonds itu. Dengan usaha dan ikhtiarnya sekolah tersebut oleh pemerintah ditahun 1929 diberi status menjadi sekolah HIS Gubernemen. (Hollands Inlandsche School Gouvernement.)
Di sidang Volkraad dia berpidato tentang status sekolah HIS Koto Gadang yang di tahun 1929 sudah menjadi HIS Gubernement dengan susah payahnya. Sekolah itu terancamlah oleh bahaya yang hebat sekali, yaitu statusnya sekolah itu ditahun 1934 berubah menjadi Sekolah Standar karena sekolah tersebut tiada dapat memenuhi syarat yang dikehendaki pemerintah ketika itu. Berulang-ulang Datuk Kayo mendesak Pemerintah untuk mengembalikan status sekolah ini. Dia medengungkan juga sampai ke luar gedung Volksraad, sehingga banyak orang yang memberi kritik atas perbuatannnya, tetapi segala kritik orang itu tiadalah dihiraukan. Karena tiada bosan-bosannya meminta kepada pemerintah, maka permintaannya itu dikabulkan juga, sehingga sekolah yang hampir lenyap dari dunia Koto Gadang itu pada tanggal 2 Augustus 1937 diresmikan kembali menjadi sekolah HIS Gubernemen. ”Sekolah yang masih di rusuk rumah kita” kata Yahya Datuk Kayo.

Dari Tuanku Laras sampai Anggota Volksraad dan Minangkabauraad

ngku Datuk Kayo ini adalah seorang amtenar yang banyak berusaha bagi negeri dan usahanya itu dihargakan pula oleh Pamerintah dengan memberinya pula bintang perak dan bintang mas. Ditahun 1913 menjelang pangkat Laras ditiadakan oleh Pemerintah dan dia diangkat juga merangkap Kepala Laras Banuhampu (wilayahnya meliputi bekas kelarasan Kurai dan Banuhampu) kemudian menjadi Demang Bukittinggi (1914-1915) dengan berkedudukan di Bukittinggi. Pada tahun itu juga, oleh karena kecakapan dan keberhasilannya dia diberi Pemerintah semacam hadiah sejumlah f 600. Kalau Kepala Laras relatif lama memerintah di suatu tempat, lain pula halnya Demang. Di tahun 1915 dia dipindah menjadi Demang Payakumbuh ( 1915- 1919).
Yahya Datuk Kayo menulis mengapa dia minta pindah ke Payakumbuh7.
”Bulan September 1915 saya dipindah ke Payakumbuh karena tuan Asisten Residen James sudah menulis dalam rapor bahwa saya terlampau lunak memerintah, tidak suka menghukum orang dan jalan¬jalan dalam Distrik saya tidak sebagus dalam Distrik Tilatang. Begitu juga saya slordig dalam surat-surat yang berharga. Ini dibicarakan oleh Tuan Besar Ballot di muka Tuan Besar Lafebre dan tuan James. Memang saya tidak bisa cocok dengan gayanya tuan James memerintah karena tuan James pendorong apa maunya mesti jadi, tidak mengingat

kesusahanan orang kecil. Misalnya ada dalam ingatan tuan James oleh karena acap kali kebakaran soalnya bermula dari dapur, maka tuan James memerintahkan supaya segala dapur-dapur dibuka dan diganti dengan beton, atap rumah yang buruk diganti dengan seng, ini perintah mesti di jalankan tidak saja dikota melainkan juga dikampung. Kampung mesti bersih kalau tidak bersih orang-orang lantas dihukum dan lain-lain. Acap kali perintah serupa ini saya jawab dan beri keterangan tetapi kebanyakan manusia berfikir kalau keterangan dari bawahan salah. Oleh karena itu saya sembahkan kepada Tuan Besar kalau tuan James tidak suka bekerja sama dengan saya biarlah saya dipindahkan”.
Kemudian setelah beberapa tahun menjadi Demang Padang Panjang (1919-1927) dan terakhir diangkat menjadi Demang di Air Bangis 1927 (turun kelas?). Pada tahun 1927 terpilihlah dia menjadi wakil Minangkabau di Volksraad periode 1927-1931.
Ditahun 1931 setelah berdinas selama 36 tahun maka dia mendapat pensiun yaitu pensiunan Demang, lalu menetaplah dia di Bogor menyekolahkan anak-anaknya.
Pensiun jadi amtenar tidak membuat dia bisa istirahat saja. Pada tahun 1935 terpilih pulalah dia untuk duduk kedua kalinya sebagai anggota volksraad sebagai wakil Minangkabau periode 1935-1939.
Pada bulan Juli 1939 Minangkabauraad mulai bersidang. Terpilihlah mewakili Oud Agam di Minangkabauraad, adalah Jahja gelar Datuk Kajo, gepensioneerd Districtshoofd, lid Volksraad dan Marahasan gelar Datuk Batuah, Onderdistrictshoofd van Sarik Bukit Tinggi. Minangkabauraad itu terdiri dari 49 anggota. Dari djumlah ini 9 orang penduduk bangsa Belanda, 38 orang anak negeri dan 2 orang penduduk bangsa asing yang bukan Belanda.
Mendapat Anugerah Balai Adat.
Dari riwayat yang pendek itu dapatlah kita, menarik kesimpulan, bahwa jasa Yahya Datuk Kayo bukan sedikit untuk negeri dan penduduknya. Ekonomi tiang penghidupan dimajukannya, kesehatan yang utama untuk hidup dalam dunia ini diperbaikinya, demikian juga perguruan, onderwijs untuk menambah pengetahuan dan meringankan perjuangan hidup untuk anak negeri diusahakannya. Jadi nama Datuk Kayo dengan kemajuan, keselamatan, kasentosaan negeri dan isinya tiadalah bercerai setapak juga ” kata Dr Gulam.
Gempa Padang Panjang 1926 telah meluluhlantakkan derah sekitar Gunung Merapi Singgalang. Banyak bangunan ambruk. Mesjid Jamik Koto Gadang juga jadi korban, Rumah gadang keluarga Rohana Kudus juga dan lain-lainnya. Dengan pimpinan dan usahanya dibangun kembali mesjid Jamik dalam negeri yang diruntuhkan gempa di tahun itu, sehingga mesjid dengan biaya ribuan rupiah itu terbangun kembali dan lebih bagus.
Dr Gulam tahun 1937 atas nama anak negeri berkata ”Beruntung benarlah negeri Koto Gadang mempunyai putera yang serupa ini. Tidak hanya dia menjadi Lieder dalam segala hal, malahan bersedia membantu segala sesuatu dengan budi dan uang. Dianya pembawa obor, suluh yang benderang dalam negeri. Sifat-sifat yang mulia ada padanya, suka

menolong dan membantu orang, penyayang kepada yang berkekurangan. Dia bercita-cita supaya sekalian penduduk negeri Koto Gadang sama-sama pandai dan sama-sama kaya supaya negeri boleh sejahtera.” Nada serupa disampaikan juga oleh Datuk Besar pada sambutan Hari Raya Idul Fitri di Betawi 1933.
Oleh karena sifat-sifat tersebut penduduk negeri sama-sama memuliakan dan menyegani beliau. Ketika negeri berulang-ulang melihat dan mengecap budi baik yang telah ditanamnya kepada negeri dan penduduk, maka seia-sekatalah negeri untuk menghargai jasa Yahya Datuk Kayo.
Dan pekerjaan ini mendapat tunjangan dan sokongan yang penuh dari anak negeri pada umumnya, baik yang di rantau dan di kampung, sehingga pekerjaan Komite menjadi mudah dan dapat dikerjakan dengan segera. Hanya amat sulit sekali, bagaimana cara dan bentuk menunjukkan rasa terima kasih akan jasa-jasa engku Datuk Kayo itu, oleh karena segala jasa yang telah terlimpah ke negeri itu tiada ternilai dengan uang dan benda.
Mengingat beliau ini selalu berusaha memperkuat dan memporkokoh adat lama pusako usang dengan membawakannya menurut zaman dan masa sehingga tiadalah yang sebaik-baiknya pemberian dari negeri kepadanya dalam bentuk menghadiahkan Balai Adat. Karena selagi adat Miuangkabau diperkalang dalam negeri dan setiap kali mengadakan rapat di atas balai ini kelak, tentu akan teringat juga oleh negeri akan jasa putranya yang telah banyak menanam budi baik untuk kepentingan bersama. Untuk menghargai dan memuliakan putra negeri yang berjasa tersebut, dipasanglah batu yang bertulis di atas marmer. Peletakan batu pertama dilakukan 5 Desember 1937.

Pidato Yahya Datuk Kayo menerima anugerah.

Komite Pembangunan Balai Adat ini dipimpin oleh Dr Gulam dengan anggota Yasin dan Balan Abdul Muzeir. Pada tanggal 12 November 1939, diresmikanlah pemakaian Balai Adat Negeri Koto Gadang dengan memakan biaya f 2000 an. Menyambut penyerahan Balai Adat untuk dirinya berkata Yahya Datuk Kayo ”Sekarang saya terimalah pemberian anak negeri Koto Gedang yang maha besar dan mulia ini … Sekarang pemberian dan hadiah negeri itu tiadalah akan saya lulur (= telan) seorang saja, melainkan di hari ini juga, saya serahkan hadiah balairung sari ini kepada ninik mamak penghulu nan 24 dengan harapan dan doa saya supaya balai adat ini akan dipergunakan untuk mencari keselamatan dan kemajuan negeri. Jadi dari saat ini balairung ini menjadi hak milik negerilah seterusnya ….”. Itulah ucapan Yahya Datuk Kayo dalam skenario yang mengharukan anak negeri Koto Gadang. Amatlah sayang kalau kita tidak membaca saduran selengkapnya sambutan Yahya Datuk Kayo tersebut. Komiteleden dari Balai Adat Koto Gedang Engku ninik mamak penghulu Nan 24 dan Putera-putera Koto Gadang yang hadir!
Sesungguhnya sangatlah besar sekali hati saya pada hari ini. Pertama sekali karena kita orang muslimin, di hari yang semulia-mulianya bagi kita dihadapan Allah. Kedua karena pada hari ini saya dianugerahi pemberian yang sangat besar artinya. Nama saya terukir pada batu marmer dan diletakkan pada gerbang balai adat. Balai adat didirikan untuk memperingati segala pengalaman dan jasa saya di hari yang lewat terhadap negari Koto Gadang serta penduduknya.

Ini adalah sebesar-besar kemuliaan sanjungan bagi saya. Komite telah berusaha menjalankan keputusan yang diambil, setelah melihat menyelidiki dengan seksama akan buah tangan, atau hasil pekerjaan yang saya usahakan dimasa lampau.
Sesunguhnya segala usaha atas pekerjaan itu tiadalah melebihi dari kekuatan saya yang ada. Semuanya saya usahakan dengan tidak mengingat akan kepentingan diri saya sendiri, melainkan saya teringat selalu akan keperluan anak negeri Koto Gadang. Sebab saya sebagai seorang kepalanya (leider): sebagai Kepala Laras, seorang penghulu, sebagai mamak, maka kepada saya tertanggung keselamatan dan kesentosaaan penduduk serta negeri. Jadi adalah satu kewajiban bagi saya memajukan negeri dan membimbing penduduknya.
Seperti di bahagian pertanian, bersawah, berkebun, berladang saya usahakan dan turun sendiri kesawah guna memberikan penerangan bagaimana cara bersawah itu yang baik. Kalau perekonomian anak negeri baik tentu anak negeri akan memiliki kesenangan hidup. Begitu pula dengan soal pendidikan. Saya dirikan sedapatnya rumah rumah sekolah, supaya kita sekalian dapat mengecap buah pendidian yang amat lezat itu.
Saya bercita-cita lain benar dari orang banyak. Saya mau kalau dapat isi negeri kita ini semuanya berbahagia. Kalau kaya hendaknya sama¬sama kaya begitu pula didalam ilmu pengetahuan, kalau boieh sama¬sama pandai dan pintar. Itulah sebab yang pertama maka saya keras dan mau betul mendirikan sekolah di negeri kita ini yang semata-mata teruntuk bagi anak kamanakan kita sendiri. Betul banyak sekolah dekat kampung kita, seperti di Bukittinggi dan dilain tempat, Tetapi kalau azas keadilan di pakai orang ketika menerima murid, barang tentu sama¬sama banyaknya atau procentnya, sebab semuanya berhak pula untuk masuk, bukan? Lihatlah contoh yang mudah saja, kalau di onderafdeeling Oud Agam ada 50 buah negeri, semua penduduk meminta masuk sekolah, kalau bilangan murid yang akan diterima 100 orang, secara adilnya tentu hanya dua orang setiap negeri diambil. Tetapi kalau sekolah itu sudah di kampung kita tentu anak kemenakan kita yang akan diterima masuk lebih dahulu. Ini tentu satu kemenangan kepada kita. Saya percaya pula bahwa sekolah di negeri kita ini dapat hidup subur, asal anak negeri kita kaya miskin mau menyekolahkan anaknya
Boleh dikatakan bahwa dalam negeri kita tak ada lagi yang buta huruf, walaupun undang-undang wajib belajar (leerplichtwet) belum kita kenal. Carilah dimana seorang ibu yang menyekolahkan anaknya dengan mata penjahitan? Hanya di Koto Gadanglah hal ini terdapat. Demikian benarlah suka dan gemarnya kita akan sekolah. Kini sekolah sudah ada di negeri kita, maka kepada kitalah, kepada negeri, kepada ninik mamak terserah penjagaan sekolah ini selanjutnya. Kita semua bertanggung jawab akan maju mundurnya sekolah ini. Kita harus memperhatikan sebab sekolah ini adalah mustika kemala negeri, sumbernya ilmu pengetahuan dunia. Betul ada guru yang menjaga anak-anak itu diwaktu sekolah. Kita mesti pula turut membantu di luar sekolah sebab anak itu lebih panjang dalam penjagaan dan pengawasan kita sehari-hari. Kalau kita sama-sama mengerjakannya, maka barang tentu lebih besar lagi hasilnya untuk sekolah dan untuk kita. Inipun akan menambah harumnya nama seolah dan negeri juga.
Akan pidato dokter Gulam, bahwa saya senantiasa bergiat hendak berbuat baik didalam negeri ini, segalanya hendak saya usahakan dan perbaiki. Saya hendak menyamakan negeri ini dalam arti yang baik dengan kota-kota besar dan indah.
Gagasan berwaterleiding (ber air minum) saya lahirkan untuk memperbaiki aspek kesehatan umum. Sebetulnya dari dahulu memang sudah ada gagasan dan ikhtiar hendak mengalirkan air dengan pembuluh dari betung atau besi, tetapi tidak berhasil, sebab itu maka saya anjurkan agar membuat yang baik benar dengan dana yang besar. Oleh karena saya insyaf bahwa soal air minum ini penting bagi keselamatan hidup sehingga sampailah kita kepada maksud itu. Setelah gagasan dilaksamakan mulai dari tahun 1918, baru ditahun 1932 kita mendapatkan hasilnya.
Dalam hal ini saya menasehatkan, karena waterleiding itu didapat dengan begitu susah payah, hendaknya bersama-samalah menjaganya, agar tahan lama. Oleh sebab itu yang marilah kita serahkan seterusya mengurus kepada yang ahlinya. Dikalangan kita sendiri sudah cukup banyak orang yang mempunyai keahlian, seperti kalau sakit ada dokter kita dan kalau akan sekolah ada pula kaum pendidik kita demikian pula untuk waterleiding ada pula ahli teknik (opzichter) kita dan kepadanyalah kita serahkan urusan air itu.
Negeri Koto Gadang ini amat subur bagi segala ide baru, begitu pula dengan pemikir dan pekerja. Sebab itu barang sesuatu yang dibawa ke sini baik cangkokan sekalipun, akan dapat hidup, asalkan barang yang elok, mulia dan sehat. Sangatlah mudah meresapnya pada pikiran orang kita, sebab orang kita pandai berpikir dan tahu pada yang elok bagi negeri. Lihatlah berapa macam perkumpulan yang pernah ada di negeri kita ini, rasanya tidak kurang dari negeri orang, baik bagian pendidikannya, baik bagian agamanya, baik bagian ekonominya yang akan memajukan mata pencaharian dan kenikmatan anak negeri. Semuanya itu berdasar kekuatan sendiri yaitu seperti modal dan dana diperoleh dari saku-saku anak kamanakan kita sendiri. Dan pekerjaan ini hidup dengan suburnya sampai ada diantara perkumpulan¬perkumpulan itu berusia berpuluh tahun. Itu menyatakan bahwa perkumpulan itu bermanfaat dan berfaedah bagi negeri .

Lihatlah perkumpulan yang tidak lurus jalannya, hanya setahun umurnya dan ini memberi kesan kepada kita bahwa yang berbahaya dan busuk itu tidak dapat berkembangbiak di Koto Gadang. Begitu juga orang yg tidak lurus hatinya terhadap negeri, tidaklah akan berbahagia dan tidak beruntung dalam hidupnya. Apapun yang diusahakannya untuk mendapat perhatian anak negeri tidak akan mendapat tempat di hati anak negeri.
Oleh sebab itu tiada bosan-bosannya saya menasehatkan kapada penduduk Koto Gadang, dari yang kecil, tua muda, hendaklah berbuat baik tarhadap negeri supaya hati kita mulia dan ternama. Kalau tabungan kita sudah berbuah mas, penduduknya sudah turut bertuah dan mulia, orang berkeliling pemandangannya bertambah pada negeri kita. Jadi segala usaha dapat sokongan dan berhasil. Di situlah datangnya nama itu yaitu tuah kalau sepakat, celaka kalau bersilang. Lebih jauh, bahwa kita di Koto Gadang boleh dikatakan saling berkarib. Sekalian kita jika saling menolong atau memajukan negeri, berarti kita menolong dunsanak kita juga.
Marilah kita berdoa kepada Allah mudah-mudahan mulai saat ini kedepan, dapatlah kita bersama-sama membuat kebaikan untuk negeri dan janganlah memikirkan diri sendiri saja, kalau kita ada berkeadaan baik dalam kepandaian atau pengetahuan, hendaklah pengetahuan dan kepandaian itu kita pergunakan juga buat sesama manusia terutama bagi negeri Koto Gadang. Inilah cita-cita yang di kehendaki Islam dan adat Mnangkabau.
Kini saya kembalikan pembicaraan kepada dokter Gulam dan kawan-kawan dalam Komite Balai Adat.
Dokter Gulam tadi menyerahkan kepada saya balai ini yang diperbuat dan didirikan oleh anak negeri Koto Gadang, yang di rantau atau di kampung karena semuaya turut memikul beban yaitu menurut keadaannya mana yang gadang kayu gadang dahannya dan ketek kayu ketek dahannya, Maka segala pemberian itu telah ada dan bertampan dan sudah kita saksikan sekaliannya di sini. Seperti saya sebutkan tadi sungguh girang dan hangat sekali hati saya dapat dan menerima hadiah yang indah dan rancak ini yang terletak di tengah negeri. Didirikan untuk memperingati jasa-jasa saya dalam Studiefonds, Waterleiding, serta negeri Koto Gadang.
Kini saya ulang juga sekali lagi bahwa segala-segalanya itu saya kerjakan bermula sekali-sekali tidak hendak dapat tuah, hanya hendak berbakti dan berbuat baik kepada sesama kita senegeri, karena kemuliaan negeri itu adalah kemulian diri saya dan kalau seseorang
Koto Gadang beruntung dan mulia, maka besar hati saya, karena bertambah pula tuah dan semarak kampung kita.
Dokter Gulam, sekarang saya terima pemberian anak negeri Koto Gadang yang maha besar dan mulia ini dan yang telah menghargakan dan mengenang akan segala jasa-jasa saya dengan mendirikan Balai Adat ini saya ucapkan banyak terima kasih. Begitu juga kepada anggota Komite dari Balai adat yang telah mengusahakan dan menguruskan pekerjaan ini tidak kurang pulalah terima kasih saya. Bagaimana susahnya pekerjaan engku-engku Komite, terbayanglah pada saya, sebab selain dari bantuan yang membesarkan hati tidak kurang pula ejekkan dan kritik yang didengar dan diperoleh, tetapi itu janganlah engku-engku indahkan karena makin susah dan payah mendapat kemenangan itu, tentu makin manis pula hasilnya.
Engku-engku Dr. Gulam, Yasin dan Balan Abdul Muzeir, telah memenuhi keputusan negeri. Demikianlah nama yang bertiga telah lekat pada Balai Adat ini, sebab selagi balai adat ini berdiri dan terpakai, namanya akan terus diingat dan dikenang oleh orang banyak dan negeri, sebab balai ini adalah sebuah hasil usaha dimasa sedang berada dan bertugas di Koto Gadang. Engku bertiga telah melahirkan niat saya selama ini, supaya pemuda Koto Gadang yang bersekolah akan memberikan tenaganya untuk kebaikan tempat tumpah darahnya, Usaha ini saya hargakan benar dan saya ucapkan terima kasih.

Sekarang karena dr. Gulam akan pindah meninggalkan Koto Gadang pula, maka kalau sampai ditempat engku yang baru bolehlah dibanggakan kepada orang-orang kita disana nanti bahwa selama engku di kampung ada berpartisipasi bekerja ikut memperindah dan memperbaiki negeri, Ajak pulalah kawan-kawan engku nanti akan bekerja sedemikian. Sesungguhnya kepindahan engku ini mencanggungkan kami juga, oleh sebab itu kami doakan sajalah, mudah-mudahan lekas engku balik kembali ke Minangkabau ini, kalau boleh ke Bukittinggi juga hendaknya supaya negeri dapat lagi memakai tenaga engku seterusnya. Besar sekali hati saya melihat para pemuda¬pemuda Koto Gadang sekarang sudah suka bekerja mencari kebaikan untuk negeri. Dan dengan hal yang demi kian saya berkeyakinan bahasa kemajuan negeri akan bertambah-tambah.
Sekarang saya tujukan pembicaraan. saya kepada ninik mamak penghulu nan 24, imam khatib serta tuanku, yang dua tiga yang hadir dalam acara ini.
Saya mengucapkan syukur kepada Illahi, karena Tuhan telah menurunkan rahmatnya kepada kita sekalian. Hari ini saya telah memperoleh pemberian anak kemenakan, baik yang di rantau dan yang di Koto Gadang. Persembahan mana tidak ternilailah harganya bagi saya, indah sekali. Pemberian ini tidak termiliki oleh saya seorang karena besarnya bagi saya dan bagi kita bersama. Rasanya tiadalah akan terjagai oleh saya, tambahan pula di hari yang berbahagia ini saya bekerja tidaklah seorang saja, melainkan bersama-sama dengan ninik¬mamak dalam negeri, sekaliannya tolong menolong membantu usaha saya sehingga berhasil dan berbuah dapat dilihat dengan mata.
Kalau boleh dipinjam dengan kata ibarat, kini makanan yang selezat ini tidak termakan oleh saya seorang. Ibarat bidal kita, hati gajah sama dilacah dan hati tungau sama dicacah. Inilah berupa pemberian anak kemenakan kepada saya sebuah Balai Adat yang bertingkat dua.
Tingkat yang di bawah adalah untuk tempat anak muda-muda bermusyawarah kalau-kalau ada perasaannya dapat dibulatkannya dan kemudian jika sesuai akan disampaikan kepada ninik mamak yang bertempat di tingkat atas . Jadi nampak anak kemenakannya mendapat dorongan mamaknya. Tingkat nan di atas adalah tempat ninik mamak berapat dan bermufakat mencari kata yang benar untuk kemajuan negeri serta penduduknya.




Sekarang pemberian dan hadiah negeri itu tiadalah akan saya makan seorang saja, melainkan di hari ini juga, saya serahkan kembali hadiah balairung sari ini kepada ninik mamak penghulu nan 24 dengan harapan dan doa saya supaya Balai Adat ini akan dipergunakan mencari keselamatan dan kemajuan negeri. Jadi dari saat ini balairung ini menjadi hak milik negerilah seterusnya.
Koto Gadang; Azizah Etek, Mursjid A.M, Arfan B.
for more photo click here
VN:F [1.9.2_1090]



sumber : http://rangminang.web.id
Album @94 SMA PAPA

Alumni SMAN @ 94 Padang Panjang

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...