Share


Jakarta Buah-buah mungil warna kuning yang cerah dan segar menjadi pemandangan yang menghiasi lobi butik-butik, pertokoan dan mall-mall sepanjang Orchard Road, Singapura. Buah-buah itu tidak sedang dijual. Buah-buah itu masih menempel di pohonnya, yang juga mungil, yang ditanam dalam pot. Itulah jeruk kim kit atau dikenal sebagai jeruk imlek.

Begitulah salah satu cara masyarakat Singapura, yang 80% terdiri atas orang keturunan Tionghoa itu, menyambut datangnya tahun baru Cina atau hari raya Imlek. Di Jakarta barangkali pemandangan semacam itu belum begitu lazim. Namun, bukan berarti tidak ada. Setidaknya, kalau tidak menghiasi rumah-rumah keluarga yang merayakan Imlek, jeruk kim kit hadir sebagai hidangan.

"Buah jeruk di hari tahun baru Imlek memiliki makna kesejahteraan," ujar Eugene Kwan, seorang desainer interior dan fotografer keturunan Cina yang tinggal di Tangerang. Menurut dia, biasanya keluarga peranakan Cina berkumpul untuk makan malam bersama pada malam tahun baru Imlek, yang tahun ini jatuh pada Kamis (3/2/2011).

Menu makan bersama berbeda tiap keluarga. "Kalau di keluargaku selalu ada masakan bebek. Tapi, orang peranakan Cina di Tangerang biasa menyiapkan menu ikan bandeng untuk santap bersama. Makin besar ikannya makin bagus," paparnya.

Sebagai generasi yang lebih muda, Eugene barangkali kesulitan jika diminta menceritakan mengenai sejarah perayaan Imlek. Namun, ia melihat betapa banyak simbol-simbol dalam perayaan Imlek yang memiliki nilai seni yang menarik. "Misalnya, kalau ada kue keranjang, biasanya akan disusun mengerucut dari yang paling besar ke paling kecil di puncaknya," ujarnya.

"Jeruk bali yang bertuliskan ucapan dalam tulisan mandarin terlihat sangat menarik. Dan, kalau di vihara Tangerang itu ada lampion-lampion yang bertuliskan nama orang, pernah masuk rekor MURI," kenangnya.

Jeruk kim kit, masakan khas, kue keranjang adalah hal-hal yang selalu hadir dalam setiap perayaan Imlek. "Manisan kering juga menjadi penganan yang ada di setiap rumah," tambah Eugene. Perayaan Imlek berlangsung selama 15 hari, dan pada hari ke-15 itu disebut cap go meh, yang identik dengan kehadiran lontong.

Berbeda dengan Imlek yang dirayakan bersama keluarga, Cap Go Meh dirayakan beramai-ramai misalnya dengan arak-arakan dan berbagai atraksi
kesenian tradisional Cina. Hal ini melengkapi "seni imlek" dari instalasi jeruk kim kit di butik mewah Armani hingga pertunjukan Baronsai di mall. Dan, masih ada satu lagi, seni ritual.

"Pulang dari berdoa di vihara tengah malam, biasanya mampir ke pasar beli aneka kembang. Bukan cuma untuk hiasan, tapi kembang itu juga dipakai buat mandi," jelas Eugene.

Gong Xi Fat Chai!

(mmu/hkm)

sumber :  http://www.detikhot.com/
Label: | edit post
0 Responses
Album @94 SMA PAPA
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...